SERI KATEKESE MISTAGOGIS · PERTEMUAN VIII
Bersama Maria Bunda Gereja
Hidup dalam Roh, Diutus ke Dunia
— ✣ —
HARI RAYA PENTAKOSTA · AKHIR MASA PASKAH
|
BACAAN KITAB SUCI HARI RAYA PENTAKOSTA Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus. — Kisah Para Rasul 2:1-4 |
Pengantar
Hari ini, perjalanan tujuh minggu kita mencapai puncaknya. Sebab Pentakosta adalah hari kepenuhan Paskah. Lima puluh hari setelah Kebangkitan, Roh Kudus dicurahkan atas para murid yang berkumpul bersama Maria di Senakel.
Tetapi episode ini bukan sekadar penutup seri. Episode ini justru adalah awal — sebab seluruh seri ini, sebagaimana seluruh hidup kristiani, mengarah pada satu hal: pengutusan.
Kata “Misa” sendiri berasal dari kata Latin missio, perutusan. Episode terakhir ini mengantar kita kembali ke titik berangkat seluruh hidup kristiani: dari bejana baptis tempat air membasuh dan melahirkan kembali — kepada api Roh Kudus yang menyalakan Gereja dan mengutusnya ke seluruh dunia.
|
Dari air ke api. |
I — APA YANG KRISTUS LAKUKAN
Pentakosta — Kepenuhan Paskah
Selama tujuh minggu terakhir, kita telah berjalan bersama melalui misteri-misteri Paskah. Kita telah melihat Kristus yang Bangkit memasuki ruangan yang terkunci, berjalan bersama murid-murid di Emaus, mendengarkan panggilan dari Sang Gembala yang Baik, membangun kita sebagai batu hidup, belajar saling mengasihi melalui Roh Kudus-Nya, dan bersatu sebagai satu Tubuh Kristus bersama Maria. Hari ini, semua itu mencapai puncaknya.
Pada hari Pentakosta, lima puluh hari setelah Paskah, para murid berkumpul di Ruangan Atas, ruangan yang sama tempat mereka bersembunyi karena takut setelah penyaliban. Tetapi kali ini mereka tidak bersembunyi. Mereka menunggu — menunggu janji yang telah diberikan oleh Yesus.
Kisah Para Rasul mencatat bahwa “Mereka semua bertekun dalam doa, bersama Maria, ibu Yesus” (Kis 1:14). Inilah gambar pertama Gereja: berkumpul di sekitar Maria, dalam doa, menanti Roh Kudus (bdk. Lumen Gentium 59). Dari Hari Raya Kenaikan Tuhan sampai Pentakosta, kita mendoakan novena Roh Kudus. Dan novena pertama dalam sejarah Gereja itu dilakukan oleh para Rasul bersama Maria. Itulah sebabnya hari Senin sesudah Pentakosta, Gereja secara khusus merayakan “Maria Bunda Gereja.”
Pentakosta bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Inilah momen di mana Allah menulis Hukum-Nya bukan pada batu, melainkan pada hati manusia. Pentakosta juga adalah pembalikan Babel: di Babel, manusia mencoba meninggikan diri sampai ke surga dengan kekuatan sendiri, dan hasilnya adalah perpecahan. Pada saat Pentakosta, surga sendiri yang turun, dan hasilnya adalah kesatuan dalam keragaman: bangsa-bangsa yang berbeda saling memahami karena Roh yang satu berbicara melalui mereka.
Dan pentinglah disadari bahwa Pentakosta bukanlah perayaan nostalgia. Pentakosta adalah kenyataan yang sedang berlangsung dalam hidup kita. Roh Kudus yang sama yang menaungi Maria di Nazaret dan turun atas para Rasul, telah dicurahkan ke dalam diri kita — pertama kali dalam Pembaptisan, lalu secara penuh dalam Sakramen Penguatan, dan secara berulang setiap kali kita menyambut Ekaristi.
Roh Kudus tidak menambahkan sesuatu yang asing pada hidup kita. Ia menyalakan apa yang sudah kita terima. Ia membentuk kita menjadi murid misioner: bukan murid yang sekadar belajar, tetapi murid yang diutus untuk mewarta.
II — TANDA DALAM MISA
Tiga Tanda Hidup dalam Roh
Mari kita lihat tiga tanda dalam Perayaan Ekaristi yang secara khusus menyingkapkan hidup dalam Roh.
|
Tanda Pertama: Syahadat — Pernyataan Iman Pernahkah kita menyadari bahwa kata “Aku percaya” yang kita ucapkan dalam Syahadat sesungguhnya adalah kata-kata yang sama yang diucapkan calon baptis sebelum menerima pembaptisan? Tiga kali ia ditanya, tiga kali ia menjawab “Aku percaya,” dan tiga kali ia diguyur dengan air baptis. Setiap Syahadat Hari Minggu sejatinya adalah pengulangan janji baptis itu. Tetapi mengapa Syahadat berkaitan secara khusus dengan Pentakosta? Karena kita tidak bisa mengucapkan “Aku percaya” tanpa Roh Kudus. Rasul Paulus menulis dengan tegas: “Tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Setiap kali kita mengucapkan Syahadat, Roh Pentakosta yang sama sedang berbicara melalui bibir kita. Dan di sini kita bertemu lagi dengan Maria. Maria adalah orang pertama yang mengucapkan “Aku percaya” terhadap Sabda Allah yang menjadi daging: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Para Bapa Gereja mengatakan: Maria mengandung Kristus dalam imannya sebelum mengandung-Nya dalam rahimnya. Setiap kali kita mengucapkan Syahadat, kita sedang ikut dalam paduan suara ilahi yang dipimpin oleh Maria, sang Bunda Iman. |
|
Tanda Kedua: Doa Sesudah Komuni Setelah saat hening sesudah Komuni, imam mengundang umat: “Marilah berdoa,” lalu ia merentangkan tangan dan mengucapkan Doa Sesudah Komuni. Dalam doa ini, imam memohon agar misteri yang sudah dirayakan itu “menghasilkan buah” (bdk. PUMR 89). Dengan demikian, Komuni bukanlah tujuan akhir. Komuni adalah benih yang ditanam, dan benih harus berbuah. Doa Sesudah Komuni adalah doa Gereja agar Roh Kudus, yang mengubah roti menjadi Tubuh Kristus, juga mengubah orang-orang yang menyambut Tubuh itu menjadi serupa dengan Kristus. Inilah kerja Roh dalam hidup kita sehari-hari: tidak spektakuler, tetapi terus-menerus; tidak dramatis, tetapi membentuk. |
|
Tanda Ketiga: Berkat Penutup dan Pengutusan Meriah Pada Hari Raya Pentakosta, Gereja secara khusus dapat menggunakan berkat meriah, yaitu bentuk berkat yang lebih panjang dan kaya, di mana imam memohon kepada Bapa untuk mengirim Roh-Nya yang telah turun atas para Rasul, agar Dia juga turun atas umat yang hadir. Berkat ini bukan sekadar formalitas penutup; ini adalah Pentakosta yang diperbarui untuk kita secara pribadi, di sini, hari ini. Berkat diikuti dengan pengutusan. Tahukah kita bahwa kata “Misa” sendiri berasal dari kata Latin missio, perutusan? Kata ini diambil dari rumus pengutusan “Ite, missa est,” yang secara harafiah berarti “Pergilah, perutusan telah dimulai.” Dengan demikian, Misa diberi nama bukan dari pembukaannya, tetapi dari pengutusannya. Pengutusan inilah yang terjadi pada Maria setelah Pemberitaan Malaikat: ia segera “berangkat” pergi ke pegunungan, ke sebuah kota di Yehuda (Luk 1:39) untuk mengunjungi Elisabet. Maria yang menerima Sabda langsung menjadi misionaris pertama: ia membawa Kristus yang baru dikandung dalam rahimnya kepada orang lain. Demikian pula kita: setelah menerima Kristus dalam Komuni, kita diutus. |
III — APA YANG BERUBAH MULAI SEKARANG
Dua Ajakan untuk Hidup Seterusnya
Dengan episode ini, seri katekese mistagogis kita berakhir. Tetapi mistagogi sendiri tidak pernah berakhir. Ini adalah perjalanan seumur hidup. Apa yang Roh Kudus mulai dalam diri kita saat Pembaptisan, tidak akan selesai sampai kita berdiri di hadapan-Nya muka dengan muka bersama para kudus.
|
I — Kenali satu karisma dan gunakan untuk kebaikan bersama. Karisma tidak selalu luar biasa atau spektakuler. Karisma bisa berupa kemampuan mendengarkan dengan sabar, talenta mengajar anak-anak, kepekaan terhadap mereka yang menderita, atau kemurahan hati dalam berbagi. Apa pun itu, Roh Kudus memberikannya bukan untuk kita simpan sendiri, melainkan untuk kita bagikan. Dan Maria, Bunda Gereja, mendoakan kita. |
|
II — Teruslah mendalami misteri-misteri yang telah dirayakan. Bacalah Kitab Suci dengan hati yang terbuka. Hidupilah sakramen-sakramen dengan rajin, terutama Sakramen Ekaristi. Dan ingatlah selalu: kita telah dibaptis, kita telah dikuatkan, kita telah diberi makan dengan Tubuh Kristus. Kita adalah orang yang telah menerima misteri-misteri itu. Sekarang, hidupilah. |
|
Hari Pentakosta tidak pernah betul-betul berakhir. |
PERTANYAAN UNTUK REFLEKSI ATAU SHARING KELOMPOK1. Setelah tujuh minggu perjalanan mistagogis ini, apa yang paling berubah dalam cara saya memandang dan mengikuti Misa? Adakah satu momen liturgi yang sekarang saya hayati dengan kedalaman yang baru? 2. Karisma apa yang saya rasa telah diberikan Roh Kudus kepada saya — yang mungkin selama ini saya tahan, kecilkan, atau anggap “tidak berguna”? Bagaimana saya dapat mulai memberikannya untuk kebaikan komunitas? 3. “Pergilah, perutusan telah dimulai.” Ke mana, kepada siapa, atau dalam hal apa Tuhan mengutus saya secara konkret memasuki Masa Biasa setelah Masa Paskah ini berakhir? |
PERTEMUAN MISTAGOGI · HARI RAYA PENTAKOSTA |
N 08 — Penutup |
|
|||||
|
|
Hidup dalam Roh: Misa Pengutusan Pentakosta
|
||||||
✦ MISA PENGUTUSAN PENTAKOSTABukan Perpisahan, melainkan Pengutusan Misa Hari Raya Pentakosta merupakan puncak masa mistagogi. Tata perayaannya sebaiknya dirancang dengan elemen-elemen berikut: ◆ Pengantar liturgis menyebut bahwa hari ini menutup masa mistagogi dan mengutus para neofit sebagai anggota penuh paroki. ◆ Pembaruan janji baptis oleh seluruh umat, dengan para neofit di bangku depan. ◆ Ritus pengutusan khusus: setelah Doa Sesudah Komuni, neofit dipanggil ke depan satu per satu dengan nama. Imam memberikan berkat khusus dan, jika memungkinkan, surat baptis. ◆ Berkat meriah Pentakosta: imam menggunakan bentuk berkat panjang yang memohon turunnya Roh Kudus atas seluruh umat. ◆ Pengutusan akhir dengan rumus khusus: “Pergilah, perutusan telah dimulai. Hidupilah Roh Kudus yang telah kamu terima.” Setelah Misa, ramah-tamah singkat dengan foto bersama menjadi tanda kasih dan persaudaraan yang akan terus berlanjut. |
✦ Untuk Pendamping Neofit dan Tim KatekumenatEpisode penutup ini sangat penting karena banyak paroki, setelah Pentakosta, secara praktis “menutup” pendampingan terhadap neofit — padahal justru dari sinilah perjalanan iman seumur hidup baru dimulai. Pertemuan pada Hari Raya Pentakosta sebaiknya bukan acara perpisahan, melainkan acara pengutusan. Beberapa usulan konkret untuk pertemuan terakhir bersama neofit: ◆ Mengingat kembali tujuh minggu yang telah berlalu. Putarkan klip pendek dari masing-masing dari enam episode sebelumnya. Ajaklah peserta berbagi: “Episode mana yang paling berbicara kepada saya, dan mengapa?” ◆ Latihan mengenali karisma. Berikan kepada setiap neofit secarik kertas dan minta mereka menuliskan satu hal yang menurut mereka adalah karunia Roh Kudus untuk mereka. Lalu, anggota kelompok yang lain dapat menambahkan karisma yang mereka lihat dalam diri saudara mereka. ◆ Komitmen pelayanan konkret. Bersama dengan tim pastoral paroki, sediakanlah beberapa “pintu masuk” pelayanan yang dapat segera diambil oleh para neofit — bukan tugas besar, melainkan langkah pertama, sesuai dengan pemetaan yang sudah dilakukan pada Pertemuan N 05. ◆ Rencana pendampingan lanjutan. Sepakati bersama bagaimana para neofit akan tetap diiringi sesudah Masa Paskah berakhir — misalnya pertemuan bulanan selama setahun pertama. Mistagogi tidak berhenti di Pentakosta; ia hanya berubah bentuk menjadi mistagogi permanen — perjalanan iman seumur hidup. ◆ Doa pengutusan. Tutuplah pertemuan dengan doa pengutusan yang khidmat, di mana setiap neofit dipanggil dengan namanya, dan komunitas mendoakan agar Roh Kudus terus menyalakan iman mereka. Mistagogi sejati adalah initium yang berkelanjutan — sebuah permulaan, bukan titik akhir. Di Hari Raya Pentakosta ini, masa mistagogi berakhir; namun perjalanan mistagogis seumur hidup justru baru dimulai. |
“Pergilah, dan muliakanlah Tuhan dengan hidupmu.”
— RUMUS PENGUTUSAN MISA
Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami.
✣