SERI KATEKESE MISTAGOGIS · PERTEMUAN VI
Roh Kasih
Sakramen-Sakramen yang Membentuk Cara Kita Mengasihi
— ✣ —
MINGGU VI PASKAH · “JIKALAU KAMU MENGASIHI AKU”
|
BACAAN INJIL MINGGU INI “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” — Yohanes 14:15-17 |
Pengantar
Pada minggu menjelang Hari Raya Kenaikan Tuhan, Injil membawa kita masuk ke percakapan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya. Pada momen yang begitu mengharukan itu, Ia tidak memberikan daftar aturan atau penjelasan doktrinal. Ia justru berbicara tentang kasih dan tentang Roh Kudus, dan Ia menyatukan keduanya. Sebab tanpa Roh Kudus, kasih yang Ia kehendaki tidak mungkin tumbuh dalam diri kita.
Episode ini, bersama rangkaian pertemuan yang menyertainya, berporos pada satu gagasan yang sama: Roh yang membentuk kasih kita adalah Roh yang juga mendamaikan kita—dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Karena itu, pertemuan mistagogi dengan sarana bantu video episode ini, sambil menyingkapkan karya Roh dalam Perayaan Ekaristi, sekaligus menyiapkan hati kita untuk pengalaman pendamaian yang paling nyata dan personal: Sakramen Rekonsiliasi.
I — APA YANG KRISTUS LAKUKAN
Roh yang Menjadi Pribadi
Yesus tahu bahwa saat perpisahan sudah dekat. Dan justru pada momen itu, Ia berbicara tentang inti dari seluruh hidup-Nya: kasih.
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.”
Yesus tidak menjanjikan sebuah metode untuk mengasihi, melainkan seorang Pribadi — Roh Kudus, sang Penolong yang tinggal di dalam diri kita dan mengajar dari dalam. Kasih yang Yesus minta bukanlah hasil usaha manusia semata. Kasih itu adalah buah dari Roh yang berdiam di hati kita.
Bagi yang telah menerima Sakramen Krisma, ingatlah kembali saat uskup mengurapi dahi kita dengan minyak krisma sambil berkata: “Terimalah tanda karunia Roh Kudus.” Pada saat itu, janji Yesus pada malam perpisahan itu menjadi nyata atas diri kita.
Roh yang Mendamaikan
Roh Kudus dicurahkan untuk menyempurnakan rahmat Pembaptisan kita, bukan sekadar pelengkap belaka. Ia tidak hanya membentuk cara kita mengasihi; Ia juga memulihkan kasih yang retak. Pada malam Paskah, Kristus yang Bangkit menghembuskan napas-Nya dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yoh 20:22-23). Sejak saat itu, pengampunan Allah disalurkan melalui Gereja. Roh kasih dan Roh pengampunan adalah satu Roh yang sama. Itulah sebabnya, sesudah merenungkan kasih, langkah berikut yang wajar adalah menyongsong pendamaian.
II — TANDA DALAM MISA
Tiga Tanda Karya Roh dalam Liturgi
Dalam setiap bagian Perayaan Ekaristi, ada tanda-tanda yang membantu kita melihat bagaimana Roh Kudus bekerja secara nyata. Mari kita perhatikan tiga di antaranya.
|
Tanda Pertama: Penumpangan Tangan dan Epiklesis Dalam Doa Syukur Agung, ada satu bagian penting, yaitu doa epiklesis. Pada saat itu, imam mengulurkan tangan ke atas roti dan anggur, seraya memohon agar Bapa mengutus Roh Kudus untuk mengubah bahan persembahan tersebut menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Gestur ini sejalan dengan tradisi Gereja Perdana yang menyalurkan karunia Roh Kudus melalui tanda penumpangan tangan, tradisi yang kemudian menjadi dasar dari Sakramen Penguatan. Ekaristi adalah bagian dari inisiasi Kristen sekaligus puncak dan kepenuhannya. Karena Ekaristi melengkapi inisiasi Kristen, Baptisan dan Penguatan “diarahkan kepada Ekaristi,” dan dengan penerimaan Komuni rahmat itu mencapai kepenuhannya dalam umat. Roh yang sama yang mengubah roti adalah Roh yang ingin mengubah kita — termasuk mengubah hati yang keras menjadi hati yang mampu meminta dan memberi maaf. |
|
Tanda Kedua: Salam Damai Sebelum menerima Komuni, umat saling mengucapkan: “Damai Kristus.” Tindakan ini sering dianggap sebagai formalitas atau sopan santun belaka. Salam Damai adalah ungkapan kasih yang telah didamaikan. Ia mengalir dari pendamaian yang dikerjakan Kristus di salib dan dinyatakan secara nyata dalam komunitas oleh Roh yang telah kita terima. Ketika kita mengucapkan “Damai Kristus” kepada seseorang di sebelah kita — mungkin kepada orang yang tidak kita kenal, mungkin kepada orang yang pernah menyakiti kita — kita sedang melakukan tindakan kasih yang hanya mungkin karena Roh Kudus berkarya di dalam kita. Salam Damai ini adalah gambar kecil dari apa yang dirayakan secara penuh dalam Sakramen Rekonsiliasi: damai yang menembus pintu yang terkunci dalam hati. |
|
Tanda Ketiga: Doa Umat sebagai Tindakan Kasih Dalam Doa Umat, seluruh komunitas mendoakan kebutuhan dunia: orang sakit, yang menderita, para pemimpin, korban bencana dan peperangan. Doa ini bukan sekadar daftar permohonan. Ini adalah tindakan kasih — kasih yang melampaui diri sendiri, yang mendoakan mereka yang bahkan tidak kita kenal. Roh Kuduslah yang memperluas hati kita hingga mampu merangkul dunia dalam doa. |
III — APA YANG BERUBAH MINGGU INI
Tiga Ajakan untuk Minggu Ini
Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita bukanlah kekuatan yang diam. Ia aktif menggerakkan hati kita. Ia membentuk cara kita bereaksi, menanggapi, dan mengasihi. Pertanyaannya adalah: apakah kita memberi-Nya ruang untuk berkarya?
|
I — Biarkan Roh Kudus membentuk satu reaksi. Ketika kita merasa jengkel, berhentilah sejenak dan mintalah: “Roh Kudus, berilah aku kesabaran.” Ketika kita tergoda untuk menghindari kebenaran, mintalah: “Roh Kudus, berilahaku keberanian untuk jujur.” Satu reaksi yang dibentuk oleh Roh dapat mengubah satu hari, satu hubungan, bahkan satu hidup. |
|
II — Perbaiki satu hubungan melalui gestur damai yang kecil. Seperti Salam Damai dalam Misa, bawalah damai Kristus keluar dari gedung gereja ke dalam kehidupan nyata. Kirimkanlah pesan perdamaian. Ucapkan kata maaf. Buatlah langkah pertama. Biarkanlah Roh Kudus yang mendamaikan kita dengan Allah juga mendamaikan kita dengan sesama. |
|
III — Songsonglah Sakramen Pendamaian dengan hati terbuka. Pengakuan dosa pertama bukan “pengadilan”, melainkan perjumpaan dengan Bapa yang berlari menyongsong anak-Nya (Luk 15). |
|
Kasih adalah buah Roh yang berdiam di dalam diri kita. Dan Roh itu telah kita terima. Saat ini, Ia ada di dalam diri kita. Biarkanlah Ia berkarya. |
PERTANYAAN UNTUK REFLEKSI ATAU SHARING KELOMPOK1. Saat epiklesis — ketika imam mengulurkan tangan di atas roti dan anggur — apakah saya pernah menyadari bahwa Roh Kudus yang sama itu juga sedang berkarya dalam diri saya? Apa yang akan berubah jika saya mulai berdoa secara pribadi pada saat itu: “Roh Kudus, datanglah juga atasku”? 2. Salam Damai dalam Misa — apakah saya melakukannya sebagai formalitas, atau sebagai tindakan kasih yang sungguh tulus? Adakah seseorang yang sulit saya beri salam damai dengan hati yang utuh? 3. Apa yang membuat saya cemas tentang pengakuan dosa pertama? Apa yang akan berubah jika saya memandangnya sebagai damai Kristus yang menembus pintu terkunci? |
PERTEMUAN MISTAGOGI · MINGGU VI PASKAH |
N 06 |
|
|||||
|
|
Sakramen Rekonsiliasi & Hidup Doa Sehari-hari
|
||||||
✦ PERSIAPAN SAKRAMEN REKONSILIASIPengakuan Dosa Pertama Sebelum Novena Roh Kudus Sebelum memasuki Novena Roh Kudus yang dimulai setelah Hari Raya Kenaikan Tuhan, para neofit dianjurkan untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk pertama kalinya. Hati yang telah didamaikan menyongsong pencurahan Roh Kudus pada Pentakosta. Anjuran waktu: Hari Sabtu sebelum Novena Roh Kudus dimulai. Tim katekumenat sebaiknya: ◆ Berkoordinasi dengan imam paroki untuk menyediakan waktu khusus pengakuan dosa bersama bagi para neofit. ◆ Menyediakan panduan pemeriksaan batin sederhana yang dapat dipakai neofit di rumah. ◆ Mendampingi neofit yang gugup atau takut — banyak yang baru pertama kali ini akan masuk ke kamar pengakuan. ◆ Menutup hari itu dengan doa syukur singkat di kapel atau gereja. Bacaan yang dianjurkan untuk permenungan menjelang pengakuan dosa pertama: Mzm 51 (50) dan Luk 15:11-32 (perumpamaan anak yang hilang). |
✦ Untuk Pendamping Neofit dan Tim KatekumenatVideo episode ini (kasih dan Roh) bisa menjadi pembuka untuk berbicara tentang Sakramen Penguatan secara lebih mendalam. Banyak yang dibaptis sebagai dewasa tapi belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat pengurapan dengan minyak krisma. Pertemuan dapat menyertakan refleksi tentang karunia Roh Kudus yang tujuh (kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, takut akan Allah) — mana yang paling dirasakan, dan mana yang paling dibutuhkan dalam hidup mereka saat ini? Video tersebut juga bisa mengantar pada pembahasan tentang Sakramen Rekonsiliasi. Banyak neofit dewasa cemas atau gugup tentang pengakuan dosa pertama mereka. Pendamping berperan penting untuk membuat mereka memahami bahwa pengakuan dosa bukan “pengadilan,” melainkan perjumpaan dengan kerahiman Bapa yang berlari menyongsong anaknya — sebagaimana digambarkan dalam Lukas 15. Kaitkan dengan tema Episode 1 (Kerahiman Ilahi) yang sudah didalami bersama: pengakuan dosa adalah pengalaman langsung dari damai Kristus yang menembus pintu yang terkunci. Tema “kasih” yang menjadi inti episode video ini juga membuka diskusi yang sangat relevan dengan kehidupan harian: bagaimana kasih kristiani berbeda dari sekadar perasaan, dari sekadar romantisme, atau dari sekadar kerukunan sosial? Kasih kristiani adalah buah Roh — dan karenanya selalu menuntut, tetapi sekaligus selalu memungkinkan, karena bukan kita yang menghasilkannya seorang diri. Kunci pertemuan ini adalah urutan: jangan langsung masuk ke pemeriksaan batin. Mulailah dari video (kasih dan Roh), lalu dari pengalaman Salam Damai, baru menuju Sakramen Rekonsiliasi. Dengan begitu Rekonsiliasi terasa sebagai kelanjutan kasih, bukan sebagai topik teknis yang berdiri sendiri. |
✦ MISA NEOFIT IIMg Paskah VI · Minggu Komunitas Kristiani Pada Misa Hari Minggu ini, para neofit kembali memiliki tugas khusus sebagai bentuk Misa Neofit yang kedua: ◆ Perarakan persembahan dilakukan oleh neofit bersama wali baptis. ◆ Salah satu neofit membaca bacaan pertama. ◆ Neofit duduk di bangku depan mengenakan pakaian atau syal putih khusus. ◆ Pengantar liturgis menyebut kehadiran mereka dalam pembukaan Misa. Wali baptis berperan aktif sebagai pendamping liturgis pada Misa ini. |
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
— YOHANES 14:15
✣