Venite ad Me

Marilah datang pada-Ku

Dikasteri untuk Ajaran Iman

Venite ad Me

Pertimbangan-pertimbangan tentang Penerusan Iman
di tengah Perubahan Zaman

Disetujui Paus Leo XIV · Diterbitkan di Roma, 22 Oktober 2026

1“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Tuhan Yesus Kristus menampilkan diri sebagai sumber kelegaan yang mendalam di hadapan keletihan dan jerih payah hati manusia. Dari sudut pandang ini, penerusan iman tampak sebagai suatu perjumpaan: di dalamnya Kristus mendekati setiap orang dalam situasi konkret hidupnya dan menganugerahkan damai sejati yang hanya dapat ditemukan di dalam Dia.

Pengantar

2Yesus adalah terang dunia yang sejati, dan siapa pun yang percaya kepada-Nya, Dia yang Bangkit dan hidup, mengalahkan kegelapan maut dan hidup dalam terang kehidupan (bdk. Yoh 1:6–9; 8:12). Inilah iman Gereja, dan inilah iman yang dipanggil untuk disebarluaskan oleh setiap orang beriman sampai ke ujung bumi. Tugas ini, yakni penerusan iman dalam kondisi sosial-budaya dewasa ini, menjadi inti Pertimbangan-pertimbangan ini.

3Tanggung jawab ini yang diemban oleh setiap orang yang percaya kepada Kristus, Terang dunia yang sejati, merupakan tema yang sangat penting bagi kehidupan dan perutusan Gereja. Paus Fransiskus berulang kali mendesak Dikasteri untuk menyajikan suatu refleksi tentang hal ini, sehingga Dikasteri pun memulai prosedur biasa untuk menyusun Pertimbangan-pertimbangan ini. Peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini — terutama terpilihnya Paus Leo XIV sebagai Pengganti Petrus, perayaan Yubileum, serta perspektf Yubileum Penebusan pada tahun 2033 yang akan datang — memberi dorongan tambahan untuk mempercepat penyusunan dokumen tersebut.

4Pertimbangan-pertimbangan ini pertama-tama dimaksudkan untuk mengangkat kembali, bagi seluruh komunitas gerejawi, ajakan yang disampaikan Bapa Suci Leo XIV kepada para uskup Italia ketika beliau bertemu dengan mereka pada bulan Juni 2025: “Pertama-tama, diperlukan semangat yang diperbarui dalam pewartaan dan penerusan iman. Persoalannya adalah menempatkan Yesus Kristus di pusat pewartaan dan hidup kita, dan — mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Evangelii Gaudium — membantu orang-orang menghayati relasi pribadi dengan-Nya, menemukan sukacita Injil. Pada masa keterpecahan yang terjadi di mana-mana saat ini, kita perlu kembali kepada dasar iman kita, kepada kerygma. Inilah komitmen agung yang utama, yang menggerakkan semua komitmen lainnya.”1 Oleh karena itu, sebagaimana diamati pula oleh Bapa Suci, “dewasa ini evangelisasi secara khusus juga harus bergulat dengan kondisi dan dinamika yang telah berubah seputar penerusan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di beberapa bagian dunia, penerusan ini nyaris terhenti, dan hal ini menuntut kemampuan untuk menghadapi tantangan-tantangan baru.”2 Maka, tujuan khusus dokumen ini adalah menyajikan suatu refleksi yang terfokus dan mengusulkan jalan-jalan konkret untuk mewartakan kerygma di tengah perubahan zaman yang sedang kita alami.

5Pewartaan semacam itu mampu membangkitkan kembali iman pada mereka yang sudah lama tidak menghayatinya (terutama di kalangan orang dewasa dan generasi muda), atau menumbuhkan pengalaman iman (fides qua) pada mereka yang belum mengenal Kristus. Dokumen ini tidak masuk ke dalam karya khusus katekese dan pembinaan umat beriman, yang keduanya dipanggil untuk memberikan pengantar yang teratur dan bertahap kepada ajaran Gereja (fides quae). Refleksi tentang fides qua dalam Pertimbangan-pertimbangan ini mendahului persoalan penerusan depositum fidei, yang tidak dimaksudkan untuk dibahas secara tuntas dalam dokumen ini.

6Dalam penyusunan Pertimbangan-pertimbangan ini, sumbangan banyak Konferensi Waligereja nasional sungguh sangat berharga; mereka menanggapi dengan penuh kesungguhan permintaan Dikasteri untuk mengirimkan bahan-bahan yang berkaitan dengan tema penerusan iman.

7Yang sangat bermakna adalah kesaksian-kesaksian pribadi yang dikirimkan para uskup kepada kami dari mereka yang, sebagai orang muda atau kemudian di usia dewasa, baru saja menemukan atau menemukan kembali Tuhan Yesus dan Injil-Nya. Banyak di antaranya dimuat dalam bab terakhir Pertimbangan-pertimbangan ini.

8Satu klarifikasi terakhir menyangkut jenis dokumen ini: dokumen ini adalah Pertimbangan-pertimbangan, bukan suatu Nota Doktrinal. Maksudnya terutama adalah merangsang refleksi gerejawi dan komitmen pastoral mengenai penerusan iman. Karena itu, teks ini menelaah berbagai sudut pandang tanpa bermaksud menuntaskan persoalannya, yang tetap terbuka bagi analisis dan pengembangan lebih lanjut. Artinya, Pertimbangan-pertimbangan ini tidak ditandai oleh ketepatan terminologis dan pembahasan sistematis seperti dokumen-dokumen lain Dikasteri untuk Ajaran Iman, melainkan memberi ruang bagi gaya yang lebih diskursif, sebagaimana tampak terutama dalam bagian tentang kesaksian-kesaksian pribadi yang disebut di atas.3

Bab I — Pewartaan Kasih Bapa

9Ketika berbicara tentang perutusan Yohanes Pembaptis, penginjil Yohanes melukiskannya sebagai saksi terang, sebagai dia yang harus memberi kesaksian tentang terang yang sejati — terang yang satu-satunya berkuasa menerangi setiap manusia (bdk. Yoh 1:6–9). Terang sejati ini mempunyai nama: Yesus, Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia demi keselamatan dunia. Dialah “terang dunia yang sejati”, dan mereka yang mengikuti jejak-Nya tidak akan pernah tersesat dalam kegelapan, tetapi selalu akan menemukan dalam diri mereka terang kehidupan yang penuh (bdk. Yoh 8:12). Inilah inti iman Kristiani, dan inilah pula daya penggerak yang mendorong orang-orang beriman — di setiap zaman, termasuk zaman kita — untuk meneruskan iman yang mereka hayati.

10Yesus sungguh adalah terang sejati yang menerangi setiap orang, sebab Ia telah menyingkapkan apa yang belum pernah dilihat atau dapat dilihat oleh siapa pun: kasih tanpa syarat yang bersemayam dalam hati Allah Tritunggal. Inilah kabar baik Injil Sang Putra — bahwa Allah adalah kasih, untuk selamanya dan bagi semua orang (bdk. 1Yoh 4:8). Allah adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kabar baik ini, yang belum pernah terdengar sebelum Yesus, kini dapat menghantar kita kepada keselamatan dan kebahagiaan yang penuh; sekaligus, oleh rahmat Roh Kudus, kabar baik ini dapat menyingkapkan dan memurnikan segala sesuatu yang mungkin menghalangi hidup baru yang dibukanya.

11Lebih radikal lagi, Yesus mewartakan kebenaran bahwa, karena kasih Bapa ini, tidak ada satu pun kenyataan manusiawi yang ditandai kegagalan atau dosa yang tidak dapat dipulihkan kepada tujuan asalinya. Sungguh, berkat karya Roh Kudus yang terus-menerus — yang bekerja dengan cara-cara yang hanya diketahui oleh-Nya4 — terang dan kuasa kasih itu selalu tersedia bagi setiap orang, di setiap waktu dan di setiap tempat. Mereka yang menerima pewahyuan ini meninggalkan wilayah kegelapan untuk selamanya, dan akhirnya membuka diri kepada terang kehidupan dan kepada kehidupan dalam terang.

12Justru karena itulah seluruh hidup Yesus ditandai oleh kerinduan untuk menerangi setiap manusia dengan kabar baik tentang Allah yang adalah Kasih untuk selamanya. Maka Ia pergi menjumpai sesama dengan hati yang terbuka dan bebas, dan membiarkan mereka mendekat kepada-Nya. Ia menyusuri jalan-jalan yang dilalui para lelaki dan perempuan pada zaman-Nya, dan membiarkan diri-Nya dijumpai oleh mereka. Siapa yang mencari Dia akan menemukan-Nya; dan jika mereka mencari-Nya, itu karena mereka sudah lebih dahulu dijangkau oleh Kristus (bdk. Flp 3:12). Yesus tidak memasang penghalang apa pun antara diri-Nya dan orang banyak. Ia selalu penuh perhatian, selalu hadir, tidak pernah lengah. Sabda-Nya tidak pernah abstrak. Ia terus-menerus berusaha mengarahkan hati dan budi setiap orang kepada terang sejati kasih dan belas kasihan Bapa — kasih dan belas kasihan yang semata-mata tertuju kepada hidup yang baik bagi semua. Tak seorang pun dikecualikan. Hidup setiap orang layak dihayati sepenuhnya.

13Lebih dari itu, mereka yang membuka diri kepada terang pewahyuan kasih Allah menerima dari Yesus sabda pengampunan, sabda pembebasan, sabda kasih, sabda kemerdekaan, sabda kehidupan, dan sabda pengharapan (bdk. Luk 4:18–19). Dalam diri semua orang yang datang menjumpai-Nya dan membuka diri kepada-Nya dengan hati yang tulus, Yesus membangkitkan minat dan cinta yang baru akan kehidupan: akan hidup mereka sendiri, hidup sesama, dan hidup segala sesuatu yang ada (bdk. Yoh 14:6). Kasih Allah menghantar setiap lelaki dan perempuan kembali kepada alasan-alasan baik bagi keberadaan mereka di dunia.

14Dengan hal ini dalam hati dan budi-Nya, Yesus, sebagaimana dilukiskan para Penginjil, selalu berada dalam perjalanan. Ia tidak menunggu. Ia tidak mendirikan tempat kudus atau sekolah-Nya sendiri. Ia berpindah-pindah; Ia berkeliling. Ia memasuki desa-desa dan kota-kota bangsa-Nya dan zaman-Nya. Ia meluangkan waktu bersama orang-orang biasa, tetapi juga bersama mereka yang memegang kedudukan otoritas publik, keagamaan, atau politik. Melalui tindakan dan perkataan ini, Yesus menggenapi pewahyuan yang dipercayakan kepada bangsa Israel (bdk. Mat 4:12–17; Mrk 1:14–15; Luk 3:21–22).

15Yang sangat mencolok adalah cara Yesus mewartakan Injil Allah, yang adalah kasih selalu dan bagi semua orang. Pewartaan-Nya memuat banyak rujukan pada kehidupan sehari-hari orang banyak, dunia binatang, serta dunia pepohonan, tanaman, dan bunga; demikian pula pewartaan-Nya kaya akan rujukan pada pekerjaan-pekerjaan pada zaman-Nya, cara menyiapkan makanan, dan permainan anak-anak. Yesus juga menunjukkan keakraban yang luar biasa dengan penggunaan angka-angka dan sering mengambil contoh dari pembangunan gedung atau cuaca; Ia mengenal mata uang pada masa-Nya dan sangat memahami berbagai kelompok keagamaan yang ada pada waktu itu, yang dengan cara berbeda-beda berhubungan dengan Yudaisme. Ia sungguh seorang yang “memandang” dengan penuh perhatian dan terus-menerus mengajak setiap orang untuk “memandang” dengan tatapan yang sama jalinan ciptaan dan sejarah manusia. Inilah, sesungguhnya, kepastian-Nya yang tak tergoyahkan: bila hati seseorang bebas dari segala keegoisan dan kecemasan yang sia-sia, ia dapat mengenali jejak-jejak kasih Allah bahkan dalam peristiwa yang paling kecil dan tampaknya paling tidak berarti (bdk. Luk 12:22–34). Justru kasih inilah yang menggerakkan Yesus untuk berbicara dengan bahasa kehidupan sehari-hari orang banyak.

16Maka tidak mengherankan bahwa pewartaan semacam itu, sementara dengan mudah memikat hati orang-orang sederhana yang merasakannya begitu dekat dan akrab, justru membingungkan dan sampai taraf tertentu mengusik mereka yang memegang kekuasaan politik dan keagamaan. Pewartaan itu bagaikan terang yang dapat menyingkapkan setiap penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan tersebut: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu” (Mat 20:25–26); “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang” (Luk 11:46).

17Dalam menjalankan perutusan-Nya, Yesus tidak membatasi diri pada mewartakan kasih Allah yang tanpa syarat, tetapi juga memberi kesaksian konkret tentangnya dengan menunjukkan kecintaan khusus kepada semua orang yang hampir tidak lagi mengharapkan apa pun dari siapa pun: tidak dari sanak saudara, tidak dari sahabat, tidak dari sesama warga, tidak dari sesama umat beriman, dan barangkali bahkan tidak dari Allah Perjanjian para bapa leluhur. Karena penderitaan mereka — yang disebabkan oleh penyakit yang tak tersembuhkan atau oleh nasib malang yang tragis — orang-orang ini sering dianggap sebagai “yang terakhir” dalam masyarakat. Namun, justru merekalah yang menjadi “yang pertama” dalam hati Tuhan Yesus (bdk. Mat 20:16). Sungguh, “yang terakhir/yang pertama” inilah yang, lebih dari siapa pun, diundang Yesus untuk mendekat kepada terang yang menerangi setiap lelaki dan perempuan — yakni terang kasih Bapa. Maka, melalui kedekatan, sabda, dan mukjizat-mukjizat-Nya, Yesus menyalakan kembali dalam diri mereka harapan untuk dapat berharap lagi, kepercayaan untuk dapat percaya lagi, kemungkinan untuk kembali memiliki kemungkinan. Ia mengerjakan dalam diri mereka keajaiban untuk sekali lagi dapat mempercayai suatu mukjizat bagi hidup mereka sendiri.

18Dalam perjalanan pewartaan-Nya, Yesus hampir tak terelakkan berbenturan dengan suatu masyarakat keagamaan dan politik yang menjadikan Hukum Musa sebagai fondasi strukturalnya, tetapi dalam penerapan konkretnya sering didominasi oleh sikap-sikap yang memecah-belah dan mengucilkan. Sementara Bapa-Nya di surga menerbitkan matahari bagi semua orang tanpa kecuali (bdk. Mat 5:45) dan menurunkan hujan bagi semua orang tanpa kecuali, diskriminasi dan pemisahan antarmanusia merupakan ciri yang meluas dalam lingkungan politik dan keagamaan pada zaman-Nya, sebagaimana juga pada zaman kita. Dengan membawa terang kasih ilahi yang berusaha menyambungkan kembali setiap orang dengan hidupnya yang penuh pergulatan, dengan sesama dalam komunitasnya, dan akhirnya dengan Allah sendiri — demi suatu persaudaraan yang ditandai keadilan dan damai — Yesus mau tidak mau berbenturan dengan kekuasaan-kekuasaan pada zaman-Nya, sebab pesan-Nya memiliki daya otoritas (bdk. Mrk 1:27). Dengan mewartakan wajah Allah yang penuh kasih, Yesus meruntuhkan setiap dasar bagi pelaksanaan kekuasaan keagamaan dan politik secara sewenang-wenang yang telah melupakan hakikatnya sendiri sebagai sarana pelayanan dan persatuan. Allah tidak memberkati perpecahan, apalagi diskriminasi. Ia adalah Bapa dan mengasihi setiap makhluk hidup (bdk. Keb 1:13–14). Tidak ada hukum atau otoritas manusiawi ataupun keagamaan yang dapat menyatakan seseorang tidak layak akan kasih-Nya atau akan kasih sesama manusia.

19Ketegangan antara perkataan dan perbuatan Yesus di satu pihak, dan ketidakpahaman kekuasaan-kekuasaan pada zaman-Nya di lain pihak, mencapai puncaknya dalam keputusan otoritas keagamaan dan politik untuk menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Pewartaan-Nya, yang disertai tanda-tanda luar biasa, harus dihentikan dan dibungkam untuk selamanya. Maka, kematian-Nya di salib diputuskan, dengan persetujuan otoritas Romawi.

20Namun, hukuman mati itu tidak berkuasa memadamkan “terang dunia yang sejati”. Dalam tata keselamatan, alat eksekusi yang tidak adil itu menjadi takhta tertinggi dari mana pesan Injil bergema dengan kejelasan yang mutlak, dan daya penerang Injil Sang Putra dinyatakan kepada seluruh dunia. Dan Injil itu adalah ini: Allah adalah kasih bagi semua orang; Allah adalah belas kasihan bagi semua orang. Sungguh demikian bagi semua orang, termasuk bagi mereka yang menghukum dan membunuh Sang Putra. “Ya” yang diucapkan Allah, dalam Yesus, kepada umat manusia — yang menjaga terang dunia yang sejati, yaitu Putra-Nya, tetap menyala terang — tidak pernah dapat berubah menjadi “tidak”. Kasih Bapa, Putra, dan Roh Kudus bagi umat manusia tidak mengenal syarat, batas, ukuran, dan pada akhirnya tidak mengenal sekat (bdk. 1Yoh 4:7–8).

21Pada saat-saat terakhir hidup Yesus di dunia, kata-kata indah dari kitab Kidung Agung yang luhur dan menakjubkan itu mencapai pemenuhannya yang sejati: “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya” (8:7). Ketidakpahaman dan permusuhan tanpa henti yang mendorong para pemimpin bangsa untuk menghukum Yesus — dengan keterlibatan penuh otoritas Romawi — tidak berhasil memadamkan kerinduan-Nya untuk menuntun umat manusia keluar dari kegelapan dan menyalakan di dalamnya terang kehidupan. Sungguh, kabar baik dan agung dari kekristenan adalah tepat ini: bahkan kuasa maut pun tidak dapat memadamkan terang dunia yang sejati.

22Karena itu, ada satu kepastian mendasar bagi orang Kristiani, yang tanpanya, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus, segala sesuatu akan sia-sia: “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:14). Kesadaran yang sama juga diungkapkan dalam Sinode tentang Orang Muda: “Kristus hidup! Dialah pengharapan kita, dan dengan cara yang menakjubkan Ia membawa kemudaan ke dalam dunia kita; segala sesuatu yang disentuh-Nya menjadi muda, baru, penuh kehidupan.”5 Inilah yang diimani, diwartakan, dan disaksikan melalui hidup mereka oleh para murid Tuhan di setiap zaman: Kristus hidup dan menghendaki kehidupan bagi setiap manusia. Ia senantiasa menyertai kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita (bdk. Mat 28:20). Sejauh apa pun seseorang menjauh dari-Nya, Yesus tidak akan pernah berpaling dari orang itu. Melalui Gereja-Nya, Dia yang Bangkit senantiasa berada di sisi setiap orang, siap menerangi hidupnya dengan kasih ilahi, memenuhinya dengan kehidupan, kekuatan, dan pengharapan. Persekutuan gerejawi dewasa ini adalah tempat istimewa di mana Kristus terus membiarkan diri-Nya dijumpai melalui para lelaki dan perempuan yang secara bertahap diubah oleh hidup-Nya sendiri.

23Untuk melaksanakan perutusannya sebagai terang dunia, Gereja dengan sukacita merayakan terpenuhinya janji agung Kristus: “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26); “Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi” (Yoh 15:26–27). Tanpa karya-Nya di kedalaman hati kita, mustahil meneruskan terang sejati Kristus, sebagaimana diingatkan pula oleh Sekuensia Pentakosta: “Datanglah, Bapa kaum papa […] tanpa daya kekuatan-Mu, kami tak berarti apa-apa.” Kita menaruh kepercayaan kepada-Nya seraya bersiap mencari berbagai cara untuk bekerja sama dengan rahmat-Nya dalam evangelisasi pada zaman kita. Kita memohon kepada-Nya semangat dan sukacita yang diperlukan untuk menanggapi panggilan ini dengan setia.

Bab II — Terang Iman

24Dalam terang apa yang telah dikatakan sejauh ini, kita dapat lebih memahami dasar kekristenan sebagaimana dirumuskan oleh Benediktus XVI: “Menjadi Kristiani bukanlah hasil dari suatu pilihan etis atau suatu gagasan luhur, melainkan perjumpaan dengan suatu peristiwa, dengan suatu pribadi, yang memberi hidup cakrawala baru dan arah yang menentukan.”6 Cakrawala baru dan arah yang menentukan itu ditandai oleh sukacita, sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus pada awal Evangelii Gaudium: “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus. Mereka yang menerima tawaran keselamatan-Nya dibebaskan dari dosa, kesedihan, kehampaan batin, dan kesepian. Bersama Kristus, sukacita senantiasa lahir kembali.”7

25Inilah, dengan demikian, inti pengalaman Kristiani: perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang membawa kita bersentuhan dengan terang sejati kasih ilahi, menjaga kita agar tidak tersesat dalam kegelapan, dan menuntun kita kepada kehidupan. Justru dalam arti inilah kita dapat berbicara tentang “terang iman”, sebagaimana dinyatakan dalam ensiklik pertama Paus Fransiskus yang berjudul sama, yang dalam penyusunannya Benediktus XVI juga memberi sumbangan: “Terang Iman: demikianlah tradisi Gereja menyebut anugerah agung yang dibawa oleh Yesus. Dalam Injil Yohanes, Kristus berkata tentang diri-Nya: ‘Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan’ (Yoh 12:46). Santo Paulus menggunakan gambaran yang sama: ‘Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang!, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita’ (2Kor 4:6). Dunia kafir, yang lapar akan terang, telah menyaksikan berkembangnya pemujaan dewa matahari, Sol Invictus, yang diseru setiap hari saat matahari terbit. Namun, meskipun matahari terbit kembali setiap pagi, jelas ia tidak mampu memancarkan terangnya ke seluruh keberadaan manusia. Matahari tidak menerangi seluruh kenyataan; sinarnya tidak dapat menembus sampai ke bayang-bayang maut, tempat mata manusia tertutup bagi terangnya. ‘Tak seorang pun — tulis Santo Yustinus Martir — pernah bersedia mati demi imannya kepada matahari.’ Sadar akan cakrawala luas yang dibukakan iman bagi mereka, orang-orang Kristiani menyeru Yesus sebagai matahari sejati ‘yang sinarnya menganugerahkan kehidupan’. Kepada Marta, yang menangisi kematian saudaranya Lazarus, Yesus berkata: ‘Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?’ (Yoh 11:40). Mereka yang percaya, melihat; mereka melihat dengan terang yang menerangi seluruh perjalanan mereka, sebab terang itu berasal dari Kristus yang bangkit, bintang fajar yang tidak pernah terbenam.”8

26Dengan demikian, pengalaman iman dapat dibayangkan sebagai perjumpaan yang vital dan menentukan dengan “matahari sejati” itu, yakni Kristus, yang membebaskan kita dari kegelapan dan memenuhi keberadaan manusia dengan terang. Inilah pengalaman terang yang, menurut hakikatnya, memancar keluar kepada hidup orang lain, menerangi mereka dengan terang yang sama; dan ketika mereka pada gilirannya bersinar, mereka memperluas jangkauan terang asali itu: terang dunia yang sejati, yaitu Kristus. Bagaimana mungkin kita tidak mengingat, dalam hal ini, sabda Yesus sendiri kepada para murid-Nya: “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:14)?

27Justru dinamika inilah yang harus kita ingat ketika merenungkan pokok yang peka tentang penerusan iman dalam konteks dewasa ini, yang di sini disebut sebagai masa perubahan zaman. Teks Lumen Fidei menegaskan hal ini dengan sangat tepat: “Mereka yang telah membuka hati bagi kasih Allah, mendengar suara-Nya, dan menerima terang-Nya, tidak dapat menyimpan anugerah ini untuk diri mereka sendiri. Karena iman adalah mendengar dan melihat, iman juga diteruskan sebagai sabda dan sebagai terang. Ketika berbicara kepada jemaat Korintus, Santo Paulus menggunakan kedua gambaran ini. Di satu pihak ia berkata: ‘Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata’ (2Kor 4:13). Sabda, begitu diterima, menjadi jawaban, suatu pengakuan iman, yang menyebar kepada orang lain dan mengundang mereka untuk percaya. Paulus juga menggunakan gambaran terang: ‘Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya’ (2Kor 3:18). Inilah terang yang dipantulkan dari wajah yang satu ke wajah yang lain, sebagaimana Musa sendiri memantulkan kemuliaan Allah setelah berbicara dengan-Nya: ‘[Allah] membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus’ (2Kor 4:6). Terang Kristus bersinar, seperti dalam cermin, pada wajah orang-orang Kristiani; ketika menyebar, terang itu sampai kepada kita, sehingga kita pun dapat ambil bagian dalam penglihatan itu dan memantulkan terang tersebut kepada orang lain, sebagaimana dalam liturgi Paskah terang lilin Paskah menyalakan banyak lilin lainnya. Iman diteruskan, dapat dikatakan, melalui sentuhan, dari orang ke orang, sebagaimana satu lilin dinyalakan dari lilin yang lain. Orang-orang Kristiani, dalam kemiskinan mereka, menanam benih yang begitu kaya sehingga menjadi pohon besar, yang mampu memenuhi dunia dengan buahnya.”9

28Dokumen yang sama, dalam paragraf berikutnya, mengingatkan bahwa “penerusan iman tidak hanya membawa terang bagi para lelaki dan perempuan di setiap tempat; ia juga melintasi waktu, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena iman lahir dari suatu perjumpaan yang terjadi dalam sejarah dan menerangi perjalanan kita melintasi waktu, iman harus diteruskan di setiap zaman.”10 Maka, sementara di satu sisi penerusan iman menyerupai penyalaan satu nyala api dari nyala api yang lain melalui apa yang dapat kita sebut sentuhan pribadi, di sisi lain komunitas para murid selalu merasa terpanggil untuk menciptakan kesempatan-kesempatan bagi penerusan iman — kesempatan di mana setiap orang dapat bersentuhan dengan terang sejati kehidupan. Terang ini membebaskan kita dari segala kegelapan dan ditemukan dalam Tuhan Yesus. Karena itu, para murid merasa wajib meneruskan iman: suatu kewajiban yang harus dijaga dan dihormati dari generasi ke generasi.

29Penerusan iman berakar paling dalam pada prakarsa Allah, yang dalam Kristus telah menyingkapkan wajah-Nya dan mempercayakan kepada para Rasul tugas mewartakan Injil kepada segala bangsa. Namun, perutusan ini tidak berakhir dengan pewartaan para rasul, melainkan berlanjut sepanjang sejarah melalui Gereja. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup, serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya.”11 Maka, Gereja adalah subjek historis yang hidup di mana Injil didengarkan, dipelihara, dirayakan, dan terus-menerus dihadirkan kembali di bawah karya Roh Kudus. Karena alasan ini, iman tidak pertama-tama diteruskan sebagai seperangkat isi doktrinal atau informasi keagamaan, melainkan sebagai suatu bentuk kehidupan gerejawi ke dalamnya orang beriman diperkenalkan secara bertahap. Maka, subjek utama penerusan iman adalah Gereja secara keseluruhan,12 yang sementara tak henti-hentinya menerima anugerah Sabda ilahi, mengomunikasikan dan memberi kesaksian tentangnya melalui pewartaan, liturgi, karya-karya cinta kasih, dan pengalaman konkret persekutuan. Karena itu, dapat dikatakan dengan tepat bahwa Gereja “adalah Bunda yang mengajar kita berbicara dalam bahasa iman.”13

Bentuk-bentuk Penerusan Iman

30Penting untuk menyatakan dengan jelas bahwa kekuatan yang paling otentik dari perutusan evangelisasi komunitas para murid Tuhan tetaplah daya tarik, sebagaimana diingatkan Benediktus XVI dalam homilinya pada Misa Kudus pembukaan Konferensi Umum Kelima para Uskup Amerika Latin dan Karibia: “Perutusan Kristus terlaksana dalam kasih. Ia telah menyalakan di dunia api kasih Allah (bdk. Luk 12:49). Kasihlah yang memberi kehidupan; karena itu, Gereja diutus untuk menyebarkan Kasih Kristus ke seluruh dunia, supaya pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa ‘mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan’ (Yoh 10:10). […] Gereja memandang dirinya sebagai murid dan misionaris dari Kasih ini: misionaris hanya sejauh ia adalah murid, yang mampu terus-menerus tertarik dengan ketakjuban yang selalu baru oleh Allah yang telah mengasihi kita dan yang lebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1Yoh 4:10). Gereja tidak melakukan proselitisme. Sebaliknya, Gereja bertumbuh melalui ‘daya tarik’: sebagaimana Kristus ‘menarik semua orang kepada diri-Nya’ dengan kuasa kasih-Nya, yang memuncak dalam kurban Salib, demikian pula Gereja memenuhi perutusannya sejauh ia, dalam persatuan dengan Kristus, melaksanakan setiap karyanya dalam peneladanan rohani dan praktis akan kasih Tuhannya.”14 Paus Leo XIV juga merangkul refleksi ini: “Hari ini, dengan sukacita saya mengangkat kembali tema ini dan membagikannya kepada Anda sekalian. Saya mengajak kita untuk memberi perhatian saksama pada apa yang ditunjukkan Paus Benediktus sebagai ‘daya’ yang menggerakkan gerak daya tarik ini. Sungguh, daya ini adalah Charis, adalah Agape, adalah kasih Allah yang menjelma dalam Yesus Kristus dan yang, dalam Roh Kudus, dianugerahkan kepada Gereja, menguduskan segala tindakannya. Lagi pula, bukan Gereja yang menarik, melainkan Kristus; dan jika seorang Kristiani atau suatu komunitas gerejawi menarik, itu karena melalui ‘saluran’ itu mengalir darah kehidupan Cinta Kasih yang tercurah dari Hati Sang Penyelamat.”15

Keluarga

31Di antara lingkungan-lingkungan di mana Gereja dipanggil untuk membagikan terang Kristus dan membiarkannya bersinar, keluarga adalah tempat pertama dan paling hakiki bagi penerusan iman. Sudah dalam Perjanjian Baru, peran anggota keluarga dalam meneruskan iman tampak jelas. Kepada Timotius, misalnya, Rasul Paulus berkata: “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2Tim 1:5). Paus Leo XIV juga menekankan aspek ini dengan berkata: “Dalam keluarga, iman diteruskan bersama dengan kehidupan, dari generasi ke generasi. Iman dibagikan seperti makanan di meja keluarga dan seperti kasih di dalam hati kita. Dengan cara ini, keluarga-keluarga menjadi tempat istimewa untuk berjumpa dengan Yesus, yang mengasihi kita dan menghendaki kebaikan kita, selalu.”16

32Seiring berjalannya waktu, ketika komunitas-komunitas Kristiani terbentuk dan semakin kokoh, peran aktif mereka dalam meneruskan iman juga muncul. Dengan meluasnya praktik baptis bayi, komunitas dan keluarga merasa dipersatukan dalam tanggung jawab bersama untuk memperkenalkan anak-anak kepada perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Hal ini mencerminkan kesadaran bahwa, sementara anak-anak menerima kehidupan dari orang tua mereka, dalam baptis mereka menerima “rahmat untuk menghayatinya: iman. Bila kita tahu bahwa sesuatu itu hakiki, kita segera mengusahakannya bagi orang-orang yang kita kasihi. Sungguh, siapa di antara kita yang akan membiarkan bayi yang baru lahir tanpa pakaian atau makanan, sambil menunggu mereka dewasa untuk memilih bagaimana berpakaian dan apa yang akan dimakan? Saudara-saudari terkasih, jika makanan dan pakaian diperlukan untuk hidup, iman bahkan lebih vital lagi, sebab di dalam Allah hidup menemukan keselamatan.”17

33Bagaimanapun juga, tetap diperlukan integrasi yang mendalam antara Gereja dan keluarga, sebagaimana ditegaskan kembali dengan jelas oleh Lumen Fidei: “Struktur baptis menunjukkan betapa pentingnya kerja sama antara Gereja dan keluarga dalam meneruskan iman. Orang tua dipanggil, sebagaimana pernah dikatakan Santo Agustinus, bukan hanya untuk melahirkan anak-anak ke dunia, tetapi juga untuk membawa mereka kepada Allah, supaya melalui baptis mereka dapat dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah dan menerima anugerah iman. Dengan demikian, bersama dengan kehidupan, anak-anak diberi orientasi yang mendasar dan dijamin akan masa depan yang baik; orientasi ini akan diperkuat lebih lanjut dalam sakramen Krisma dengan meterai Roh Kudus.”18 Dalam kaitan ini, menarik untuk dicatat hubungan yang dapat dikenali dalam Gereja Latin antara liturgi penyalaan lilin Paskah — pendahuluan bagi perayaan agung Paskah, pusat dan puncak iman Kristiani — dan perayaan baptis, pintu masuk ke dalam iman yang sama itu, terutama dalam rujukannya kepada Kristus Sang Terang, yang harus disambut dalam hidup setiap orang beriman.

34Yang sangat bermakna dalam konteks ini adalah apa yang dikatakan oleh dokumen magisterial yang sama selanjutnya: “Dalam keluarga, iman menyertai setiap tahap kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak: anak-anak belajar mempercayai kasih orang tua mereka. Karena itu, sangat penting bahwa di dalam keluarga, orang tua mendorong ungkapan-ungkapan iman bersama yang dapat membantu anak-anak secara bertahap menjadi dewasa dalam iman mereka sendiri. Orang muda secara khusus, yang sedang melewati masa hidup yang begitu kompleks, kaya, dan penting bagi iman mereka, hendaknya merasakan kedekatan dan dukungan yang terus-menerus dari keluarga dan Gereja dalam perjalanan iman mereka.”19

35Patut diingat di sini suatu kisah yang sangat menyentuh, yang ditulis oleh Pastor Aimé Duval SJ, yang memberi gambaran tentang kesaksian iman Kristiani yang hening dan nyaris alami yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka. Dalam rangka menceritakan perjalanan pribadi dan rohaninya yang penuh pergolakan, Pastor Duval menulis: “Saya anak kelima dari sembilan bersaudara dalam keluarga saya. Sebelum saya ada Lucie, Marie, Hélène, dan Marcel; sesudah saya ada René, Raymond, Suzanne, dan André. Dalam keluarga ini, saya tidak belajar kesalehan dengan cara yang sangat ekspresif atau luar biasa. Yang ada hanyalah doa malam setiap hari, yang kami daraskan bersama. Tetapi saya mengingatnya dengan baik, dan akan mengingatnya sampai mata saya terpejam untuk terakhir kalinya. Kakak perempuan saya. Kakak saya Hélène yang memimpin doa, yang cukup panjang untuk anak-anak (seperempat jam). Ia mendarasnya dengan tergesa-gesa, bergumam, dan memotong-motong, sampai ayah saya berkata kepadanya dalam bahasa daerah, ‘Ulangi… Mulai lagi…’ Dari situ saya belajar bahwa kita harus berbicara kepada Tuhan dengan perlahan, sungguh-sungguh, dan dengan kesabaran yang lembut. Ayah saya. Yang menyentuh hati saya sekarang adalah kenangan akan sikap ayah saya. Ia selalu lelah karena bekerja di ladang atau menggiring sapi, dan ketika pulang kerja, ia tidak berusaha menyembunyikan kelelahannya. Namun, setelah makan malam, ia berlutut, menyandarkan sikunya pada kursi, dahinya di antara kedua tangannya, tanpa sekali pun melirik anak-anaknya yang berkumpul di sekelilingnya, tanpa bergerak sedikit pun, tanpa batuk, tanpa kehilangan kesabaran. Dan saya berpikir dalam hati: ‘Ayahku, yang begitu kuat, yang memimpin rumah tangga dan kedua sapinya yang besar, yang tegak berdiri menghadapi kemalangan hidup dan sama sekali tidak takut kepada kepala desa, orang kaya, atau orang jahat — lihatlah ia membuat dirinya begitu kecil di hadapan Tuhan. Sungguh, berbicara dengan Tuhan mengubah dirinya. Sungguh, Tuhan pasti seseorang yang sangat agung jika ayahku berlutut di hadapan-Nya, tetapi juga seseorang yang sangat akrab sehingga orang dapat berbicara dengan-Nya sambil mengenakan pakaian kerja…’ Ibu saya. Sedangkan ibu saya, saya tidak pernah melihatnya berlutut. Karena terlalu lelah, ia duduk di tengah ruangan, dengan anak yang paling kecil dalam pelukannya, gaun hitamnya menjuntai sampai ke tumit, rambut cokelatnya yang indah tergerai di lehernya, dan semua anak berkumpul di sekelilingnya, bersandar padanya. Bibirnya mengikuti doa-doa dari awal sampai akhir; ia tidak mau melewatkan satu kata pun dan mendaraskannya pelan-pelan untuk dirinya sendiri. Yang paling mengesankan adalah matanya selalu tertuju pada kami; masing-masing dari kami berada dalam tatapannya. Tatapan yang lebih lama untuk yang paling kecil. Ia memandangi kami tetapi tidak berkata apa-apa, bahkan ketika yang kecil-kecil bergerak-gerak dan berbisik, bahkan ketika guntur menggelegar di atas rumah, bahkan ketika kucing menjatuhkan panci. Dan saya berpikir dalam hati, ‘Sungguh, Tuhan sangat baik jika orang dapat berbicara kepada-Nya sambil menggendong anak dan masih mengenakan celemek kerja. Sungguh, Tuhan adalah seseorang yang penting jika kucing dan guntur pun tidak lagi berarti.’ Tangan ayah saya dan bibir ibu saya — itulah yang mengajarkan kepada saya tentang Tuhan lebih banyak daripada katekismus. Ia adalah Seseorang; Ia adalah Seseorang yang dekat dengan kita. Kita dapat berbicara dengan-Nya bahkan setelah bekerja.”20

36Kisah yang menyentuh tentang inisiasi sederhana dan penuh sukacita anak-anak kecil ke dalam misteri Allah, yang dimungkinkan oleh kesaksian orang tua mereka, sepenuhnya meneguhkan suatu wawasan yang berulang kali ditekankan oleh Paus Fransiskus: di dalam keluarga, iman harus diteruskan “dalam bahasa ibu” (in dialetto). Pada Pesta Pembaptisan Tuhan, 7 Januari 2018, beliau menyapa para orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk dibaptis dengan kata-kata ini: “Saya hanya ingin mengatakan satu hal, yang menyangkut Anda [para orang tua]: penerusan iman hanya dapat dilakukan ‘dalam bahasa ibu’, dalam bahasa keluarga, dalam bahasa ayah dan ibu, kakek dan nenek. Kemudian para katekis akan datang untuk mengembangkan penerusan pertama ini, dengan gagasan-gagasan, dengan penjelasan-penjelasan… Tetapi jangan lupa: penerusan itu dilakukan ‘dalam bahasa ibu’, dan jika bahasa itu tidak ada, jika di rumah bahasa kasih itu tidak dipakai di antara orang tua, maka penerusan iman tidak mudah; ia tidak dapat terjadi. Jangan lupa. Tugas Anda adalah meneruskan iman, tetapi melakukannya dengan bahasa kasih rumah Anda, keluarga Anda.”21 Hal ini juga ditekankan oleh Paus Leo XIV: “Katekis pertama kita adalah orang tua kita: mereka yang pertama kali berbicara kepada kita dan mengajar kita berbicara. Sebagaimana kita belajar bahasa ibu kita, demikian pula pewartaan iman tidak dapat diserahkan kepada orang lain; ia terjadi di tempat kita hidup, terutama di rumah kita, di sekitar meja keluarga. Bila ada suara, gerak, wajah yang menuntun kepada Kristus, keluarga mengalami keindahan Injil.”22

37Hingga belum lama ini, keluarga adalah lingkungan utama di mana iman berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Terutama orang tua merupakan “tabernakel” pertama di mana anak-anak dapat menangkap seluruh keindahan dan kekuatan menjadi murid Tuhan Yesus. Kesaksian ini terwujud dalam pola gerak-gerik sederhana sehari-hari: doa pribadi dan doa sebagai pasangan suami-istri, membaca Injil, mengingat sabda dan karya Yesus, mengenang para santo pelindung, terus-menerus memohon perlindungan keibuan Perawan Maria, ikut serta dalam Misa hari Minggu, mengunjungi tempat-tempat ziarah dan berbagai bentuk kesalehan umat, kepedulian kepada kaum miskin dan yang tersisih, doa syukur sebelum makan, memohon berkat Tuhan pada hari ulang tahun anggota keluarga, dan persiapan kandang Natal dengan penuh devosi pada masa Natal.

38Namun, harus dicatat bahwa situasi yang menguntungkan ini perlahan-lahan menghilang. Sungguh, sebagaimana akan dibahas lebih rinci di bawah, salah satu ciri khas zaman kita adalah bahwa, meskipun masih penting di beberapa wilayah Afrika dan Asia, penerusan iman di dalam keluarga telah terputus di banyak bagian dunia.23 Akibatnya, penerusan pengalaman iman Kristiani kepada generasi-generasi baru tidak lagi terjadi, boleh dikatakan, secara “otomatis”.

Komunitas Gerejawi

39Baru pada titik ini, sebagai tahap kedua, komunitas gerejawi masuk ke dalam proses penerusan iman. Apa yang telah diterima seseorang dari orang tuanya — yakni kesaksian iman akan Yesus, yang sepenuhnya menyingkapkan wajah kasih Allah yang tak terbatas, yang membebaskan manusia dari kegelapan dan membuka mereka kepada terang sejati kehidupan — menemukan dalam Gereja sarana dan kesempatan untuk menjadi prinsip penuntun cara orang itu memandang dunia. Melalui katekese, perayaan sakramen-sakramen, berbagai ruang yang mendorong partisipasi aktif dalam kehidupan komunitas (sebagaimana diusulkan oleh perjalanan sinodal saat ini), komitmen kepada mereka yang paling berkekurangan, dan berkumpul di rumah Tuhan pada hari Minggu, orang mencapai kedewasaan iman yang pada akhirnya berarti memandang segala sesuatu “dengan mata Yesus”.

40Sungguh, berkat upaya terpadu orang tua dan komunitas gerejawi, setiap orang belajar bahwa “dalam iman, Kristus bukan hanya Dia yang kita imani, penyataan tertinggi kasih Allah; Ia juga Dia yang dengan-Nya kita dipersatukan justru supaya kita dapat beriman. Iman tidak hanya memandang Yesus, tetapi melihat segala sesuatu sebagaimana Yesus sendiri melihatnya, dengan mata-Nya sendiri.”24 Inilah puncak proses yang di sini kita sebut penerusan iman: memampukan setiap orang mencapai keakraban sedemikian rupa dengan Tuhan Yesus sehingga ia akhirnya dapat memandang dirinya sendiri, sesama, dunia, dan misteri Allah dengan mata Yesus sendiri. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pendampingan komunitas sangat penting bukan hanya untuk menerima Injil, tetapi juga untuk tetap setia pada anugerah yang telah diterima, sebab sangat sulit untuk bertekun seorang diri.

41Harus diakui pula bahwa, di negara-negara dengan tradisi Kristiani yang panjang, konteks penerusan iman semacam itu dewasa ini tampak melemah, karena semakin ditandai oleh kehadiran “‘orang-orang yang dibaptis tetapi hidupnya tidak mencerminkan tuntutan baptis’, yang tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan Gereja dan tidak lagi mengalami penghiburan yang lahir dari iman. Gereja, dalam keprihatinan keibuannya, berusaha membantu mereka mengalami pertobatan yang akan memulihkan sukacita iman dalam hati mereka dan membangkitkan komitmen kepada Injil.”25 Lebih jauh, terutama di kalangan orang muda, jumlah mereka yang tidak mengenal Yesus dan Injil semakin bertambah.

42Justru karena alasan inilah, penerusan iman dewasa ini secara khusus menuntut evangelisasi orang dewasa dan suatu langkah melampaui karya pastoral yang hanya berfokus pada katekese anak-anak dan remaja.

Bab III — Perubahan Zaman

43Perhatian khusus harus diberikan pada konteks penerusan iman — pokok Pertimbangan-pertimbangan ini — sebagaimana diungkapkan melalui konsep “perubahan zaman”. Sebagaimana diketahui, Paus Fransiskuslah yang membuat ungkapan ini terkenal dalam sambutannya kepada Kuria Roma pada kesempatan saling bertukar ucapan Natal, 21 Desember 2019, dengan menyatakan: “Apa yang sedang kita alami bukan sekadar suatu zaman perubahan, melainkan suatu perubahan zaman. Kita hidup pada masa ketika perubahan tidak lagi linier, tetapi menandai pergantian zaman. Perubahan itu menyangkut keputusan-keputusan yang dengan cepat mengubah cara kita hidup, berelasi satu sama lain, berkomunikasi dan berpikir, cara generasi-generasi berhubungan satu sama lain, serta cara kita memahami dan menghayati iman dan ilmu pengetahuan.”26 Sebagaimana sudah dicatat lebih dari sepuluh tahun sebelumnya oleh Dokumen Akhir Konferensi Umum Kelima para Uskup Amerika Latin dan Karibia, yang diselenggarakan pada Mei 2007 di Aparecida, Brasil, “tingkat terdalam” dari perubahan ini “adalah budaya. Pandangan menyeluruh tentang manusia, dalam relasinya dengan dunia dan dengan Allah, sedang memudar.”27

44Situasi ini pada dasarnya terkait dengan krisis model budaya modernitas, yang terutama memengaruhi konteks Eropa. Karena itu, orang dapat bertanya apakah berbicara tentang “perubahan zaman” dalam bentuk tunggal sungguh menangkap proses-proses yang kini dihadapi Gereja-gereja di seluruh dunia. Jawaban atas pertanyaan ini tanpa ragu adalah ya, setidaknya dari sudut pandang umum, karena alasan-alasan yang berkaitan dengan fenomena globalisasi yang telah dikenal luas, yang turut menyebarkan pengaruh budaya Barat ke setiap wilayah bumi. Lagi pula, tidak dapat disangkal bahwa pengalaman-pengalaman tertentu, seperti tragedi pandemi COVID-19, telah memperkuat kesadaran luas akan kebersamaan sebagai satu keluarga, meskipun tidak sedikit pula kecenderungan yang bergerak ke arah sebaliknya.28

45Mendesaknya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan oleh perubahan zaman ini juga diungkapkan oleh Paus Leo XIV dalam surat ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas: “Kita sedang melewati suatu fase peralihan yang cepat, suatu ‘pergantian zaman’, di mana — sementara sebagian orang berebut masa depan teknologi-teknologi baru dan sebagian lain membaktikan diri untuk merenungkan persoalan ini — kebanyakan orang hanya menonton dan menunggu, mengamati dari jauh dan sekadar berharap yang terbaik. Justru karena itu, pertanyaan-pertanyaan penting mendesak hati nurani kita dan tidak dapat lagi dihindari: Ke manakah kita pergi? Ke arah tujuan apa kita ingin mengarahkan diri? Arah mana yang hendaknya kita pilih sebagai suatu bangsa dan sebagai komunitas manusia?”29 Bapa Suci menyoroti ciri-ciri umum perubahan ini: “Kecerdasan artifisial dan inovasi-inovasi lainnya sedang membentuk ulang pemahaman kita tentang kerja dan relasi, bahkan memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang identitas manusia. Kerusakan ekologis mengancam rumah kita bersama. Sistem-sistem politik sering gagal menanggapi jeritan kaum miskin. Populisme dan polarisasi ideologis memperdalam perpecahan di dalam dan di antara bangsa-bangsa. Banyak orang terpengaruh oleh konsumerisme, individualisme, dan sikap acuh tak acuh.”30 Pada tantangan-tantangan ini dapat ditambahkan juga semakin melebarnya ketimpangan ekonomi, yang sering mengakibatkan destabilisasi seluruh wilayah. Inilah faktor-faktor global yang membawa perubahan sosial yang mendalam. Transformasi semacam itu memengaruhi hampir setiap konteks budaya dan tidak luput pula Gereja, karena Gereja berinkarnasi dalam sejarah dan ambil bagian dalam kehidupan bangsa-bangsa.

46Di satu sisi, daya tarik gaya hidup yang nyaman secara ekonomi dan aspirasi yang sah akan kondisi hidup yang lebih baik, yang semakin didorong oleh perkembangan teknologi yang dibahas di atas, turut menyebarkan pola pikir materialistis dan individualistis di semua benua. Bersama faktor-faktor lain, dinamika ini memicu fenomena global migrasi, yang sering ditandai oleh keadaan-keadaan dramatis. Di sisi lain, proses-proses yang sama telah mendorong munculnya, bahkan di negara-negara dengan sejarah evangelisasi yang panjang, konteks multikultural di mana, di samping sekularisme, berbagai bangsa, masing-masing dengan pandangan budayanya sendiri, hidup berdampingan dan menghadapi tantangan hidup bersama secara damai. Karena itu, harus diakui bahwa dinamika ini tidak dialami secara seragam di berbagai wilayah dunia. Demikian pula, penting ditekankan bahwa relasi dengan modernitas Barat — yang terutama mencirikan suatu profil tertentu Gereja — diolah secara berbeda sesuai dengan budaya tempat berbagai komunitas Kristiani berada. Paus Leo XIV mengakui kenyataan ini ketika beliau berkata, “Umat Allah tidak hanya dihimpun dari banyak bangsa, tetapi juga terjalin melalui berbagai fungsi, panggilan, budaya, dan tradisi, yang masing-masing dipanggil untuk saling mendukung dan memperkaya. […] Ketegangan yang subur antara universalitas perutusan Gereja dan akar-akar lokalnya merupakan aspek hakiki hidupnya, sebab Gereja merangkul seluruh dunia sambil menanggapi persoalan-persoalan khusus setiap konteks sebagai tempat nyata di mana Injil mengambil rupa.”31 Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa salah satu aspek paling penting dari perubahan zaman ini menyangkut terbentuknya relasi baru antara iman — dan dengan demikian penerusannya — dan budaya-budaya.

Krisis dalam Penerusan Iman

47Salah satu ciri khas perubahan zaman yang, karena berbagai alasan, terutama memengaruhi Barat — yakni negara-negara di mana iman Kristiani memiliki makna sosiologis yang dominan — adalah krisis dalam penerusan iman Kristiani antargenerasi. Hal ini sudah disoroti dalam Evangelii Gaudium: “Kita juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi keterputusan dalam cara umat Katolik meneruskan iman Kristiani kepada kaum muda. Tidak dapat disangkal bahwa banyak orang merasa kecewa dan tidak lagi mengidentifikasikan diri dengan tradisi Katolik. Semakin banyak orang tua yang tidak membawa anak-anak mereka untuk dibaptis atau tidak mengajar mereka berdoa. Ada juga semacam eksodus menuju komunitas-komunitas iman lain.”32

48Hal ini berkaitan erat — terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada, tetapi juga di Australia dan Selandia Baru — dengan tahap sekularisasi yang sudah lanjut, yang telah menyebabkan krisis serius dalam penghayatan kekristenan di dalam rumah tangga. Sesungguhnya, semakin sedikit orang tua yang memenuhi tanggung jawab mereka untuk memperkenalkan anak-anak kepada terang hidup pesan Injil. Justru dari lingkungan keluarga seperti inilah datang sebagian besar orang muda yang, meskipun pernah menjadi bagian dari komunitas paroki Katolik, akhirnya memasuki usia dewasa dalam keadaan acuh tak acuh secara religius. Bagi mereka yang, meskipun dibaptis, telah kehilangan makna Kristiani dari hidup, Yesus — pesan kasih-Nya, terang yang Ia bawa ke dalam sejarah manusia — bukanlah unsur hakiki identitas mereka, bukan pula penuntun yang dapat diandalkan untuk menegaskan bagaimana menjalani hidup yang layak bagi martabat manusia.

49Namun, hal ini tidak hanya menyangkut apa yang disebut Barat yang maju. Di Eropa Timur, misalnya, yang mengalami cobaan berat di bawah rezim totaliter komunis dan pembentukan masyarakat berdasarkan ateisme negara — yang dampaknya tidak sama di mana-mana — generasi orang tua masa kinilah yang mengalami terputusnya penerusan iman. Hal ini dibuktikan terutama oleh para uskup dari wilayah bekas Uni Soviet, yang mengamati “bahwa iman telah diteruskan dari para nenek […] kepada para cucu, tetapi tanpa keterlibatan langsung generasi tengah. Akibatnya, generasi cucu tidak melihat orang tua mereka menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari.”33 Kesaksian serupa juga diberikan oleh para uskup Albania.34 Para uskup Gereja Katolik Yunani Hongaria pun menyimpulkan: “Kita tidak dapat lagi menganggap begitu saja bahwa orang tua akan secara otomatis meneruskan iman kepada anak-anak mereka. Apa yang terbukti efektif di masa lalu tidak lagi menghasilkan buah yang sama dalam situasi sekarang.”35

50Terputusnya penerusan iman di dalam keluarga ini juga tampak di Amerika Latin dan Karibia, di mana hal itu terutama terwujud sebagai gangguan terhadap kesinambungan organis antara keluarga dan masyarakat. Sungguh, sebagaimana diamati para uskup Chili: “Selama puluhan tahun, orang menganggap begitu saja bahwa ada kesinambungan antara keluarga, sekolah, budaya, dan komunitas gerejawi. Dalam konteks itu, iman dapat dilukiskan sebagai sesuatu yang diteruskan secara relatif organis, dari satu generasi ke generasi berikutnya.”36 Dalam hal ini, para uskup Antilla mencatat melemahnya kesinambungan antargenerasi,37 khususnya dalam kaitan dengan katekese dan praktik sakramental. Dalam konteks lain, seperti Panama, di mana iman masih sangat hidup dalam ungkapan-ungkapan populer dan dalam momen-momen penting kehidupan, ada kesadaran bahwa iman “tidak lagi diteruskan secara alami di dalam keluarga.”38 Di Kolombia, seperti di bagian lain dunia, para kakek-nenek membantu menutupi kekurangan dalam katekese di rumah, di samping apa yang diberikan paroki.39 Namun, di wilayah lain, karena alasan-alasan yang berkaitan dengan budaya setempat, baptisan anak-anak bahkan ditunda sampai mereka mencapai usia yang lebih matang, seperti halnya di Amazonia Peru.40 Pada akhirnya, semua laporan ini menunjukkan bahwa semacam penerusan iman yang “otomatis” sudah tidak ada lagi.

51Masalah serupa juga memengaruhi sebagian besar Gereja di Asia, terutama di wilayah-wilayah yang paling maju secara teknologi. Namun, dalam kasus-kasus semacam itu, kekristenan selalu berada dalam posisi minoritas dalam masyarakat, dan baru belakangan ini mulai mengalami beberapa kesulitan dalam penerusan iman di dalam keluarga. Di Korea Selatan, misalnya, para uskup mencatat bahwa karena orang tua terutama memusatkan perhatian pada prestasi akademis dan karier profesional anak-anak mereka, tanggung jawab katekese bagi anak-anak dan orang muda sebagian besar jatuh ke tangan para kakek-nenek.41 Para uskup Malaysia, Singapura, dan Brunei juga menyesalkan prioritas yang diberikan pada tuntutan karier, sementara pembinaan rohani semakin diserahkan pada penggunaan media modern secara pribadi.42 Situasi serupa terdapat di Bangladesh, bahkan menjadi lebih tajam karena konteks sosial yang mayoritas Muslim.43 Di Jepang, sebaliknya, kesulitan yang dihadapi dalam beberapa hal mirip dengan yang dialami dunia Barat, terutama berkaitan dengan katekese paroki dan banyaknya perkawinan antara orang-orang dari tradisi keagamaan yang berbeda, yang sampai taraf tertentu dapat menghambat penerusan iman di dalam rumah tangga.44 Hal ini juga terjadi di negara-negara Asia Tengah yang dulu termasuk blok Soviet. Di sana, Gereja tetap menjadi kehadiran minoritas dan menghadapi kondisi yang mirip dengan yang dialami komunitas-komunitas di Eropa Timur, di mana suatu “Gereja Bisu”45 bertahan selama beberapa dasawarsa di bawah rezim totaliter.

52Meskipun konteksnya sangat beragam, Afrika pun tidak kebal terhadap dinamika yang mengganggu penerusan iman antargenerasi. Hal ini terutama disebabkan oleh semacam sekularisasi cara hidup yang dibawa oleh pengaruh gaya hidup Barat, yang dianut generasi muda. Faktor-faktor lain juga berperan, terutama yang berkaitan dengan relasi dengan budaya-budaya setempat. Secara khusus, dapat dicatat bahwa inkulturasi Injil yang belum tuntas — meskipun ungkapan-ungkapan publik agama masih dominan dalam kehidupan sosial — menghasilkan iman yang dangkal: iman yang tidak berakar dan lebih mudah terpapar pengaruh dari luar. Para uskup Afrika Selatan membenarkan kenyataan ini: “Meskipun kekristenan telah menyebar luas, sering kali ia tetap berada di tingkat permukaan, sehingga diperlukan inkarnasi Injil yang lebih mendalam dalam spiritualitas Afrika.”46 Akibatnya, salah satu tantangan utama penerusan iman — tantangan yang dijumpai di seluruh benua Afrika — menyangkut persaingan yang semakin kuat dan agresif dari berbagai jenis gerakan keagamaan, disertai kembalinya praktik-praktik keagamaan tradisional, bahkan di kalangan mereka yang sudah dibaptis.47

53Tanpa masuk ke dalam kompleksitas sebab-sebab yang menimbulkan transformasi-transformasi ini, dalam konteks inilah — suatu penataan ulang yang sungguh-sungguh atas kondisi-kondisi dasar keberadaan manusia — krisis penerusan iman antargenerasi, dan tantangan yang ditimbulkannya bagi Gereja, harus dipahami. Di masa lalu, kondisi-kondisi ini ditafsirkan terutama melalui lensa kekristenan, baik dalam masyarakat secara keseluruhan maupun di dalam komunitas-komunitas tertentu. Secara lebih umum, harus diakui bahwa yang sedang dalam krisis bukan hanya penerusan iman, tetapi juga suatu visi tertentu tentang pribadi manusia dan nilai-nilai dasarnya — suatu visi yang justru menemukan kepenuhannya dalam Injil. Krisis modernitas, yang menjadi ciri khas perubahan zaman ini, dengan demikian turut melahirkan suatu budaya baru yang bersaing dengan struktur-struktur tradisional yang melaluinya iman diteruskan. Hal ini, pada gilirannya, membawa krisis apa yang disebut model Kristendom, disertai, di berbagai bagian dunia, oleh persepsi luas bahwa pelayanan para imam sering terbatas pada “pemeliharaan” struktur-struktur yang ada, padahal dunia di sekitar mereka telah berubah secara radikal.

Suatu Budaya Baru yang Meluas

54Bertolak dari situasi ini, Evangelii Gaudium mengajak kita untuk mengakui hal berikut: “Budaya-budaya baru terus lahir di wilayah-wilayah baru yang luas [kota-kota metropolitan] ini, di mana orang Kristiani tidak lagi menjadi penafsir atau pencipta makna seperti biasanya. Sebaliknya, mereka sendiri mengambil dari budaya-budaya ini bahasa, simbol, pesan, dan paradigma baru yang menawarkan pendekatan baru terhadap hidup, pendekatan yang sering bertentangan dengan Injil Yesus. Suatu budaya yang sama sekali baru telah lahir dan terus bertumbuh di kota-kota. Sinode [tahun 2012 tentang Evangelisasi Baru] mencatat bahwa dewasa ini perubahan-perubahan yang terjadi di ruang-ruang besar ini dan budaya yang mereka ciptakan merupakan tempat istimewa bagi evangelisasi baru. Hal ini menantang kita untuk membayangkan ruang dan kemungkinan yang inovatif bagi doa dan persekutuan, yang lebih menarik dan bermakna bagi penghuni kota. Melalui pengaruh media, daerah pedesaan juga terkena perubahan budaya yang sama, yang secara berarti mengubah cara hidup mereka pula.”48

55Karena itu, persoalan penerusan iman harus dipertimbangkan dalam konteks budaya yang belum pernah ada sebelumnya itu, yang dewasa ini menyebar dari pusat-pusat kota ke pinggirannya dan bahkan menjangkau daerah pedesaan. Budaya ini menjalankan pengaruh yang meresap dan mendalam, sebagaimana diamati para uskup Amerika Serikat: dewasa ini umat beriman “cenderung lebih terserap ke dalam budaya daripada ke dalam iman. Budaya, melalui media sosial dan wacana publik, pada gilirannya membentuk cara umat Katolik […] berpikir lebih daripada iman, tradisi, dan devosi Katolik.”49 Fenomena yang sama dapat diamati di banyak konteks lain, terutama yang paling kuat dipengaruhi oleh budaya Barat dan gaya hidup perkotaan. Sebagaimana diperingatkan para uskup Rumania, sekularisasi yang cepat dalam masyarakat-masyarakat ini berarti bahwa “ketiadaan praktik keagamaan tidak lagi dipandang secara sosial sebagai suatu kekurangan yang perlu dibenarkan.”50 Karena itu, di negara-negara dengan sejarah evangelisasi yang panjang, kini dapat dibicarakan tentang masyarakat pasca-Kristiani.

56Kecenderungan dominan dari budaya yang belum pernah ada sebelumnya ini tampaknya adalah peninggian “kedaulatan diri”, yang menegaskan otonomi dan kebebasannya untuk menentukan setiap aspek keberadaannya sendiri, sambil menundukkan sesama manusia dan kenyataan di sekitarnya kepada kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Kecenderungan ini mencerminkan menyebarnya individualisme yang semakin kuat, yang melahirkan pemisahan, perpecahan, iri hati, kecemburuan, dominasi, narsisisme, dan pemujaan diri. Dalam hal ini, terlintas kata-kata kuat ensiklik Fratelli Tutti: “Individualisme tidak membuat kita lebih bebas, lebih setara, lebih bersaudara. Sekadar penjumlahan kepentingan-kepentingan individual tidak mampu melahirkan dunia yang lebih baik bagi seluruh keluarga manusia. Individualisme juga tidak dapat menyelamatkan kita dari banyak penyakit yang kini semakin mengglobal. Individualisme radikal adalah virus yang sangat sulit dibasmi, sebab ia licik. Ia membuat kita percaya bahwa segala sesuatu bergantung pada memberi keleluasaan penuh kepada ambisi kita sendiri, seakan-akan dengan mengejar ambisi yang semakin besar dan menciptakan jaring-jaring pengaman, kita entah bagaimana melayani kesejahteraan umum.”51

57Individualisme yang meluas ini barangkali merupakan salah satu dampak paling nyata dari proses sekularisasi panjang yang telah membentuk secara mendalam kesadaran manusia masa kini, khususnya dalam konteks Barat, dan merampas darinya keluasan serta cakrawala transendensi. Sebagaimana dinyatakan dalam Evangelii Gaudium, “Proses sekularisasi cenderung mereduksi iman dan Gereja ke dalam lingkup privat dan pribadi. Selain itu, dengan sepenuhnya menolak yang transenden, proses ini telah menghasilkan kemerosotan etika yang semakin parah, melemahnya kesadaran akan dosa pribadi dan kolektif, serta meningkatnya relativisme secara terus-menerus. Semua ini telah menimbulkan disorientasi umum, terutama pada masa remaja dan dewasa muda yang begitu rentan terhadap perubahan.”52

58Semua ini tentu berdampak pada proses penerusan iman. Di antara fenomena yang disoroti para uskup, selain kesulitan-kesulitan yang telah disebut berkaitan dengan keluarga, adalah keterpisahan mendasar antara individu dan komunitas. Sebagaimana diamati para uskup Spanyol: “Individu dan keluarga menanggung akibat krisis budaya dan sosial yang menyertai proses ini, dan pada gilirannya menjadi penyebabnya, karena melemahnya penerusan iman dan putusnya ikatan-ikatan yang hakiki bagi kehidupan bermasyarakat.”53 Artinya, individu kesulitan untuk masuk ke dalam suatu tradisi yang mendahuluinya, ke dalam suatu “kita” yang membentuk bukan hanya cara berpikir dan merasa, tetapi juga imannya. Akibatnya, terutama orang muda menjadi semakin rentan terhadap tren-tren sesaat, sebagaimana diamati para uskup Brasil: “Hilangnya secara bertahap rasa memiliki terhadap Gereja, ditambah menyebarnya bentuk-bentuk religiositas yang subjektif, telah melemahkan proses-proses tradisional inisiasi Kristiani. Dalam konteks ini, tidak dapat lagi dianggap begitu saja bahwa baptis secara otomatis menghasilkan iman yang dewasa yang terintegrasi dalam kehidupan komunitas.”54 Akibatnya, dalam konteks semacam itu, iman dipandang terutama sebagai urusan pribadi, sebagaimana ditekankan para uskup Austria: “Agama semakin diprivatisasi dalam masyarakat kita, dengan kecenderungan untuk menyingkirkannya dari ruang publik. […] Tidaklah mungkin, boleh dikatakan, mengubur pengalaman Kristiani di dalam hati tanpa hal itu berdampak pada kenyataan dunia dan masyarakat.”55 Hal ini semakin diperparah di negara-negara seperti Prancis dan Kanada, di mana sekularisme juga diungkapkan pada tingkat perundang-undangan, yang membatasi kebebasan mengungkapkan iman di ruang publik.

Teknologi Digital

59Salah satu tanda paling nyata dari perubahan zaman yang sedang kita alami tak diragukan lagi adalah meluasnya teknologi digital. Sebagaimana diamati Paus Leo XIV dalam Magnifica Humanitas, teknologi-teknologi ini telah memunculkan “suatu situasi baru. Kekuatan dan keberadaan teknologi-teknologi yang sedang berkembang telah terjalin dalam tenunan kehidupan sehari-hari, membentuk proses pengambilan keputusan dan sangat memengaruhi imajinasi kolektif.”56 Secara khusus, dokumen itu melanjutkan, “meresapnya media digital menumbuhkan budaya serba-instan dan stimulasi berlebihan, yang melahirkan kelelahan, kebosanan, dan apatisme terhadap upaya yang dibutuhkan untuk mencari kebenaran.”57 Sebagaimana sudah dicatat Sinode tentang Sinodalitas dalam Laporan Sintesis Sidang Pertama (2023): “Budaya digital merupakan perubahan mendasar dalam cara kita memahami kenyataan dan, akibatnya, dalam cara kita berelasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan lingkungan kita, bahkan dengan Allah.”58 Terutama di kalangan generasi muda, budaya ini ditandai bukan hanya, sebagaimana sering ditekankan, oleh akses yang lebih luas kepada pengetahuan, tetapi juga oleh pergeseran dalam kategori-kategori berpikir itu sendiri dan, pada akhirnya, dalam cara kita berelasi dengan kenyataan. Lebih jauh, jika kita mempertimbangkan skenario-skenario yang dibuka oleh hadirnya kecerdasan artifisial, muncul risiko yang semakin konkret — sebagaimana diingatkan Bapa Suci — bahwa budaya semacam itu “mengancam untuk secara radikal mengubah beberapa pilar dasar peradaban manusia yang kadang-kadang dianggap sudah semestinya. Dengan menirukan suara dan wajah manusia, kebijaksanaan dan pengetahuan, kesadaran dan tanggung jawab, empati dan persahabatan, sistem-sistem yang dikenal sebagai kecerdasan artifisial tidak hanya mencampuri ekosistem informasi tetapi juga merambah ke tingkat komunikasi yang paling dalam: tingkat relasi antarmanusia. Karena itu, tantangannya bukan teknologis, melainkan antropologis.”59 Hal ini membawa konsekuensi penting bagi inkulturasi iman.

60Meluasnya teknologi digital dan kemajuan kecerdasan artifisial tentu saja juga memengaruhi iman dan agama. Di satu sisi, dunia digital menawarkan banyak kesempatan bagi orang untuk membagikan kesaksian hidup dan pengalaman rohani mereka, dan memungkinkan isi katekese disebarluaskan jauh lebih luas daripada yang pernah dimungkinkan oleh sarana-sarana di masa lalu; di sini, teknologi-teknologi baru tak diragukan lagi membuka kemungkinan yang belum pernah ada bagi evangelisasi. Namun, di sisi lain, dalam beberapa konteks, ajakan kepada iman berisiko menjadi tak berwujud, terlepas dari kehidupan konkret, atau terikat pada ideologi-ideologi yang dipromosikan oleh minoritas yang lantang. Hal ini dapat mengakibatkan distorsi iman itu sendiri atau hati nurani, atau dapat membuat orang membangun apa yang disebut iman “racikan sendiri”, yang dibentuk oleh selera dan preferensi mereka sendiri dan bukan oleh ajaran Gereja.

61Lebih jauh, telah dicatat bahwa budaya digital cenderung membentuk ulang kategori-kategori dasar pemikiran tertentu — seperti ruang, waktu, dan otoritas — yang merupakan unsur-unsur hakiki dari konsep tradisi itu sendiri. Karena itu, ketika pemahaman kita tentang tradisi berubah, penerusan iman pun mau tidak mau berubah sampai ke dasar-dasarnya. Mengenai ruang, sebagaimana telah disebut, rasa memiliki terhadap suatu lingkungan lokal yang konkret akan melemah, meskipun tidak hilang sama sekali, karena orang sekaligus tertanam dalam suatu jaringan global di mana jarak fisik tampak direlativisasi, bahkan sepenuhnya diatasi. Mengenai waktu, makna ingatan itu sendiri akan berubah; kenyataan bahwa semua konten yang diunggah ke internet tetap tersimpan di sana tanpa batas waktu, ditambah cepatnya laju pertukaran antarpribadi, turut menyebabkan hilangnya kesadaran sejati akan sejarah dan masa lalu, karena segala sesuatu diratakan menjadi semacam masa kini yang abadi. Hal ini membuat para pengguna internet sangat rentan terhadap tren-tren sesaat.

62Mengenai tema otoritas, kita harus memperhatikan dengan saksama peringatan yang disampaikan Paus Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas: “Sarana-sarana yang dapat menumbuhkan dialog dan partisipasi sering digunakan untuk membangun narasi yang terdistorsi dan mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan, mencampuradukkan fakta dengan opini. Disinformasi tidak dimulai dengan AI, tetapi dewasa ini menemukan dalam AI suatu penguat yang dahsyat. Kemampuan memanipulasi konten, gambar, dan video menghadapkan orang pada perspektif yang bias atau menyesatkan. Masalah ini memiliki dimensi budaya dan moral, karena mutu komunikasi publik bergantung langsung pada kepercayaan sosial dan, pada gilirannya, membentuknya. Pada saat yang sama, informasi yang benar tidak lahir dari kontrol yang terpusat atau otomatis. Dalam wacana publik, kebenaran fakta memiliki dimensi rasional, karena menuntut verifikasi, pengecekan silang sumber, dan argumentasi yang bertanggung jawab. Lebih dari itu, kebenaran itu sangat relasional, dibangun melalui ikatan kepercayaan dan praktik bersama, serta melalui pertukaran yang jujur dengan sesama dan dengan dunia.”60 Akibatnya, akses yang luas kepada berbagai sumber pengetahuan, bersamaan dengan hadirnya begitu banyak suara yang semuanya ditempatkan pada tingkat yang sama — di mana satu-satunya faktor pembeda adalah efektivitas komunikasi — menjadi ancaman serius bagi kredibilitas lembaga-lembaga tradisional, karena bagi banyak orang tidak lagi jelas siapa yang sungguh mampu berbicara dengan otoritas tentang persoalan-persoalan mendasar kehidupan manusia.

Batas-batas Baru Evangelisasi

63Namun, pandangan realistis atas situasi ini tidak boleh membuat kita putus asa tentang masa depan Gereja. Di antara peluang yang ditawarkan Roh Kudus dalam konteks perubahan zaman dewasa ini, sesungguhnya, adalah suatu ketaatan iman yang lebih sadar dan lebih yakin, sebagaimana ditegaskan para uskup Belgia: hal itu merupakan “peluang positif untuk memungkinkan orang membuat pilihan sadar untuk memperdalam iman mereka.”61 Sikap serupa juga dapat ditemukan dalam konteks yang secara geografis jauh, seperti Chili, yang para uskupnya mengamati bahwa “iman tidak lagi dapat dianggap begitu saja sebagai warisan budaya yang stabil, atau sebagai keterikatan spontan pada suatu semesta simbolis bersama. Sebaliknya, iman tampil sebagai suatu tawaran yang harus diterima secara bebas, didampingi melalui berbagai jalan, dan diuji pada tataran eksistensial.”62 Lebih jauh, kita tidak boleh mengabaikan suatu fenomena yang terjadi di wilayah-wilayah paling sekuler di Eropa dan Amerika: semakin banyaknya pertobatan dan kembalinya orang ke Gereja, terutama di kalangan orang muda dan dewasa muda. Yang sangat patut dicatat adalah kasus Prancis, di mana, meskipun baptisan bayi dan praktik keagamaan secara umum menurun, terjadi peningkatan luar biasa dan terus-menerus dalam permohonan orang muda dan dewasa untuk menerima Sakramen Baptis. Menurut survei yang dilakukan atas nama Konferensi Waligereja Prancis, jumlah orang dewasa yang dibaptis pada tahun 2026 meningkat 28% dibandingkan tahun sebelumnya dan kini lebih dari tiga kali lipat angka tahun 2016. Sebagaimana telah disebut, fenomena ini terutama menyangkut generasi muda: sebagian besar berusia di bawah 40 tahun, dan sekitar separuhnya berada dalam kelompok usia 18 sampai 25 tahun. Menurut kesaksian-kesaksian pribadi yang dihimpun, motivasi untuk memohon sakramen ini mencakup perjumpaan dengan iman setelah masa krisis (seperti duka cita atau sakit), pengalaman rohani atau pengalaman akan keindahan, serta kontak dengan orang-orang beriman lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial.63

64Dari sudut statistik umum, fenomena ini masih menyangkut persentase yang relatif kecil dari keseluruhan penduduk; namun, hal ini tidak mengurangi kenyataan bahwa perkembangan ini sama sekali tidak dapat diabaikan dan selalu menjadi alasan untuk bersukacita. Namun, pandangan yang lebih luas atas situasi ini menyarankan pendekatan yang berhati-hati dalam menilai kenyataan ini. Sungguh, sementara terjadi peningkatan nyata dalam permintaan sakramen-sakramen inisiasi Kristiani di wilayah-wilayah yang sangat sekuler ini, ada pula kesulitan paralel menyangkut ketekunan para neofit, yang sering kali, tidak lama setelah dibaptis, kembali ke keadaan acuh tak acuh dalam praktik. Karena itu, sementara pantas menghindari sikap triumfalistis dalam hal ini, tidak dapat disangkal bahwa fenomena-fenomena ini merupakan tanda-tanda konkret pengharapan dan vitalitas Injili. Pada saat yang sama, situasi yang dilukiskan menuntut ditemukannya kembali pentingnya komunitas dalam menyambut dan mendampingi anggota-anggota baru umat beriman.

65Jelaslah bahwa, dalam kasus-kasus ini, pewartaan Injil — yang dilakukan dengan berbagai cara, dari mulut ke mulut dan ajakan untuk berziarah sampai kehadiran aktif di media baru — memungkinkan tanggapan atas suatu pencarian makna yang otentik, yang muncul kembali di tengah dampak imanensi yang menyesakkan. Pencarian semacam itu dapat mengambil banyak bentuk, dan tidak satu pun boleh diabaikan: pencarian akan keterbukaan hati yang lebih besar, kebutuhan akan damai dan keselarasan dengan dunia, kerinduan akan penghiburan dan penyembuhan, pengalaman keretakan dan konflik yang mendorong suatu awal yang baru, bentuk-bentuk keindahan yang baru, semacam penemuan kembali masa lalu dan tradisi, serta banyak contoh lain yang dapat disebutkan. Inilah kenyataan-kenyataan yang hendaknya kita pandang dengan rasa syukur, dengan mengenali di dalamnya karya Roh Kudus, yang terus berkarya dalam hati manusia.

66Dengan demikian, kebutuhan untuk meneruskan iman, mulai dari kerygma, tetap hakiki. Hal ini berlaku baik bagi negara-negara sekuler dengan tradisi Kristiani yang panjang maupun bagi negara-negara di mana Gereja umumnya merupakan minoritas, seperti halnya di Asia. Sesungguhnya, banyak negara Asia juga terpengaruh oleh sekularisasi dan individualisme, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat. Namun, dalam konteks-konteks itu, pengaruh budaya ini memengaruhi komunitas-komunitas umat beriman secara berbeda dibandingkan dalam masyarakat dengan tradisi Kristiani. Justru karena umat beriman sering merupakan minoritas dalam masyarakat masing-masing (dengan beberapa pengecualian penting, seperti Filipina dan Timor Leste), Gereja-gereja di Asia telah berkembang sebagai komunitas-komunitas yang secara sosiologis terdefinisi dengan jelas. Hal ini telah memperkokoh identitas yang kuat, yang memampukan mereka bertahan sepanjang sejarah, bahkan dalam konteks yang kadang-kadang bermusuhan atau ditandai penganiayaan terang-terangan. Dalam konteks perubahan zaman dewasa ini, kenyataan ini memiliki dua implikasi bagi penerusan iman: di satu sisi, komunitas-komunitas Kristiani tidak kebal terhadap budaya sekuler yang meluas yang dilukiskan di atas, yang akibatnya menggerus praktik keagamaan, terutama di kalangan generasi muda; di sisi lain, mereka dipanggil untuk melampaui komitmen kepada kekristenan yang hanya didasarkan pada kelembaman afiliasi sosial,64 sehingga kekristenan dapat menjadi pilihan pribadi dan sadar, yang mampu menuntun keputusan-keputusan dalam hidup. Hal ini terutama berlaku di wilayah-wilayah yang ditandai budaya-budaya kuno, seperti India dan Tiongkok, di mana upaya untuk mewujudkan pesan Injil dalam hidup orang harus berdialog dengan cara-cara khas suatu budaya berelasi dengan ranah-ranah seperti kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ditambah lagi kebutuhan untuk memikirkan kembali cara kita mewartakan Injil, dengan mengutamakan bentuk-bentuk naratif ketimbang sekadar penerusan konsep-konsep abstrak. Upaya ini hakiki untuk menyiapkan setiap hati manusia (bdk. Mat 13:3–8) bagi perjumpaan otentik dengan Kabar Baik.

67Meskipun situasi di benua yang luas ini sangat beragam, Afrika pun menghadapi masalah sekularisasi dan individualisme gaya Barat, yang terutama memengaruhi konteks perkotaan dan generasi muda. Namun, di Gereja-gereja Afrika, tanggapan terhadap pengaruh budaya ini atas penerusan iman berlangsung dalam kerangka dua tantangan yang sama beratnya, yang telah disinggung sebelumnya: inkulturasi Injil ke dalam budaya-budaya setempat dan “persaingan” yang ditimbulkan oleh kegiatan proselitisme agama-agama lain. Para uskup Nigeria memberi kesaksian tentang pentingnya aspek pertama: “Kehadiran klerus pribumi yang cukup besar telah memudahkan penerusan iman di dalam budaya asal mereka, karena mereka berperan sebagai teladan dan pembimbing rohani yang dekat, yang secara efektif menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai tradisional Nigeria dan ajaran Katolik.”65 Prakarsa berharga lainnya adalah “Komunitas Kristiani Kecil” (Small Christian Communities), yang menurut laporan para uskup Tanzania “berfungsi sebagai unit utama untuk doa, katekese, dan persaudaraan. Iman sering diteruskan melalui pendekatan ‘komunitas-sebagai-keluarga’.”66

68Sebagaimana telah disebut, penerusan iman di Afrika (tetapi juga di tempat lain) dirugikan oleh kegiatan-kegiatan yang bertentangan dari kelompok-kelompok keagamaan yang mempromosikan “injil kemakmuran” dengan memanfaatkan kebutuhan-kebutuhan material yang mendesak. Di wilayah-wilayah seperti Pantai Gading, misalnya, orang mencari gerakan-gerakan yang menjanjikan kesejahteraan dan kebahagiaan, sementara banyak orang Kristiani yang sudah dibaptis kembali ke praktik-praktik tradisional dan esoteris.67

69Harus diakui bahwa daya tarik tawaran-tawaran semacam itu sering bersumber dari kekurangan-kekurangan objektif tertentu dalam cara Injil diwartakan, yang tidak selalu cukup memperhatikan kebutuhan nyata dan konkret keluarga-keluarga. Artinya, komunitas-komunitas Kristiani dipanggil untuk mencari cara-cara yang sehat untuk menyajikan Injil sebagai jawaban yang efektif bahkan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang paling nyata, mengikuti teladan Yesus, yang berkeliling di seluruh tanah Israel “sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang” (Kis 10:38), dan dengan demikian menunjukkan kemampuan-Nya menanggapi bukan hanya pertanyaan-pertanyaan terakhir, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan “pra-terakhir”. Sungguh, kerinduan-kerinduan semacam itu tidak selalu berakar pada keegoisan (misalnya, kepedulian akan kesejahteraan anak-anak, perhatian pada kesehatan, kerinduan untuk memulihkan ikatan keluarga, dan sebagainya). Menemukan bahwa Gereja dapat memberikan bantuan rohani yang konkret di hadapan keprihatinan-keprihatinan ini membuka hati untuk menerima pewartaan kerygmatis dengan semangat yang diperbarui.

70Namun, dalam konteks-konteks Afrika lainnya, seperti di Republik Demokratik Kongo, selain tekanan dari kelompok-kelompok fundamentalis, komunitas-komunitas Kristiani juga menghadapi ancaman ekspansi agresif kelompok-kelompok Islamis.68 Semua faktor ini memengaruhi banyak orang beriman yang belum menerima pembinaan iman yang kokoh atau belum secara pribadi mengalami daya transformatif kerygma dalam hidup mereka.

71Akhirnya, kita tidak dapat berdiam diri tentang kenyataan bahwa, di banyak bagian dunia, orang-orang yang percaya kepada Yesus masih menjadi korban penganiayaan terang-terangan oleh kelompok-kelompok keagamaan ekstremis. Dalam hal ini, sangat mendesak untuk menegaskan kembali bahwa setiap bentuk kekerasan yang dilakukan atas dasar keyakinan agama merupakan pelanggaran martabat manusia yang tidak dapat diterima. Sungguh, “mereka yang menggunakan nama Allah untuk membenarkan terorisme, kekerasan, atau perang mengkhianati hakikat-Nya yang sejati, sebab berperang atas nama agama berarti menyerang agama itu sendiri.”69 Inilah distorsi-distorsi pesan keagamaan yang harus dikecam secara publik, dan setiap otoritas politik dipanggil untuk bertindak tanpa ragu untuk menghentikannya.

Bab IV — Sentralitas Kerygma

72Di hadapan situasi yang dilukiskan di atas, tampaknya sangat wajar bahwa umat beriman memulai suatu masa baru pewartaan Injil, akhirnya menanggapi apa yang diserukan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium tentang kebutuhan mendesak bagi seluruh Gereja untuk memulai suatu tahap baru evangelisasi. Seruan ini ditegaskan kembali oleh Paus Leo XIV, yang mengakui perlunya suatu perutusan yang “kristosentris dan kerygmatis”, yang “lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang mampu mengubah hidup dan menyebar melalui daya tarik, bukan penaklukan. Inilah perutusan yang integral, yang menjaga keseimbangan antara pewartaan eksplisit, kesaksian, komitmen, dan dialog, tanpa menyerah pada godaan proselitisme ataupun pada mentalitas yang semata-mata institusional untuk mempertahankan atau memperluas diri.”70 Kita melakukan ini bukan terutama untuk menanggapi suatu tantangan zaman yang baru, melainkan karena kesetiaan pada identitas Kristiani itu sendiri, yang dengan sendirinya mencakup penyerahan diri dalam meneruskan terang Kristus. Dengan semua ini dalam pandangan, layaklah merenungkan tema pewartaan kerygma dan bagaimana kerygma mengarahkan kembali kehidupan dan perutusan Gereja.

73Pewahyuan ilahi, sebagaimana diajarkan Konsili Vatikan II, bukan sekadar penerusan kebenaran-kebenaran doktrinal atau suatu “instruksi” dari Allah kepada umat manusia, melainkan suatu dialog perjanjian: “Allah yang tidak kelihatan, dari kelimpahan cinta kasih-Nya, menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya, dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya.”71 Artinya, kerygma — pewartaan dasar iman — menuntut dari mereka yang menerimanya suatu tanggapan yang tidak terbatas pada tataran intelektual, tetapi melibatkan seluruh keberadaan mereka dalam menerima panggilan Allah untuk ambil bagian dalam hidup-Nya sendiri. Justru karena tidak terbatas pada ranah pengetahuan saja, tetapi memiliki, boleh dikatakan, jangkauan eksistensial (bdk. Yoh 17:3), tanggapan semacam itu menurut hakikatnya merupakan peristiwa keselamatan: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm 10:9).

74Karena itu, kebenaran Injil bersifat menyelamatkan; ia hidup. Sungguh, kebenaran itu adalah suatu pribadi: Kristus sendiri (bdk. Yoh 14:6). Hal ini tercermin dalam struktur tindakan iman, yang sekaligus ditandai oleh “penyerahan diri seutuhnya”72 kepada Kristus oleh manusia individual yang diterangi rahmat-Nya (fides qua), dan oleh “hal-hal yang diimani” (fides quae), yang menjelaskan isi tindakan penyerahan diri tersebut.73 Ketepatan penyajian iman dan pencarian makna manusiawi — yang tidak pernah sepenuhnya habis (bdk. 1Kor 15:28) — saling memiliki.

Menumbuhkan Pengalaman Iman

75Dalam hal ini, apa yang kita baca dalam Evangelii Gaudium tetap berlaku: “Dalam katekese pun, kita telah menemukan kembali peran mendasar pewartaan pertama atau kerygma, yang perlu menjadi pusat segala kegiatan evangelisasi dan segala upaya pembaruan Gereja. Kerygma bersifat trinitaris. Api Roh dianugerahkan dalam rupa lidah-lidah dan menuntun kita untuk percaya kepada Yesus Kristus, yang melalui wafat dan kebangkitan-Nya menyingkapkan dan mengomunikasikan kepada kita belas kasihan Bapa yang tak terbatas. Di bibir katekis, pewartaan pertama harus terus-menerus bergema: ‘Yesus Kristus mengasihimu; Ia menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkanmu; dan kini Ia hidup di sisimu setiap hari untuk menerangi, menguatkan, dan membebaskanmu.’ Pewartaan pertama ini disebut ‘pertama’ bukan karena ia ada di awal lalu dapat dilupakan atau digantikan oleh hal-hal lain yang lebih penting. Ia pertama dalam arti kualitatif, karena ia adalah pewartaan utama, yang harus kita dengar lagi dan lagi dengan berbagai cara, yang harus kita wartakan dengan satu atau lain cara sepanjang proses katekese, pada setiap tingkat dan saat.”74

76Hal pertama yang disarankan oleh kata-kata ini adalah bahwa pewartaan kebenaran dasar dan fundamental kekristenan — Yesus Kristus, yang hidup, mengasihimu dan menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkanmu — harus berlangsung sedemikian rupa sehingga membangkitkan suatu pengalaman iman yang mampu memulai pembentukan identitas Kristiani seseorang. Hal ini menggariskan suatu proses rangkap tiga yang harus mencirikan penerusan iman yang dipusatkan kembali pada kerygma: pertama-tama, pewartaan sentral tentang kehadiran dan kasih Kristus yang Bangkit; kemudian, pengalaman batin akan kehadiran dan kasih-Nya, yang dibangkitkan oleh pewartaan itu; dan akhirnya, awal suatu perjalanan mengenal dan mengasihi Kristus, yang dimungkinkan oleh penerimaan pewartaan itu oleh si penerima dengan hati yang bebas dan tulus.

77Karena itu, ini bukan sekadar penerusan isi — betapapun penting isi itu, bahkan karena menyangkut keselamatan setiap manusia. Pewartaan itu harus bersifat “performatif”, mampu sungguh-sungguh menyentuh hati mereka yang menerimanya dan menarik mereka ke hati Tuhan Yesus, di mana mungkin untuk merenungkan dan bersentuhan dengan api kasih yang Ia datang lemparkan ke bumi (bdk. Luk 12:49). Pewartaan kerygma harus mengobarkan hati mereka yang menjadi sasarannya, mengikuti teladan luhur yang diperlihatkan Yesus sendiri kepada para murid dalam perjalanan ke Emaus: “Kata mereka seorang kepada yang lain: ‘Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?’” (Luk 24:32).

78Hubungan antara kerygma dan katekese, dalam konteks perubahan zaman ini, sangat erat, sampai-sampai katekese “tidak selalu dapat dibedakan dari pewartaan pertama”, dan karena itu “dipanggil untuk pertama-tama menjadi pewartaan iman.”75 Justru dalam hal ini, mungkin berguna untuk mengingat suatu situasi yang kini semakin lazim. Sebagaimana telah dicatat, semakin sering terjadi bahwa orang tua Kristiani tidak mampu meneruskan iman kepada anak-anak mereka. Namun, kenyataan bahwa mereka memohon baptis bagi anak-anak mereka atau mengantar mereka ke katekese sudah menunjukkan suatu kehadiran iman tertentu dan suatu kesaksian yang rapuh namun sejati, yang tidak boleh diabaikan. Dalam kasus-kasus seperti itu, bahkan mungkin anak-anak atau remaja yang datang ke katekese belum menerima pewartaan pertama Injil secara eksplisit. Justru karena itu, katekese menjadi tempat di mana pewartaan ini dapat ditawarkan kembali, yang meneguhkan perlunya pembaruan kerygmatis yang mendalam dalam katekese, karena katekese tidak selalu melahirkan pengalaman perjumpaan yang intens dengan Kristus, yang dapat bertahan seiring waktu.76

79Di sisi lain, kenyataan bahwa banyak anak dan remaja menjauh dari Gereja dan sakramen-sakramen segera setelah menyelesaikan inisiasi Kristiani mereka atau masa pembinaan mereka di sekolah Katolik menunjukkan bahwa katekese masih bergulat untuk menemukan cara-cara yang paling tepat untuk menumbuhkan perjumpaan pribadi dengan Kristus yang kokoh dan langgeng.

Persoalan Bahasa

80Dalam konteks perubahan zaman ini, tantangan sejati bagi Gereja adalah memastikan bahwa sabda Injil diterima “sebagai tolok ukur yang hidup untuk menuntun pilihan-pilihan konkret, mengilhami jalan-jalan pertobatan pribadi dan komunal, mendorong pembaruan struktural, dan menopang bentuk-bentuk baru kesaksian Injili dalam kehidupan publik.”77 Dalam arti ini, dengan bertolak dari banyak dokumen dan bahan yang disiapkan oleh Dikasteri untuk Evangelisasi,78 kini lebih mendesak daripada sebelumnya untuk menelaah dengan bijaksana dan penuh penegasan cara-cara pengorganisasian katekese yang berlaku saat ini, supaya penerusan iman tidak terkurung dalam bahasa yang dapat dicap “skolastik”, “dogmatis”, atau “moralistis”. Terlalu sering, komunikasi pesan Injil yang berulang-ulang dan berpusat pada diri sendiri berisiko gagal berbicara kepada hati umat beriman. Karena itu, bahasa iman tidak boleh terbatas pada pemaparan konsep-konsep secara dingin. Bahasa iman tentu harus memiliki kejelasan yang memudahkan pemahaman, tetapi terutama harus ditandai oleh seruan dari hati, dengan mengingat bahwa “Tuhan menyelamatkan kita dengan berbicara kepada hati kita dari Hati Kudus-Nya”79 dan bahwa “program orang Kristiani […] adalah ‘hati yang melihat’.”80 Hanya dengan cara ini bahasa itu akan menjadi bahasa yang sungguh membawa perubahan dalam hidup orang, karena ia akan menjadi ungkapan suara Tuhan sendiri — satu-satunya suara yang sungguh dapat menyentuh hati manusia: “Berbicaralah Engkau sendiri kepadaku di dalam hatiku dalam kebenaran, sebab hanya Engkau yang berbicara demikian.”81

81Singkatnya, agar penerusan iman sungguh efektif, ia harus berbentuk relasi antarpribadi yang melibatkan. Untuk itu, “kita perlu terutama menggunakan bahasa kedekatan, bahasa kasih yang murah hati, relasional, dan eksistensial, yang menyentuh hati, memengaruhi hidup, serta membangkitkan harapan dan kerinduan.”82 Komunikasi semacam itu tidak berpretensi berbicara lebih dulu, tetapi terutama lahir dari mendengarkan, sehingga memungkinkan pertukaran anugerah yang sejati antara dia yang mewartakan dan dia yang menerima pewartaan, dan dengan demikian memudahkan perjumpaan dengan Kristus yang berjalan bersama kita.

82Artinya, penerusan iman dapat terjadi di mana bahasa menjadi kesaksian — suatu peristiwa Roh dalam dirinya sendiri. Sebagaimana pernah dikatakan Santo Alberto Hurtado, yang dikutip dalam Seruan Apostolik Christus Vivit: “Menjadi rasul tidak berarti membawa obor di tangan, memiliki terang, melainkan menjadi terang itu […]. Injil, […] lebih daripada suatu pelajaran, adalah suatu teladan. Suatu pesan yang menjadi hidup yang dihayati sepenuhnya.”83 Dengan cara ini, Gereja dapat menawarkan, juga dewasa ini, sabda yang sekaligus merupakan kenangan dan nubuat, yang mampu mengobarkan kembali hati para murid di sepanjang jalan ketika mereka didampingi oleh Sang Guru, sambil membiarkan rahmat membangkitkan keterikatan mistik pada iman,84 yang tentangnya kata-kata nabi Yeremia tetap tak tertandingi: “di dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup” (Yer 20:9).

Pembinaan Iman Kristiani

83Dari apa yang telah dikatakan, komunitas-komunitas Kristiani dipanggil dengan kuat untuk memajukan — baik atau tidak baik waktunya — pembaruan pewartaan kerygma. Lebih jauh, Evangelii Gaudium juga menyoroti satu hal lain yang sungguh penting dalam hal ini: “Kita tidak boleh berpikir bahwa dalam katekese kerygma memberi tempat kepada pembinaan yang konon lebih ‘kokoh’. Tidak ada yang lebih kokoh, mendalam, pasti, bermakna, dan penuh kebijaksanaan daripada pewartaan awal itu. Seluruh pembinaan Kristiani terdiri dari masuk lebih dalam ke dalam kerygma, yang tercermin dalam dan terus-menerus menerangi karya katekese, sehingga memampukan kita memahami lebih penuh makna setiap pokok yang dibahas katekese. Inilah pesan yang mampu menjawab kerinduan akan yang tak terbatas yang bersemayam dalam setiap hati manusia. Sentralitas kerygma menuntut penekanan pada unsur-unsur yang paling dibutuhkan dewasa ini: ia harus mengungkapkan kasih Allah yang menyelamatkan, yang mendahului setiap kewajiban moral dan religius dari pihak kita; ia tidak boleh memaksakan kebenaran tetapi berseru kepada kebebasan; ia harus ditandai oleh sukacita, dorongan, kegairahan, dan keseimbangan yang harmonis, yang tidak mereduksi pewartaan menjadi beberapa ajaran yang kadang-kadang lebih filosofis daripada Injili.”85

84Di sini tampaklah kembali ajaran agung Konsili Vatikan II mengenai hierarki kebenaran di antara misteri-misteri Kristiani. Sungguh, kita membaca dalam Unitatis Redintegratio no. 11 bahwa “dalam dialog ekumenis, para teolog Katolik, harus setia sepenuhnya terhadap ajaran Gereja, dan dalam usaha mereka bersama dengan saudara-saudari yang terpisah untuk semakin menyelami misteri-misteri ilahi, harus melangkah maju dengan cinta akan kebenaran, kasih sayang dan kerendahan hati. Dalam membandingkan ajaran-ajaran, hendaknya mereka sadari adanya tata-urutan atau ‘hierarki’ kebenaran-kebenaran ajaran Katolik , karena berbeda-bedalah hubungannya dengan dasar iman Kristiani.”86 Perspektif ini telah diperluas oleh Evangelii Gaudium ke ranah pewartaan Injil, teologi, dan visi moral Gereja.87 Itulah sebabnya, dalam perubahan zaman yang sedang kita alami, tidaklah tepat — ketika mengomunikasikan iman kepada generasi-generasi baru, para katekumen dewasa, dan mereka yang disebut “orang-orang yang kembali” — untuk terpecah dalam begitu banyak bidang ajaran Katolik, betapapun pentingnya itu, sehingga kehilangan pandangan akan apa yang paling “kokoh, mendalam, pasti, [dan] bermakna”88: yakni kasih Allah, yang bagaikan nyala api sanggup memulihkan kehidupan, sukacita, harapan, dan kepercayaan dalam seluruh dimensi keberadaan manusia. Berkat karya Roh Kudus, nyala api ini dicapai melalui perjumpaan — dengan iman dan dalam iman — dengan Tuhan Yesus.

85Justru dengan mewartakan kerygma dengan cara yang sekaligus diperbarui dan membarui — penuh gairah dan mampu membangkitkan gairah — komunitas umat beriman akan dapat memenuhi tugas meneruskan, dari generasi ke generasi, terang yang Yesus datang bawa ke bumi.

86Secara praktis, agar sungguh membangkitkan pengalaman iman, pewartaan kerygma harus mengambil gaya, bahasa, dan nada yang mampu menjangkau orang di tempat mereka berada — dengan kerinduan dan impian mereka, pergulatan dan cobaan mereka. Karena itu, pewartaan itu harus mampu menyajikan kabar baik kasih dan belas kasihan Allah sedemikian rupa sehingga mereka yang menerimanya sungguh dapat memahami bahwa justru kepada merekalah kasih dan belas kasihan ini ditujukan. Inilah gaya yang mencirikan perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, yang sampai hari ini masih memikat hati mereka yang mendengarnya.

Bab V — Penerusan Iman dalam Komunitas

87Bertolak dari pertimbangan umum tentang sentralitas kerygma ini, kita dapat menyampaikan beberapa pengamatan yang lebih khusus. Yang pertama, dan paling hakiki, menyangkut mutu kehidupan komunal para murid Tuhan. Kehidupan itu harus mencerminkan kasih yang tulus di antara saudara-saudari, komitmen untuk saling memperhatikan, keterbukaan yang murah hati kepada semua orang — terutama mereka yang paling berkekurangan — suasana sukacita dan perayaan, dan akhirnya, hidup yang dijalani dengan sehati dan sejiwa (bdk. Kis 4:32). Kualitas-kualitas semacam itu menandai suatu komunitas yang ramah dan bersahabat, yang bahkan pada masa perubahan zaman ini mampu menarik perhatian orang lain dan membawa mereka kepada pengalaman iman Kristiani. Dalam dunia yang semakin terpecah-pecah, di mana satu-satunya ikatan antarmanusia yang tampaknya berarti adalah ikatan yang dimediasi oleh infrastruktur digital, kebutuhan dan kerinduan untuk memiliki tempat bernaung semakin nyata pada banyak orang. Kita tidak mencukupi diri sendiri, dan media sosial tidak memuaskan kodrat bawaan kita sebagai “makhluk sosial”. Sebagai orang beriman, kita tidak dapat tidak membiarkan hati dan pintu kita terbuka bagi kenyataan-kenyataan baru yang dihadapi orang. Bagaimanapun juga, bentuk evangelisasi yang pertama selalu berlangsung “dari orang ke orang”.89

88Dalam hal ini, sangatlah mendesak — terutama di negara-negara dengan sejarah evangelisasi yang panjang — untuk menekankan pentingnya memajukan, di setiap komunitas gerejawi, kelompok-kelompok yang dikhususkan untuk mendengarkan, merenungkan, berbagi, dan berdoa dengan Sabda, dengan waktu-waktu tetap yang disisihkan untuk pertemuan mereka, sebagai pelengkap perayaan Ekaristi hari Minggu. Kiranya kata-kata Paus Fransiskus menjadi ilham: “Pembacaan Kitab Suci secara teratur dan perayaan Ekaristi memungkinkan kita melihat diri kita sebagai bagian satu sama lain. Sebagai orang Kristiani, kita adalah satu umat, yang berziarah melintasi sejarah, ditopang oleh Tuhan yang hadir di tengah kita, yang berbicara kepada kita dan memberi kita makan. […] [K]ita sangat perlu bertumbuh dalam pengenalan dan kasih kita akan Kitab Suci dan akan Tuhan yang bangkit, yang terus menyampaikan sabda-Nya dan memecahkan roti dalam komunitas umat beriman. Karena itu, kita perlu mengembangkan relasi yang lebih erat dengan Kitab Suci; kalau tidak, hati kita akan tetap dingin dan mata kita tertutup, karena kita dilanda begitu banyak bentuk kebutaan.”90 Untuk menumbuhkan keakraban semacam itu dengan Kitab Suci di antara umat beriman, kelompok-kelompok pendalaman Kitab Suci ini dapat dengan mudah memadukan praktik kuno lectio divina dan metode-metode naratif modern.

89Meskipun terjadi segala perubahan zaman, saluran utama penerusan iman tetaplah perjumpaan dari orang ke orang. Karena itu, di antara konteks-konteks di mana iman diteruskan, persahabatan memiliki arti yang khusus, sebagaimana dibuktikan pula oleh kasus-kasus pertobatan yang paling baru. Tradisi Gereja selalu mengakui nilai pendidikan dari relasi persaudaraan yang sejati,91 sebagaimana juga ditekankan oleh Magisterium belakangan ini, terutama berkaitan dengan perjalanan iman generasi muda. Hal ini diungkapkan, misalnya, oleh Paus Fransiskus: “Persahabatan adalah salah satu anugerah kehidupan dan rahmat dari Allah. Melalui sahabat-sahabat kita, Tuhan memurnikan kita dan menuntun kita kepada kedewasaan.”92 Persahabatan, sesungguhnya, merupakan ruang istimewa di mana kesaksian pribadi, saling mendukung, dan berbagi suka dan duka hidup memungkinkan iman dibagikan dengan cara yang melibatkan seluruh keberadaan seseorang. Bersama keluarga, persahabatan yang sehat adalah lingkungan paling utama bagi relasi-relasi yang otentik,93 di mana orang-orang beriman dapat saling mendampingi dan menopang dalam mengikuti Kristus.

Liturgi

90Pertimbangan kedua yang terkait dengan penemuan kembali sentralitas pewartaan kerygma menyangkut liturgi. Jika inti pewartaan Kristiani adalah perjumpaan dengan kasih Allah yang menyelamatkan dalam Kristus, liturgi merupakan tempat istimewa di mana misteri ini dirayakan dan dikomunikasikan secara sakramental. Karena alasan inilah, liturgi memainkan peran sentral dalam meneruskan iman, sebagai jantung kehidupan gerejawi yang berdenyut, di mana komunitas diberi makan oleh Sabda Allah dan Roti kehidupan kekal. Dalam hal ini, kita harus melampaui pandangan sempit yang menganggap liturgi semata-mata sebagai kerangka ritual kehidupan gerejawi. Liturgi, sesungguhnya, pertama-tama adalah suatu pengalaman iman, bahkan sebelum menjadi suatu pengajaran, karena liturgi memungkinkan umat beriman ambil bagian dalam gerak, kata, keheningan, dan simbol, sehingga mengalami misteri Kristus secara hidup. Sebagaimana dinyatakan dalam Evangelii Gaudium, “Gereja mewartakan Injil dan diinjili sendiri melalui keindahan liturgi”;94 justru melalui daya simboliknya dan kemampuannya melibatkan seluruh pribadi secara penuh, liturgi menjadi tempat otentik pewartaan dan perjumpaan dengan Tuhan. Dalam tindakan liturgis, dan khususnya dalam Ekaristi, kita ditarik semakin dalam ke dalam Misteri Paskah, sementara sifat sakramental Gereja — yang dipanggil untuk menjadi tanda kasih Allah bagi umat manusia — dinyatakan secara kelihatan. Dalam peristiwa sakramental ini, perjumpaan dengan Dia yang Bangkit menjadi suatu tindakan bersama dan vital yang mendidik umat beriman bukan hanya dengan “memberi informasi”, tetapi dengan membentuk mereka dari dalam sehingga mereka menjadi peserta dalam misteri yang dirayakan. Karena itu, dalam liturgi, iman diteruskan secara performatif: kita tidak hanya berbicara tentang Allah tetapi masuk ke dalam relasi dengan-Nya. Liturgi adalah kenangan dan tradisi yang hidup, yang melahirkan dan membentuk orang-orang Kristiani yang mampu memberi kesaksian tentang keselamatan yang telah mereka jumpai: dengan ambil bagian dalam doa liturgis, orang sesungguhnya masuk ke dalam suatu sejarah, ke dalam suatu kenangan bersama yang melintasi berabad-abad. Karena itu, merayakan pertama-tama berarti menerima suatu iman yang telah diimani, dihayati, dan didoakan oleh orang-orang lain sebelum kita.

91Lebih jauh, dinamika ini menyoroti dimensi komunal liturgi yang sangat menonjol. Iman, sesungguhnya, tidak diteruskan semata-mata melalui pewartaan atau pengajaran individual, tetapi di dalam suatu umat yang merayakan bersama. Dalam liturgi, orang beriman tidak pernah terisolasi, tetapi merupakan bagian dari suatu “kita” yang mendahului, menyertai, dan melampaui dirinya. Dimensi komunal ini menjadi penangkal ampuh terhadap pesona gaya hidup egois dan individualistis, yang sebagaimana telah kita lihat begitu meluas dewasa ini di banyak konteks. Justru karena merupakan pengalaman gerejawi dan komunal, perayaan iman berkaitan erat dengan proses-proses inkulturasi — yakni upaya “untuk mengomunikasikan secara lebih efektif kebenaran Injil dalam suatu konteks tertentu, tanpa meninggalkan kebenaran, kebaikan, dan terang yang dapat dibawanya bilamana kesempurnaan tidak mungkin dicapai.”95 Diterapkan pada liturgi, perspektif ini menuntut pelestarian kekayaan tradisi simbolis Gereja, sekaligus menjadikannya terjangkau dan bermakna bagi para lelaki dan perempuan zaman kita, dalam ketegangan yang sehat dan subur antara kesetiaan pada tradisi dan dapat dipahaminya pesan yang dirayakan.

92Karena itu, dari sudut pandang penerusan iman, liturgi sangatlah penting, sesuai dengan adagium kuno lex orandi, lex credendi.96 Maka, perayaan liturgis tidak dapat direduksi menjadi sekadar pertunjukan formal, tetapi harus menjadi suatu tindakan di mana tanda-tanda sungguh berbicara kepada budi dan hati umat beriman, mengungkapkan secara hidup dan konkret iman Gereja yang satu dan memperkuat dalam diri setiap orang beriman kesadaran sebagai anggota Tubuh Kristus. Hanya melalui partisipasi yang sepenuhnya sadar, yang mengandaikan pendidikan yang memadai dalam bahasa liturgis, iman dapat diteruskan bukan sebagai ajaran abstrak, melainkan sebagai hidup baru yang dikomunikasikan melalui daya tarik dalam kehidupan sehari-hari. Agustinus muda pun memberi kesaksian tentang kekuatan liturgi ini; bertahun-tahun setelah pengalaman itu, ia dapat menulis: “Betapa aku menangis mendengar madah-madah dan kidung-kidung-Mu, betapa dalam aku tersentuh oleh suara Gereja-Mu yang bernyanyi dengan merdu! Suara-suara itu mengalir ke telingaku, dan kebenaran-Mu meresap ke dalam hatiku sampai perasaan devosi meluap dari dalam; air mataku bercucuran, dan aku menjadi lebih baik karenanya.”97 Melalui keindahan tanda-tanda dan kuasa Sabda, tindakan liturgis dengan demikian menjadi sumber yang melahirkan perutusan Gereja, memampukan komunitas mempertanggungjawabkan pengharapan yang ada di dalamnya, melalui kredibilitas hidup yang diubah oleh rahmat. Karena itu, perhatian khusus harus diberikan pada perayaan-perayaan, dan diperlukan pendampingan mistagogis bagi generasi muda, supaya mereka dapat sepenuhnya memahami dan menghayati apa yang mereka rayakan dalam liturgi.

93Selain itu, liturgi dapat dialami dengan berbagai cara. Sungguh, kesalehan umat pun memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan kepekaan liturgis, yang mengambil bentuk berbeda-beda sesuai dengan berbagai budaya. Untuk memahami hal ini, kita dapat mengutip kisah indah Romano Guardini, yang menceritakan kunjungannya ke Sisilia: “Hari ini aku melihat sesuatu yang agung: Monreale. […] Ketika kami tiba — saat itu Kamis Putih — Misa meriah sudah melewati konsekrasi. […] Apa yang harus kukatakan tentang kemegahan tempat ini? […] Umat duduk dan memandang. […] Hampir tidak ada yang membaca. Semua hidup dalam memandang; semua tertuju pada kontemplasi. Lalu menjadi jelas bagiku apa dasar kesalehan liturgis yang sejati: kemampuan menangkap ‘yang kudus’ di dalam gambar dan dinamikanya. Monreale, Sabtu Suci. […] Sesekali seberkas sinar matahari menembus kubah, dan seketika senyum keemasan menyebar di ruang di atas. […] Namun yang paling indah adalah umatnya. […] Upacara suci itu berlangsung lebih dari empat jam, tetapi partisipasi tetap hidup sepanjang waktu. Ada berbagai cara partisipasi dalam doa. Yang satu berlangsung melalui mendengarkan, berbicara, dan gerak; yang lain melalui melihat. Cara pertama itu baik, dan di Eropa Utara hanya itu yang kami kenal. Namun kami telah kehilangan sesuatu yang masih ada di Monreale: kemampuan untuk hidup-dalam-memandang, untuk berdiam dalam tindakan melihat, untuk menyambut yang kudus dalam bentuk dan peristiwa, dengan merenungkannya.”98

94Perhatian khusus juga hendaknya diberikan untuk memampukan umat beriman di setiap keuskupan, juga mereka yang sedang mendekat atau kembali ke komunitas umat beriman, untuk mengenal berbagai kepekaan liturgis yang ada dalam tradisi Gereja Katolik. Dengan tetap menghormati norma-norma liturgis yang berlaku, para gembala dipanggil untuk menonjolkan kekayaan warisan liturgis Katolik — pikirkan, misalnya, keragaman gaya musik yang mencirikannya — sedemikian rupa sehingga dapat bersentuhan dengan berbagai kepekaan orang-orang sezaman mereka. Perhatian khusus juga hendaknya diberikan untuk mendampingi tahap-tahap penting kehidupan manusia dengan berkat Gereja. Terutama di Barat, terjadi hilangnya secara bertahap ingatan kolektif akan ritus dan praktik ritual demi suatu bentuk individualisme yang sangat radikal; namun hal ini tidak menghapus kebutuhan antropologis akan ritualitas, yang selalu ditanggapi manusia dengan berbagai cara. Komunitas Kristiani bertumbuh dan dibangun melalui praktik-praktik ritual, dan dalam hal ini kekayaan warisan rohani Gereja merupakan sumber daya yang berharga dan tak habis-habisnya.

Peran Kesaksian

95Pertimbangan hakiki ketiga menyangkut kesaksian umat beriman. Kesaksian itu terbentang dalam tiga dimensi dasar: kesaksian kekudusan, kesaksian kedekatan, dan kesaksian keberpihakan utama kepada kaum miskin. Di setiap zaman, siapa pun yang berjumpa dengan kesaksian seorang Kristiani teladan selalu terdorong untuk menemukan rahasia hidup itu — yang begitu unik dan berbeda dari hidup kebanyakan sesamanya. Seorang beriman yang menghayati tuntutan pesan Kristiani sepenuhnya, pada dirinya sendiri merupakan pengingat terus-menerus akan terang dunia yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus, “kekudusan adalah wajah Gereja yang paling menarik.”99 Cukuplah di sini mengingat sosok Santo Fransiskus dari Assisi dan Santa Teresa dari Kalkuta. Sungguh, kita harus mengakui bahwa tidak ada yang membuat Gereja lebih kredibel dalam mewartakan dan meneruskan iman selain kekudusan para anggotanya. Karena itu, menggemakan pesan tentang kekudusan dari Konsili Vatikan II,100 Paus Fransiskus berulang kali dan dengan tegas menegaskan kembali bahwa panggilan kepada kekudusan adalah panggilan biasa setiap orang Kristiani: “Untuk menjadi kudus, tidak perlu menjadi uskup, imam, atau biarawan-biarawati. Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kekudusan hanya untuk mereka yang dapat menarik diri dari urusan sehari-hari untuk menghabiskan banyak waktu dalam doa. Tidak demikian. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dengan kasih dan memberi kesaksian dalam segala sesuatu yang kita lakukan, di mana pun kita berada. Apakah engkau dipanggil kepada hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati komitmenmu dengan sukacita. Apakah engkau menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istrimu, sebagaimana Kristus terhadap Gereja. Apakah engkau bekerja untuk mencari nafkah? Jadilah kudus dengan bekerja secara jujur dan terampil dalam melayani saudara-saudarimu. Apakah engkau orang tua atau kakek-nenek? Jadilah kudus dengan sabar mengajar anak-anak kecil cara mengikuti Yesus. Apakah engkau memegang kedudukan otoritas? Jadilah kudus dengan bekerja demi kesejahteraan umum dan melepaskan keuntungan pribadi.”101

96Bersama dengan memberi kesaksian kekudusan, orang-orang beriman dipanggil untuk memberikan, dalam jalinan hidup sehari-hari, kesaksian kedekatan kepada semua orang. Kedekatan ini dibangun melalui keramahan, kebaikan hati, mendengarkan, kelemahlembutan, dan kelembutan kasih. Sebagaimana pernah ditulis pengarang Latin kuno Terentius: “Aku manusia; tiada yang manusiawi asing bagiku”;102 sungguh, tidak ada yang sungguh manusiawi boleh asing bagi orang-orang beriman. Setiap orang Kristiani dipanggil untuk membantu orang menafsirkan kembali kisah hidup mereka sendiri di dalam kisah keselamatan yang lebih besar, dan menemukan bahwa hidup mereka sendiri merupakan bagian dari kisah Allah. Kedekatan ini menjadi kesaksian bila diulurkan kepada orang-orang yang hidup dalam situasi penderitaan berat, baik fisik maupun mental. Dalam kasus-kasus seperti itu, suatu sikap mendengarkan dan kelembutan, yang dipadukan dengan sepatah kata iman, dapat membuka lebar pintu untuk menerima terang sejati Kristus, yang berkuasa membebaskan dari kegelapan mereka yang diselubunginya. Paus Leo mengingatkan kita bahwa “keterbatasan, bila sungguh diterima, tidak mengurangi diri kita, melainkan membuka kita untuk mengenali wajah Allah dan sesama.”103

97Maka, kita sampai pada kesaksian konkret tentang kasih Allah yang diberikan orang-orang beriman dengan memperhatikan, secara istimewa, kaum miskin, yang berkekurangan, dan yang tersingkir. Sebagaimana diingatkan Paus Leo XIV, mengikuti jejak pendahulunya, orang-orang beriman jangan pernah melupakan “hubungan erat antara kasih Kristus dan panggilan-Nya untuk memperhatikan kaum miskin.”104 Sesungguhnya, “tidak ada orang Kristiani yang dapat memandang kaum miskin semata-mata sebagai masalah sosial; mereka adalah bagian dari ‘keluarga’ kita. Mereka adalah ‘salah satu dari kita’. Relasi kita dengan kaum miskin juga tidak dapat direduksi menjadi sekadar salah satu kegiatan atau fungsi gerejawi.”105 Melalui kedekatan yang aktif dan konkret dengan saudara-saudari kita yang hidup dalam kemiskinan, Gereja membuat nyala kasih Allah bagi semua orang — nyala yang Yesus datang lemparkan ke bumi — bersinar paling terang, dan sampai hari ini nyala itu menyentuh, sering dalam keheningan, hati begitu banyak orang. Suatu kesaksian yang sangat berharga dalam hal ini datang dari para uskup Myanmar, yang disampaikan dalam kunjungan ad limina mereka ke Dikasteri ini pada 2 Juni 2026. Di negara itu, yang menanggung luka akibat berbagai konflik, Gereja menunjukkan kedekatannya dengan mereka yang paling miskin, bahkan sekadar melalui keheningan mendengarkan, tanpa pembedaan berdasarkan afiliasi agama — Myanmar memang negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Justru kedekatan inilah yang membangkitkan dalam diri mereka yang tidak menganut iman Kristiani kerinduan untuk menyelidiki alasan-alasan di balik cara menghadapi penderitaan ini, sehingga memberi umat beriman kesempatan untuk berbicara secara eksplisit tentang pengalaman mereka akan Yesus. Maka, dalam kesatuan antara cinta kasih dan pewartaan Injil inilah keindahan utuh jalan Kristiani tampak semakin jelas.

Seni dan Keindahan

98Pengamatan khusus keempat menyangkut perlunya memberi ruang — dalam wacana tentang penerusan iman — bagi berbagai ungkapan kreativitas manusia yang melaluinya orang berusaha memberi bentuk pada kerinduan akan keindahan, kasih, dan transendensi yang bersemayam, sering dengan penuh pergulatan, dalam hati manusia. Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan, dalam hal ini, banyak karya sastra dan puisi yang membangkitkan ketakjuban luhur dan dapat memikat bahkan budi yang terganggu oleh teknologi komunikasi modern? Hans Urs von Balthasar, secara khusus, menekankan pentingnya membuka diri terhadap keindahan: “Dalam rupa keindahan yang bercahaya, ada dari yang-ada menjadi dapat ditangkap sebagaimana tidak di tempat lain mana pun, dan karena itu suatu unsur estetis harus menyertai setiap persepsi rohani maupun setiap upaya rohani.”106

99Dari sudut pandang ini, perhatian khusus hendaknya diberikan pada musik, yang sebagai ungkapan istimewa via pulchritudinis, merupakan bahasa hakiki bagi penerusan iman, yang mampu menyentuh dawai-dawai terdalam hati manusia dan mengomunikasikan kebenaran Injil melalui keindahan.107 Musik bukan sekadar hiasan estetis bagi perayaan, melainkan sarana misioner yang bekerja melalui daya tarik, membuat kemuliaan Dia yang Bangkit dapat dirasakan terutama di mana kata-kata sulit menjangkau. Sungguh, sebagaimana diamati Paus Leo XIV, “Musik bagaikan jembatan yang menghantar kita kepada Allah. Musik mampu meneruskan perasaan, emosi, bahkan gerak-gerak jiwa yang terdalam, mengangkatnya dan mengubahnya menjadi semacam tangga yang menghubungkan bumi dan surga.”108 Melalui musik, iman menemukan jalan-jalan ungkapan yang unik, yang tidak selalu dapat dijangkau oleh pewartaan verbal semata. Pertimbangan-pertimbangan ini mendorong kami untuk mengajak para seniman dan penulis yang beriman agar melakukan upaya kreatif khusus untuk menyatakan keindahan iman dan pengalaman rohani Kristiani.

Tahap-tahap Kehidupan

100Pengamatan terakhir menyangkut berbagai tahap kehidupan setiap manusia (masa kanak-kanak, remaja, muda, dewasa, dan lanjut usia). Tahap-tahap ini sesungguhnya merupakan semacam “pemilikan kembali” yang terus-menerus atas anugerah kelahiran seseorang ke dunia dan, seperti kelahiran itu, merupakan pengalaman yang sekaligus mengejutkan dan menantang. Karena itu, komunitas gerejawi harus mengembangkan pewartaan Injil yang lebih memperhatikan berbagai tahap kehidupan, dengan memberi pertimbangan yang selayaknya pada berbagai situasi pertumbuhan dan pembaruan yang dibawa setiap tahap. Pada saat yang sama, perlu diingat bahwa banyak orang berjumpa dengan Gereja hanya dalam perayaan-perayaan yang menandai momen-momen mendasar tertentu dalam hidup: baptis, perkawinan, dan pemakaman. Karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa dalam keadaan-keadaan seperti itu muncul kesempatan berharga untuk menjangkau mereka dengan pewartaan kerygma yang mampu menyentuh hati mereka, sambil menghindari kata-kata yang gagal menumbuhkan perjumpaan sejati apa pun.

101Yang sangat penting adalah persoalan — yang telah dibahas — kesenjangan antargenerasi dalam penerusan iman. Dalam hal ini, komunitas umat beriman menemukan dalam pastoral orang dewasa, yang juga merupakan orang tua generasi muda, suatu bidang pelayanan baru yang ditandai tantangan-tantangan yang sangat kompleks. Sungguh, di masa lalu, setidaknya di negara-negara dengan tradisi Kristiani yang panjang, pewartaan kerygma hampir secara eksklusif ditujukan kepada orang muda. Namun, dewasa ini semakin mendesak kebutuhan untuk mendampingi orang-orang — termasuk mereka yang dibaptis pada usia sangat muda — yang hidup terpisah dari komunitas gerejawi dan yang, meskipun merasakan panggilan batin untuk hidup sesuai Injil, kesulitan memahami dan menjadikan bahasa Gereja milik mereka sendiri. Dalam kasus-kasus ini, penerusan iman kepada generasi muda bergantung pada evangelisasi orang dewasa. Sungguh, bagaimana orang dewasa dapat meneruskan iman kepada generasi muda jika mereka sendiri tidak terlebih dahulu menghayatinya secara pribadi? Kesulitan lebih lanjut juga dapat timbul dari situasi-situasi yang ditandai berbagai bentuk kemiskinan eksistensial, terutama dalam konteks perkotaan yang ditandai keterpecahan yang tajam atau di daerah pedesaan yang terisolasi. Semua ini menantang Gereja secara keseluruhan, mendesaknya untuk menjadi semakin sinodal dan misioner, terutama dengan menumbuhkan karisma-karisma yang dibangkitkan Roh Kudus dalam Umat Allah.

Bab VI — Iman dan Budaya

102Kini memperluas cakupan refleksi kita tentang penerusan iman melampaui dimensi yang semata-mata gerejawi, kita harus membahas relasi antara iman dan budaya. Hal pertama yang perlu dicatat adalah bahwa banyak ahli menekankan bahwa pada zaman kita sedang berlangsung krisis yang lebih luas menyangkut penerusan pengetahuan dan nilai-nilai, yang juga mencakup pokok khusus Pertimbangan-pertimbangan ini. Hal kedua dapat ditarik dari beberapa kata Santo Yohanes Paulus II, yang menekankan pentingnya, demi penerusan iman, mencapai sintesis antara iman dan budaya: “Sintesis antara budaya dan iman bukan hanya tuntutan budaya, melainkan juga tuntutan iman. Sebagaimana diajarkan pendahulu saya Paulus VI, ‘perlu mewartakan Injil — bukan secara dekoratif, seperti lapisan cat yang dangkal, melainkan secara vital, secara mendalam dan sampai ke akar-akarnya — kepada budaya manusia dan budaya-budaya… selalu bertolak dari pribadi dan selalu kembali kepada relasi antarpribadi dan dengan Allah.’ Sebab, meskipun benar bahwa iman tidak identik dengan budaya mana pun […], tidak kurang benar pula bahwa, justru karena itu, iman dipanggil untuk mengilhami dan meresapi setiap budaya. Seluruh pribadi, dalam kekonkretan hidup sehari-harinyalah, yang diselamatkan dalam Kristus; dan karena itu, seluruh pribadilah yang harus menemukan kepenuhannya dalam Kristus. Iman yang tidak menjadi budaya adalah iman yang belum diterima sepenuhnya, belum dipikirkan secara tuntas, dan belum dihayati dengan setia.”109

103Apa yang telah dikatakan menuntun kita untuk mengakui bahwa karya penerusan iman dalam arti tertentu tidak terpisahkan dari inkulturasinya dalam suatu konteks tertentu, dengan memahami “budaya” di sini baik dalam arti antropologisnya yang paling luas — sebagai keseluruhan gaya hidup, keyakinan, nilai, dan lembaga yang mencirikan suatu masyarakat tertentu — maupun dalam arti sempitnya, sebagai himpunan pengetahuan intelektual yang dikembangkan terutama di lingkungan akademis.

104Dengan mempertimbangkan arti pertama “budaya” ini, penting untuk diingat bahwa inkulturasi iman merupakan langkah yang perlu dalam penerusannya, karena pesan Injil harus dibuat dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki nilai dan kategori yang tidak sepenuhnya sama dengan kategori Helenistik-Semitik yang di dalamnya teks Kitab Suci semula dirumuskan. Dalam konteks penerusan iman, inkulturasi berarti “inkarnasi Injil dalam budaya-budaya pribumi dan sekaligus pengenalan budaya-budaya itu ke dalam kehidupan Gereja.”110 Dalam hal ini, inkulturasi iman menjadi evangelisasi sejati dalam dirinya sendiri, sekalipun belum terwujud secara penuh dan sempurna, karena merupakan “perjalanan lambat yang menyertai seluruh kehidupan misioner. Perjalanan itu melibatkan mereka yang berkarya dalam perutusan Gereja ad gentes, komunitas-komunitas Kristiani dalam perkembangannya, dan para uskup, yang bertugas memberikan penegasan dan dorongan bagi pelaksanaannya.”111 Artinya, budaya itu sendiri pada gilirannya menjadi sarana penerusan iman, karena “begitu Injil diinkulturasikan dalam suatu bangsa, dalam proses meneruskan budayanya, bangsa itu juga meneruskan iman dalam bentuk-bentuk yang selalu baru; karena itu pentingnya memahami evangelisasi sebagai inkulturasi.”112

105Namun, harus diingat bahwa kita tidak mewartakan Injil kepada suatu “tempat”, tetapi selalu kepada orang-orang, yang tidak boleh diisolasi dari konteks mereka sendiri: “Hal ini menyangkut membawa Injil kepada orang-orang yang kita jumpai, entah mereka tetangga kita atau orang yang sama sekali asing.”113 Ditambah lagi tugas umat beriman — yang perlu bahkan di negara-negara dengan tradisi Kristiani kuno — untuk menerjemahkan Kabar Baik ke dalam berbagai bentuk budaya khusus yang mencirikan masyarakat modern atau yang muncul dalam sektor-sektor sosial tertentu, seperti dunia orang muda atau dunia kaum miskin. Hal ini tak diragukan lagi menuntut pengakuan dan penumbuhan karisma-karisma yang ada di seluruh Umat Allah dalam semangat sinodalitas yang otentik, sebab pada akhirnya karisma-karisma itu adalah karya Roh Kudus. Dalam proses ini, sumbangan kesalehan umat pun tentu dapat berharga.

106Kehadiran berbagai kelompok sosial di kota-kota kita — masing-masing dengan budaya dan bahasanya yang khas dan sering otonom — menuntut upaya khusus untuk menginkulturasikan iman. Dengan kata lain, ada kebutuhan mendesak agar pewartaan Injil menjangkau setiap lapisan masyarakat. Tidak cukup sekadar menyapa budaya kelompok-kelompok tertentu yang merupakan mayoritas; sebaliknya, kita harus belajar berdialog dengan beraneka ragam situasi dan kondisi hidup yang ada dewasa ini. Maka, persoalannya adalah menjangkau apa yang secara teknis sering disebut ranah subkultur (misalnya, orang muda di pinggiran kota, berbagai komunitas migran, pekerja musiman, penduduk desa-desa kecil, dan sebagainya). Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa Komisi Teologi Internasional akan mencurahkan sebagian karyanya selama lima tahun mendatang untuk bentuk-bentuk budaya penerusan iman dan akan memberikan rangsangan berharga bagi karya yang di sini hanya digambarkan secara singkat.

107Singkatnya, kita harus menegaskan kembali pentingnya inkulturasi iman yang menentukan dewasa ini. Di mana iman menyentuh akar-akar dan ungkapan-ungkapan budaya suatu bangsa, penerusannya sungguh menjadi lebih mudah dan lebih berbuah.

108Sedangkan mengenai budaya dalam arti akademis-intelektual, kita dapat mengingat kata-kata Paus Fransiskus: “Mewartakan pesan Injil kepada berbagai budaya juga mencakup mewartakannya kepada lingkungan profesional, ilmiah, dan akademis. Ini berarti perjumpaan antara iman, akal budi, dan ilmu pengetahuan dengan maksud mengembangkan pendekatan dan argumen baru tentang persoalan kredibilitas, suatu apologetika kreatif yang akan mendorong keterbukaan yang lebih besar terhadap Injil dari pihak semua orang.”114 Memang benar bahwa apa yang dicapai oleh penelitian intelektual paling-paling adalah suatu persiapan yang mengantar orang kepada iman — seperti apa yang secara tradisional disebut praeambula fidei — dan bukan penerusan iman dalam arti sempit. Namun, penyajian yang masuk akal atas isi iman dan tuntutan-tuntutannya merupakan bantuan yang tak terbantahkan bagi pewartaan kerygma, terutama karena membantu membangkitkan pertanyaan-pertanyaan besar dalam budi dan hati manusia.115

109Suatu contoh yang sangat bermakna untuk dijadikan acuan dalam membangun penyajian iman yang masuk akal semacam itu tak diragukan lagi adalah ajaran sosial Gereja, yang melaluinya orang-orang beriman masuk ke dalam dialog terbuka dengan masyarakat, bahkan dengan mereka yang tidak beriman. Sambil tetap berada dalam ranah pengetahuan teologis, ajaran sosial Gereja banyak memanfaatkan kategori-kategori ilmu politik, ekonomi, dan sosial, dan sering berhasil menunjukkan relevansi penuh visi Kristiani bagi pembangunan masyarakat yang lebih adil dan bersaudara. Dalam arti ini, ajaran sosial Gereja juga dapat menjalankan fungsi yang serupa dengan praeambula fidei. Sungguh, “berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, dan dalam dialog dengan ilmu-ilmu, [ajaran sosial Gereja] membantu kita menafsirkan dengan jernih tantangan-tantangan masa kini dan menemukan cara-cara yang tepat untuk menghayati kesaksian Kristiani yang jelas, dengan sukacita dan dalam pelayanan kepada dunia.”116

Bab VII — Beberapa Bidang Perhatian Khusus

110Suatu komunitas yang sungguh berkomitmen untuk meneruskan, dari generasi ke generasi, terang dan api kasih Allah yang dikehendaki Yesus untuk dibawa ke tengah umat manusia dan yang telah sampai ke zaman kita, harus memberi perhatian khusus pada beberapa persoalan yang langsung berkaitan dengan tema Pertimbangan-pertimbangan ini, selain apa yang telah dipaparkan sejauh ini. Berikut ini adalah daftar ilustratif, yang dapat diperluas dan disusun dalam urutan prioritas yang berbeda.

111Bidang pertama yang memerlukan perhatian menyangkut pemeliharaan kesalehan umat. Dalam konteks ini, sebagaimana diketahui, beberapa aspek memerlukan proses pematangan dan pengayaan. Namun, kekuatan besar sumber daya ini dalam tradisi Katolik tetap jelas. Tak seorang pun dapat menyangkal bahwa kesalehan umat tetap merupakan sarana penting penerusan iman dewasa ini. Karena itu, perlu ditumbuhkan komitmen yang diperbarui terhadapnya, baik secara intelektual maupun dari hati. Lagi pula, kelenturannya yang besar selalu memungkinkannya memperbarui diri dan mengambil bentuk yang sangat beragam sepanjang abad, bahkan bertahan dari serangan-serangan yang sering dilancarkan terhadapnya oleh budaya — dan kadang-kadang bahkan oleh anggota-anggota Gereja sendiri.

112Mengenai daya evangelisasi kesalehan umat — dan dengan demikian perannya yang penting dalam meneruskan iman — tuntunan dalam paragraf 122–126 Evangelii Gaudium sangatlah berharga. Di sana kita membaca bahwa “kesalehan umat memungkinkan kita melihat bagaimana iman, begitu diterima, menjelma dalam suatu budaya dan terus-menerus diteruskan.”117 Sesungguhnya, setiap inkulturasi iman yang otentik selalu melahirkan suatu bentuk ungkapan populer iman itu. Hidup manusia terbentang melalui kata dan gerak, yang membentuk cakrawala di mana orang bertumbuh dan berjumpa dengan sesama. Setiap budaya diungkapkan dalam praktik-praktik konkret dan tercermin serta diwariskan melaluinya. Pertimbangan yang sama berlaku bagi pengalaman iman. Setiap inkulturasi iman menciptakan praktik-praktik keagamaan khusus yang mencerminkannya dan memungkinkannya diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, “di balik kesalehan umat, sebagai buah Injil yang diinkulturasikan, terdapat daya evangelisasi yang aktif yang tidak boleh kita remehkan: meremehkannya berarti gagal mengakui karya Roh Kudus. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memajukan dan memperkuatnya, demi memperdalam proses inkulturasi yang tak pernah selesai. Ungkapan-ungkapan kesalehan umat mempunyai banyak hal untuk mengajar kita; bagi mereka yang mampu membacanya, ungkapan-ungkapan itu adalah suatu locus theologicus yang menuntut perhatian kita, terutama pada saat kita memandang kepada evangelisasi baru”118 dan kepada persoalan penerusan iman.

113Dalam konteks ini, patut diingat daya tarik yang dimiliki bentuk-bentuk ziarah, baik tradisional maupun yang lebih baru, bagi generasi muda, demikian pula kerinduan untuk menjadi anggota suatu konfraternitas (persaudaraan religius), seperti yang belakangan terjadi di Spanyol, misalnya.119 Bagi banyak orang muda, terutama dalam konteks Barat, pencarian makna dalam dunia yang semakin tertutup pada dirinya sendiri, dan pencarian bentuk keanggotaan religius yang mampu memberi rupa pada kebutuhan mereka akan identitas dalam dunia yang sangat terindividualisasi, tampil sebagai kebutuhan yang sangat penting. Kebutuhan-kebutuhan ini menemukan ungkapan konkret dalam partisipasi dalam ziarah dan dalam kerinduan untuk bergabung dengan suatu konfraternitas. Dalam konteks tema utama Pertimbangan-pertimbangan ini, ada kebutuhan mendesak untuk bertanya bagaimana sebaiknya “memanfaatkan” pertanyaan dan kebutuhan orang-orang muda sezaman kita ini, sehingga semuanya dapat menjadi saluran yang melaluinya terang Kristus dapat membanjiri hidup mereka yang sering penuh pergolakan.

114Bidang perhatian kedua adalah homili. Paus Fransiskus memberi ruang yang cukup besar untuknya dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium,120 yang membuktikan pentingnya bagi pewartaan dan penerusan iman; para pembaca dirujuk pada teks itu untuk pendalaman lebih lanjut. Homili yang dipersiapkan dengan baik dapat memainkan peran menentukan dalam menyajikan isi iman dalam bentuk naratif yang menafsirkan kembali Sabda Allah dalam terang kehidupan konkret umat, sehingga menumbuhkan pengalaman hidup perjumpaan dengan Kristus. Yesus sendiri tampil dalam Injil-injil pertama-tama sebagai seorang pencerita yang agung. Ia jarang memulai wejangan-Nya dengan konsep-konsep abstrak; sebaliknya, Ia menggunakan gambaran, metafora, dan perumpamaan. Ia sering mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari orang banyak, menawarkan kisah-kisah yang dapat membuka imajinasi para pendengar-Nya sebelum menggugah akal budi mereka. Perumpamaan, sesungguhnya, tidak sekadar memberi informasi; perumpamaan dapat membentuk dan mengubah para pendengarnya. Kisah-kisah yang diceritakan Yesus tidak sekadar membuat wejangan-Nya lebih menarik; kisah-kisah itu merupakan kunci hermeneutis yang melaluinya pendengar diperkenalkan kepada misteri Kerajaan. Dalam hal ini, tradisi homiletis agung para Bapa Gereja, baik Timur maupun Barat, dapat memberikan sumbangan berharga bagi para gembala.

115Bidang perhatian ketiga bersumber dari kerinduan untuk berkomitmen yang diungkapkan banyak orang, terutama orang muda, melalui kegiatan kerelawanan. Upaya konkret mewujudkan komitmen semacam itu sering memberi kesempatan untuk semakin dekat dengan kenyataan Gereja. Orang-orang ini merasakan kebutuhan yang tulus dan mendalam untuk memberikan sesuatu kepada sesama; karena itu, mereka merasa mendesak untuk keluar dari batas-batas individual mereka dan melampaui pola pikir yang memandang kepemilikan sebagai tolok ukur tertinggi kebahagiaan. Hal ini tidak serta-merta berarti minat pada iman, tetapi merupakan kesempatan yang baik untuk pewartaan dan untuk menawarkan persahabatan dengan Tuhan Yesus, yang memberikan motivasi yang lebih dalam lagi bagi komitmen semacam itu. Seluruh komunitas umat beriman dipanggil untuk menyambut “orang-orang Samaria yang baik hati” zaman kita ini dan mendampingi mereka dengan kebaikan dan gairah menuju perjumpaan dengan api kasih Allah, yang dijaga Gereja sebagai harta berharga dalam perjalanannya melintasi dunia.

116Bidang perhatian keempat menyangkut perlunya memperluas kesempatan bagi perempuan untuk ambil bagian dalam kepemimpinan proses-proses gerejawi. Dalam Gereja Katolik, pada umumnya, umat beriman yang paling hadir dan aktif dalam kehidupan komunitas sebagian besar adalah perempuan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan untuk memberi perempuan akses ke forum-forum di mana keputusan-keputusan penting menyangkut kehidupan komunitas diambil semakin jelas. Dikasteri telah mempelajari pokok ini secara luas dan telah menyampaikan kesimpulan-kesimpulannya kepada Bapa Suci melalui Sekretariat Sinode.

117Suatu aspek khusus zaman kita menuntut perhatian lebih lanjut. Sungguh, kita tidak boleh meremehkan kerinduan kuat yang diungkapkan banyak orang dewasa ini untuk ambil bagian dalam acara-acara besar (festival musik dan sejenisnya). Hal ini juga menyoroti kenyataan bahwa penggunaan teknologi digital secara intensif pun tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pribadi manusia. Maka, bahkan di zaman kita, kebutuhan akan kebersamaan — kebutuhan dan kerinduan untuk berbagi dengan sesama — semakin tampak. Sambil mengakui bahwa iman diteruskan secara istimewa dari “engkau” yang satu kepada “engkau” yang lain, kita hendaknya memandang aspek kehidupan masa kini ini sebagai kesempatan berharga untuk menyebarkan Injil dengan berusaha menciptakan kesempatan-kesempatan yang mempertemukan orang di sekitar tema-tema besar saat ini, seperti perdamaian.

118Bahan refleksi lebih lanjut dapat ditemukan dalam studi sejarah Gereja, khususnya pada saat-saat ketika Gereja mampu menanggapi secara positif perubahan-perubahan zaman yang dijumpainya dalam perjalanan sejarahnya. Di antaranya, kita dapat menyebut krisis yang menyusul runtuhnya lembaga-lembaga Romawi di Eropa Barat, dengan akibat ditinggalkannya kota-kota, tempat kekristenan paling dalam berakar. Dalam konteks ini, munculnya monastisisme Irlandia, yang berkembang pada paruh kedua milenium Kristiani pertama, terbukti menentukan: monastisisme itu tidak hanya menjaga dan memperdalam pemahaman iman, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk baru evangelisasi dan, sekaligus, menyumbang perkembangan berarti dalam praktik sakramental, seperti menyebarnya pengakuan dosa pribadi. Contoh kedua diberikan oleh krisis doktrinal dan pastoral yang ditimbulkan oleh menyebarnya Katarisme dan berbagai gerakan kemiskinan, yang sering menentang Gereja, pada Abad Pertengahan. Sebagai tanggapan, ordo-ordo mendikan, termasuk yang didirikan Santo Dominikus dan Santo Fransiskus dari Assisi, mewujudkan vitalitas Injili yang diperbarui melalui kemiskinan radikal, pewartaan keliling, dan pengajaran teologis yang dilaksanakan dalam persekutuan penuh dengan Gereja. Contoh lain adalah dorongan menuju pembaruan Katolik yang luas, yang dipicu oleh keretakan gerejawi yang mendalam akibat Reformasi Protestan, di mana tokoh-tokoh seperti Santa Teresa dari Avila dan Santo Ignatius dari Loyola memainkan peran utama. Pembaruan ini bertepatan dengan ekspansi misioner Gereja ke tanah-tanah yang baru ditemukan yang terbuka bagi pewartaan Injil, sehingga turut memberinya momentum baru. Akhirnya, patut diingat tanggapan Gereja pada abad kesembilan belas terhadap perubahan-perubahan mendalam yang ditimbulkan oleh persoalan sosial dan akibat-akibat Revolusi Industri, yang menuntunnya untuk merumuskan ajaran sosialnya secara lebih sistematis. Dalam setiap kasus ini, suatu masa krisis menjadi kesempatan bagi prakarsa-prakarsa kreatif yang terbukti menentukan bagi evangelisasi dan juga bertepatan dengan peralihan yang lebih luas antara zaman-zaman sejarah.

119Dewasa ini, diperlukan penyelidikan khusus tentang kemerosotan mendadak Katolisisme di negara-negara di mana ia dahulu berakar dalam, untuk memahami sebab-sebabnya dan mengembangkan tanggapan pastoral yang tepat.

120Bidang perhatian lebih lanjut yang menentukan adalah dunia sekolah dan universitas Katolik, serta lembaga-lembaga Katolik lainnya, terutama yang membaktikan diri pada karya-karya amal kasih. Sebagaimana diberi kesaksian oleh para uskup Ghana: “Penerusan iman Katolik diperkuat secara berarti melalui pendidikan Katolik, yang berfungsi sebagai saluran penting bagi pembinaan berkelanjutan anak-anak, orang muda, bahkan orang dewasa.”121 Di negara-negara lain, seperti Venezuela, program pendidikan agama memudahkan integrasi antara kegiatan sekolah dan paroki, yang meneguhkan pula nilai pastoral sekolah-sekolah Katolik.122 Terutama di negara-negara di mana umat Katolik merupakan minoritas — kadang-kadang sangat kecil — lembaga-lembaga ini sering merupakan satu-satunya titik kontak yang dimiliki sebagian besar penduduk dengan Gereja Katolik. Namun, di beberapa wilayah, pembatasan pengajaran agama di sekolah berarti bahwa paroki-paroki harus menanggung seluruh beban katekese.

121Dibandingkan dengan lingkungan tradisional karya pastoral, sekolah menawarkan bentuk keterlibatan yang lebih institusional dan nyaris profesional, tetapi tidak kurang mampu meneruskan setidaknya sepercik kecil api kasih yang telah menyala sepanjang abad dan, dari Yesus, telah sampai ke zaman kita. Sungguh, lembaga-lembaga semacam itu dapat memberikan kesaksian yang nyaris transparan tentang cinta kasih intelektual dan material, yang mampu secara spontan mengarahkan orang kepada keindahan Injil dan daya memanusiakannya. Para uskup Prancis juga memberi kesaksian tentang hal ini: “Pendidikan Katolik adalah lingkungan mendasar bagi pewartaan awal kepada anak-anak, orang muda, dan keluarga, yang dapat menuntun orang muda — tetapi juga orang tua mereka — untuk mencari inisiasi Kristiani.”123 Dalam konteks yang lebih luas, orang-orang beriman dengan demikian diajak untuk selalu membela sentralitas sekolah sebagai tempat “di mana generasi-generasi baru dapat belajar mencari dan mencintai kebenaran, merenungkan makna hidup, dan mengakui martabat setiap pribadi.”124

122Pokok perhatian terakhir menyangkut komitmen ekumenis, yang merupakan dimensi hakiki perutusan evangelisasi Gereja dan, karena itu, juga penerusan iman. Sungguh, sebagaimana diamati Dekret Konsili Vatikan II Unitatis Redintegratio, perpecahan di antara orang-orang Kristiani “terang-terangan bertentangan dengan kehendak Kristus, menjadi batu sandungan bagi dunia, dan merugikan perkara yang paling suci, yakni pewartaan Injil kepada segala makhluk.”125 Jauh dari menjadi alternatif bagi pewartaan, dialog ekumenis merupakan salah satu bentuk khususnya, di mana pencarian bersama akan kebenaran, saling mendengarkan, dan kesaksian cinta kasih membuat pewartaan kerygma lebih kredibel di hadapan dunia yang semakin sekuler dan pluralistis. Sebagaimana diingatkan Santo Yohanes Paulus II, “upaya-upaya menuju kesatuan itu sendiri merupakan tanda karya pendamaian yang sedang dikerjakan Allah di tengah kita,”126 yang secara konkret menyatakan bahwa Bapa adalah kasih, untuk selamanya dan bagi semua orang. Hal ini mengajak komunitas umat beriman untuk menjadikan seruan penuh keyakinan Paus Fransiskus seruan mereka sendiri: “Jika kita sungguh percaya pada karya Roh Kudus yang bebas dan berlimpah, betapa banyak yang dapat kita pelajari satu dari yang lain! Ini bukan sekadar soal mendapat informasi yang lebih baik tentang orang lain, melainkan memetik apa yang telah ditaburkan Roh dalam diri mereka, yang juga dimaksudkan sebagai anugerah bagi kita,”127 sehingga kita dapat “maju dengan tegas menuju ungkapan-ungkapan bersama dalam pewartaan, pelayanan, dan kesaksian.”128

123Dalam semangat yang sama, kita harus mengakui bahwa beberapa penganut agama-agama dan gerakan-gerakan keagamaan lain berkomitmen untuk memberi kesaksian tentang iman mereka akan Allah dalam suatu konteks budaya yang cenderung menutup diri dalam imanensi yang gersang. Demikian pula, beberapa anggota Gereja-gereja dan komunitas-komunitas gerejawi Kristiani lain sedang mencari cara-cara baru untuk mewartakan Injil dan kasih Kristus pada zaman kita. Kita juga dapat belajar dari pengalaman-pengalaman positif dan upaya-upaya kreatif mereka, sehingga komitmen kita untuk meneruskan seluruh kekayaan harta iman, yang kita terima sebagai anugerah, senantiasa menghasilkan buah.

Bab VIII — Kesaksian-kesaksian Pribadi

124Pada titik ini, sebagaimana disebut dalam Pengantar Pertimbangan-pertimbangan ini, kami menyajikan, sebagai contoh, beberapa kesaksian pribadi dari orang-orang yang telah mengalami perjumpaan dengan Kristus atau menemukan kembali relasi yang hidup dengan-Nya dalam hidup mereka. Demi kerahasiaan, nama mereka tidak akan diungkapkan; hanya tempat asal mereka yang akan disebut, dengan jaminan bahwa ini adalah kesaksian-kesaksian yang otentik, yang sungguh dibagikan demi pembangunan Gereja universal. Dikasteri untuk Ajaran Iman menyampaikan terima kasih yang tulus kepada mereka yang telah membagikan kisah mereka, serta kepada Konferensi-konferensi Waligereja yang telah meneruskan bahan-bahan ini. Dalam banyak kasus, kisah-kisah ini tidak menceritakan prestasi besar atau peristiwa ajaib, melainkan membagikan kejadian-kejadian sederhana di mana karya rahmat dinyatakan dalam jalinan hidup sehari-hari, sehingga setiap orang dapat mengenali di dalamnya sesuatu dari pengalamannya sendiri. Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana setiap keadaan, bahkan yang paling kecil dan tampaknya paling tidak berarti, dapat menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Yang Kekal dan suatu langkah dalam sejarah keselamatan yang sedang dibangun Allah bersama kita dan bagi kita. Karena keterbatasan ruang, tidak mungkin memuat semua kesaksian yang diterima; karena itu perlu dipilih yang selaras dengan tema-tema dokumen ini dan menghindari pengulangan. Namun, masing-masing merupakan harta rahmat yang memberi kesaksian bagaimana Tuhan, bahkan pada masa perubahan zaman ini, tak pernah berhenti menolong dan menyertai Gereja-Nya. Halaman-halaman berikut bermaksud menerjemahkan beberapa aspek yang dikembangkan dalam bab-bab sebelumnya ke dalam bahasa kehidupan sehari-hari.

Dari Jurang Kecanduan menuju Kebebasan Perjumpaan dengan Kristus

125Kesaksian pribadi pertama129 berasal dari Kolombia dan menunjukkan bagaimana, bahkan dalam situasi kemerosotan moral dan eksistensial yang paling dalam, Allah tak pernah berhenti memanggil seseorang melalui suara hati nurani dan menawarkan keselamatan-Nya melalui karya orang-orang lain dalam iman: “Ketika saya berusia sekitar 13 atau 14 tahun, saya mulai memakai narkoba, mulai terjerumus dalam hidup tak bermoral, dan terlibat dengan geng; saya bergaul dengan geng, berkelahi, memegang senjata, memeras, mencuri, dan menjual narkoba. Begitulah hidup saya. Keluarga saya lelah menghadapi saya sampai akhirnya saya hidup di jalanan. Saya berkata kepada ibu saya, ‘Ma, saya mau berubah.’ Ia menjawab, ‘Tidak, kamu sakit; kamu harus sembuh dulu.’ Dan saya membalas, ‘Mama bicara apa? Saya bisa keluar dari ini sendiri.’ Tetapi saya butuh pertolongan; kesombongan dan keangkuhan saya tidak mengizinkannya. Dan saya merasakan kerinduan yang sangat dalam di hati saya akan sesuatu yang lebih, sesuatu yang indah, sesuatu yang baik: mengasihi, dan merasa dikasihi. Saya tidak punya tempat tinggal, tempat mandi, tempat makan — tidak ada apa-apa. Berkat rahmat dan belas kasihan Allah [melalui keluarga saya, saya menemukan pusat rehabilitasi yang dikelola sebuah yayasan Kristiani]. Di sana mereka tidak memakai terapi kejut atau obat-obatan; yang dialami di sana adalah doa: Rosario Suci, lectio divina, Ekaristi Kudus… Di sanalah perjalanan pertobatan saya dimulai. Di tempat itu, Tuhan mulai mengubah hidup saya secara mendalam, karena saya mulai melihat betapa banyak luka dan kekosongan dalam hati saya, dan betapa saya membutuhkan kasih, pengampunan, dan belas kasihan Allah. Lalu saya pergi sebagai misionaris selama dua setengah tahun, menerima pembinaan, melayani retret, dan memimpin pertemuan. Setelah itu, saya kembali ke yayasan tempat saya dulu tinggal. Saya tinggal di sana selama setahun, mendampingi orang-orang muda sebagai pendidik dan membagikan kepada mereka sedikit dari apa yang telah dikerjakan Tuhan dalam diri saya. Sekarang saya punya pekerjaan sendiri dan menjadi bagian dari suatu komunitas yang membaktikan diri pada doa, misi, dan evangelisasi. Allah telah mengubah hidup saya dan hati saya dan menjadikan saya manusia baru.”

126Kesaksian-kesaksian lain menunjukkan bagaimana, kadang-kadang, suatu keadaan yang sangat sederhana — seperti menggulir unggahan di media sosial — sudah cukup bagi rahmat untuk memungkinkan suatu perjumpaan yang mengubah hidup, sebagaimana diceritakan seorang pemuda dari Belgia: “Ketika saya berusia sekitar 17 tahun, saya ingin dibaptis tetapi tidak tahu harus ke mana. Saya pernah patah hati, bergulat dengan kecanduan alkohol, dan banyak menangis. Suatu hari, ketika menggulir TikTok, saya menemukan sebuah doa. Rasanya seperti sengatan listrik sekaligus sumber penghiburan. Saya bukan orang beriman dan menjalani hidup dengan tenang. Kalau saya ada di sini hari ini, itu sebagai jawaban atas panggilan paling berarti dalam hidup saya. Ini bukan refleksi intelektual, melainkan perjumpaan pribadi di mana Yesus berbicara kepada saya. Saya mendekati Gereja tanpa sungguh-sungguh percaya, terutama karena hormat kepada kakek-nenek saya dan keinginan untuk melestarikan tradisi. Sejak menemukan iman, saya sungguh memiliki cara pandang yang berbeda tentang dunia. Saya merasa semuanya baik-baik saja, padahal hidup saya, sebelum perjumpaan dengan Kristus, rumit.”

127Masih dalam tema penebusan dan pembebasan, kesaksian yang bermakna tentang daya membebaskan kerygma diberikan oleh kisah seorang pastor yang melayani di penjara-penjara suatu keuskupan di Kanada: “Lingkungan penjara sering merupakan tempat krisis dan penilaian kembali hidup seseorang. Hilangnya kebebasan mendorong orang berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan tindakan-tindakannya, dan dengan makna keberadaannya. Dalam konteks ini, permohonan baptis sering muncul sebagai pencarian suatu awal yang baru — bahkan, pencarian penebusan. Orang-orang yang saya jumpai sering mengungkapkan pencarian makna yang melampaui konteks hidup mereka sebelumnya. Percakapan katekese membuka ruang di mana pertanyaan-pertanyaan besar — penderitaan, rasa bersalah, pengampunan, harapan — dapat dibahas secara terstruktur. Jelas bahwa pertobatan tidak hanya lahir dari isi doktrinal, tetapi juga dari relasi yang dibangun atas kepercayaan dan mendengarkan. Pendampingan pastoral, yang dijalankan secara berkelanjutan, berfungsi sebagai jembatan hakiki yang melaluinya iman menjadi dapat dibayangkan dan dijangkau. Unsur sentral dari pertobatan-pertobatan yang diamati adalah perjumpaan dengan gambaran Allah yang mengampuni dan mengangkat orang. Hal ini sangat bermakna dalam konteks yang ditandai rasa bersalah dan penghukuman. Maka, tampak minat yang diperbarui pada dimensi rohani dan eksistensial iman. Pertobatan sering tampil sebagai pengalaman pribadi yang kuat.”

“Kebangkitan Kembali” Kerygma: Peran Keluarga dan Doa

128Dalam keluarga, bukan hanya perubahan zaman, tetapi juga peristiwa-peristiwa tragis dapat menguji iman pribadi dengan berat. Namun, bahkan dalam situasi-situasi ini, Tuhan tidak meninggalkan anak-anak-Nya, sebagaimana dibuktikan kisah dari Chili ini: “Iman saya telah melemah sedemikian rupa sehingga saya bahkan menyatakan diri sebagai ateis. Di tengah padang gurun itu, suatu pukulan yang menghancurkan datang: kematian ibu saya. Selama lima tahun saya memikul duka yang tak terhiburkan; saya menangisinya setiap hari tanpa menemukan jawaban. Saat itulah Allah memakai kesempatan yang paling sederhana: kelas katekismus putri bungsu saya. Saya menghadiri pertemuan-pertemuan itu hanya karena rasa kewajiban. Dalam proses itulah hal yang tak terduga terjadi: melalui Ekaristi, saya mengalami perjumpaan pribadi — atau lebih tepat, perjumpaan kembali — dengan Yesus Kristus. Ia mengambil kepedihan saya, menghapus air mata saya untuk ibu saya, dan memberi saya damai yang tidak dapat diberikan dunia.”

129Kesaksian lain, menyangkut hambatan-hambatan dalam meneruskan iman di dalam keluarga, datang dari seorang ibu di Slowakia: “Ayah saya seorang pecandu alkohol. Ia menghancurkan ibu saya dan saya selama masa kecil saya… Bila mabuk, ia agresif; ia memaki, menghujat, menghancurkan perabot di rumah… apa saja yang terjangkau tangannya; kami sering harus melarikan diri dari rumah. Selama bertahun-tahun, rasa tidak mau mengampuni — dan barangkali bahkan kebencian — terhadapnya menumpuk dalam diri saya. Baru di dalam komunitas, melalui Sabda Allah dan pembinaan, saya menyadari bahwa saya menghakimi ayah saya karena siapa dia, dan bahwa saya juga menghakimi Allah karena memberi saya ayah seperti itu. Ketika saya menemukan keberanian, dalam terang Sabda Allah, saya pergi menemui ayah saya dan meminta maaf kepadanya. Itu pengalaman yang sangat kuat bagi saya. Meskipun ayah saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang saya katakan, saya melihat bahwa akhirnya saya menemukan damai batin, dan relasi kami pun membaik. Meskipun ayah saya sama sekali tidak menjalankan agama, ia berpulang ke keabadian dalam keadaan berdamai dengan ibu saya dan saya setelah mengaku dosa. [Kini] suami saya dan saya berkomitmen meneruskan iman kepada keempat anak kami. Kami mengajar mereka dengan membagikan pengalaman kami sendiri, bukan dengan menggurui (dalam arti ‘kamu juga harus melihat atau melakukannya dengan cara ini’). Kami mengatakan kepada mereka bahwa Allah akan berkarya dengan cara khusus dalam hidup mereka juga, dan bahwa penting untuk menyambut segala bantuan yang ditawarkan Gereja kepada mereka, supaya mereka dapat menjalani hidup yang bermakna.”

130Pada saat lain, pasangan yang beriman yang menarik pasangannya ke dalam perjalanan iman, sebagaimana dibuktikan pengalaman dari Amerika Serikat ini: “Perjalanan saya menuju Gereja Katolik dimulai karena tunangan saya. Ia dibesarkan sebagai Katolik, dan imannya selalu penting baginya. Ketika kami bersiap untuk menikah, ia mengungkapkan keinginannya untuk menikah secara Katolik. Karena ingin lebih memahami sesuatu yang begitu bermakna baginya, saya memutuskan untuk menjelajahi iman itu. Saya menjumpai komunitas yang ramah dan sekelompok pengajar yang berdedikasi, yang membuat proses belajar itu menarik dan bermakna. Saya terkesan oleh komunitas paroki dan kebaikan yang dilakukannya bagi masyarakat setempat. Orang-orang di sana menanamkan dalam diri saya nilai bukan hanya memiliki iman, tetapi juga menghayatinya. Ketika saya menantikan penerimaan Baptis dan Krisma pada Malam Paskah, saya melakukannya dengan rasa syukur dan penuh harap.”

131Suatu kesaksian dari Jepang menunjuk ke arah yang sama: “Seorang pria mulai bersentuhan dengan Gereja melalui perkawinannya dengan seorang perempuan Katolik. Mula-mula, ia mengikuti kursus persiapan perkawinan semata-mata sebagai persiapan pernikahan, tetapi perlahan-lahan ia merasa tertarik oleh sambutan hangat komunitas paroki dan keheningan liturgi. Setelah anaknya lahir, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri apa yang ingin ia wariskan kepada anaknya dalam hidup, dan setelah menjalani pendalaman iman yang lebih dalam, ia dibaptis beberapa tahun kemudian. Baginya, Gereja yang semula ia datangi demi keluarganya menjadi tempat di mana cara hidupnya sendiri dipertanyakan.”

132Bahkan Sakramen Perkawinan dapat menjadi kesempatan untuk menemukan kembali iman, sebagaimana dibuktikan pengalaman yang dibagikan para uskup Angola: “Sepasang tunangan: sang perempuan Katolik, dari keluarga di mana iman diwariskan dengan sangat kuat dari generasi ke generasi; sang pria acuh tak acuh terhadap Allah dan agama. Sang perempuan memberitahunya bahwa perkawinan Katolik merupakan syarat mutlak (sine qua non) bagi kelanjutan hubungan mereka. [Dalam suatu pertemuan keluarga,] seorang imam — kerabat dari keluarga sang pria — menegur tunangan Katolik itu tentang niatnya menikah dengan seorang pria yang hanya bersedia memberinya kesenangan upacara pernikahan Katolik, sambil mengabaikan nilai hakiki perkawinan itu. [Imam itu] juga menegur sang pria, yang hanya memikirkan aspek jasmani dan mengabaikan setiap aspek lain dari nilai perkawinan. Tersadar, sang pria merasa malu akan kontradiksi-kontradiksinya… ia, yang sama sekali tidak memiliki latar belakang Kristiani — justru hal yang kini mulai bermakna baginya. Pengalaman yang mengguncang ini membangkitkan rasa ingin tahunya akan iman Katolik; ia mulai mengikuti katekese, dibaptis, menyelesaikan kursus persiapan perkawinan, menikah di gereja, dan menjadi peserta tetap liturgi serta aktif dalam kehidupan pastoral paroki.”

133Pada saat lain, kebangkitan kembali iman lahir dari pengalaman doa dan persaudaraan, seperti dalam kasus seorang perempuan awam dari Polandia, yang menceritakan bagaimana ia menemukan kembali iman yang hidup melalui suatu prakarsa yang dimajukan gerakan karismatik Katolik: “Semuanya dimulai dengan keputusan untuk mengikuti retret yang berlangsung beberapa minggu, sebagai bagian dari Seminar Pembaruan Iman. Pada waktu itu, saya merasa hidup saya cukup baik, normal, dan teratur. Namun, semakin sering, jauh di dalam hati saya merasa bahwa apa yang menjadi dasar hidup saya tidaklah langgeng. Kekosongan yang semakin sering muncul dalam hati saya tidak dapat diisi oleh apa pun. Saya menyadari iman saya mati. Iman itu hanyalah pelaksanaan kewajiban dan praktik keagamaan tertentu yang diajarkan kepada saya. Selama Seminar, saya mengenal Allah yang mengasihi secara cuma-cuma, yang adalah Bapa, yang peduli, yang menunggu, dan yang mencari yang hilang untuk memberi mereka kasih, kebahagiaan, dan sukacita. Itulah perjumpaan pribadi saya dengan Yesus, yang secara nyata ‘menyentuh’ hati saya untuk menarik saya keluar dari kegelapan tempat saya hidup bertahun-tahun. Setelah air mata pemurnian itu datanglah sukacita besar, kebebasan, kekuatan, dan harapan yang memenuhi seluruh hati dan seluruh diri saya. Iman saya tidak lagi menjadi tambahan dalam hidup saya; ia menjadi satu-satunya makna keberadaan saya. Iman itu tidak lagi mati dan menjadi hidup. Akhirnya saya merasa aman, bebas, dan damai. Kata-kata Santo Agustinus, ‘Hati manusia gelisah sampai ia beristirahat dalam Allah,’ telah terpenuhi 100% dalam hidup saya.”

134Kesaksian lain yang sangat kuat dalam hal ini datang dari seorang mahasiswi Prancis: “Lahir dari seorang ayah Lebanon penganut Syiah yang menjadi ateis dan seorang ibu Prancis Katolik yang tidak mempraktikkan imannya, saya tumbuh dalam keadaan pengembaraan rohani. Orang tua saya ingin memberi kami kebebasan dalam pilihan keagamaan kami, tetapi keheningan ini lama terasa sebagai kekosongan. Namun, ketika saya berusia 8 tahun, saya menemukan sebuah Alkitab… Percikan awal ini dipupuk selama masa sekolah saya di Chartres, di mana saya menemukan perlindungan dan damai di bawah pilar-pilar katedral sepulang sekolah. Titik balik yang sesungguhnya terjadi pada tahun 2004, selama kelas persiapan saya [untuk masuk perguruan tinggi]. Sendirian, jauh dari keluarga, dan tertekan oleh beban ujian masuk, saya mengalami suatu pewahyuan sejati. Suatu malam, sambil duduk di meja belajar, kebenaran itu menjadi jelas: Allah ada; Ia ada di sana, tepat di samping saya, dengan kehadiran yang nyaris dapat diraba. Kelegaan yang luar biasa ini mengubah kesepian saya menjadi perjalanan bersama teman yang baik. Kemudian Tuhan menempatkan saksi-saksi di jalan saya… [termasuk] seorang Kristiani Maronit, [yang] membawa dalam dirinya iman yang bercahaya. Suatu hari, ketika saya melihat gambar Hati Kudus Yesus yang ia simpan di dompetnya, saya menyadari bahwa Dialah — Yesus — yang mengunjungi saya malam itu di kamar asrama saya. Namun… irama kerja saya yang sangat padat membuat saya mengalami burnout pada tahun 2019. Dalam keruntuhan itu, hanya Yesus yang menyelamatkan saya. Lalu saya memulai ziarah penyembuhan… Saya mengubah hidup saya secara radikal. Kini hidup saya stabil dan bahagia; saya merasa akhirnya tiba waktunya untuk memenuhi janji saya. Dengan menerima sakramen-sakramen inisiasi Kristiani, saya ingin memeteraikan untuk selamanya perjanjian saya dengan Kristus yang tak pernah meninggalkan saya.”

135Pada saat lain, kuasa doa dan sakramen-sakramenlah yang memberi topangan pada masa krisis, sebagaimana dibuktikan pengalaman seorang perempuan dari Jamaika: “Saya seorang Katolik sejak lahir, dibesarkan oleh ibu yang Katolik setia. Sebagai anak yang tumbuh di sebuah kota yang sangat kecil di Jamaika, saya bahkan menjadi lektor dan melayani di altar karena banyak umat paroki hampir tidak berpendidikan, dan banyak yang tidak bisa membaca. Saya memberi Allah apa yang nyaman bagi saya untuk diberikan. Ada saat-saat ketika saya memberi 90%, dan saat lain hanya 20%. Sekitar 15 tahun yang lalu, meskipun saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar keluar dari [suatu] situasi, rasanya Allah tidak menjawab. Akhirnya, sampai pada titik di mana saya merasa bahwa Allah sama sekali tidak mendengarkan… Saya mulai percaya bahwa tidak ada gunanya berdoa. Maka, pada waktu itu, saya berhenti berdoa sama sekali… Yang menyusul adalah krisis iman yang besar. Saya mulai sungguh-sungguh mempertanyakan dan meragukan segala sesuatu. Saya merasa sangat seperti seorang penipu. Saya mengajar katekismus kepada anak-anak, padahal saya sendiri bahkan tidak yakin bahwa saya percaya apa yang saya ajarkan. Tetapi Allah selalu tahu di mana menemukan kita dan bagaimana menjangkau kita. Budi saya mulai memahami kuasa sejati dalam sakramen-sakramen… dan, terutama, dalam Ekaristi: bahwa Yesus sungguh ada di sana. Tantangan-tantangan yang saya pergulatkan — yang menyebabkan krisis iman saya — masih ada, tetapi yang berubah adalah cara saya berdoa. Fokus doa saya bukan lagi apa yang dapat Allah berikan kepada saya. Sebaliknya, saya bertanya apa yang dapat saya berikan kepada Allah.”

Kesaksian Cinta Kasih, Budaya, dan Keindahan

136Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, salah satu jalan penting menuju iman adalah keindahan — via pulchritudinis — keindahan yang, sebagaimana diajarkan para guru abad pertengahan, merupakan sintesis kebenaran dan kebaikan. Dalam satu kata, itulah keindahan kasih, yang menyatakan diri dalam berbagai rupa. Tema keindahan inilah, yang mampu memadukan ketelitian intelektual dan pengalaman estetis, yang menjadi konteks kesaksian seorang mahasiswa neurobiologi dari Swiss: “Saya tumbuh dalam keluarga ateis. Bagi kami, ‘Kartesian’ adalah semboyan — yang sering disajikan sebagai antitesis yang jelas terhadap iman. Kehadiran Allah dalam hidup saya menyatakan diri seperti bisikan angin di kejauhan. Pertama kali saya mengalami rasa kepenuhan ini adalah ketika mendengarkan pementasan luar biasa sebuah karya Chopin. Kemudian ada malam itu ketika, dari puncak sebuah gunung di Krimea, saya memandangi luasnya Laut Hitam dan pegunungan yang terbentang di bawah kaki saya. Saya pikir saya merasakan damai itu karena sedang merenungkan keindahan umat manusia. [Lalu] suatu hari saya melangkah masuk melalui pintu Katedral Chartres. Pertanyaan itu tidak lagi muncul: sumbernya ada di sana, di depan mata saya. Saya tidak tahu kapan perjalanan saya bersama Allah dimulai, tetapi saya yakin saya menyambut-Nya pertama kali ketika saya berlutut untuk berdoa. Itu seperti mandi dalam damai, balsam bagi jiwa. Ketika saya menyadari jalan yang sedang saya tempuh, saya memutuskan untuk tidak menonjolkan diri. Di lingkungan ilmiah, setiap kali topik ini disinggung, selalu disertai perdebatan panjang, kritik merendahkan, bahkan penghujatan terang-terangan. Saya menjalani doa-doa pertama, rosario-rosario pertama, dan Misa-misa pertama saya seorang diri. Saya pikir saya akan bergabung dengan komunitas setelah memperoleh cukup pengetahuan. Betapa terkejutnya saya, justru komunitaslah yang menyambut saya. Saya beruntung telah dibaptis, berkat desakan kakek-nenek dari pihak ibu. Saya percaya waktunya telah tiba untuk menutup bab penemuan ini dan melangkah sepenuhnya ke dalam hidup saya sebagai seorang Katolik. Karena itu saya telah memulai perjalanan menuju Krisma.”

137Pada saat lain, kesederhanaan cinta kasih — yang dinyatakan dalam kebaikan hati dan keramahan — yang membuka pintu menuju iman, seperti dalam kesaksian seorang katekumen Vietnam, yang dibagikan para uskup Malaysia: “Saya lahir dalam keluarga Buddha. Saya tumbuh tanpa banyak memperhatikan agama. Saya datang ke Malaysia karena ingin belajar bahasa Inggris. Kursus semacam itu di Vietnam mahal, tetapi saya menemukan kelas bahasa Inggris gratis yang diselenggarakan oleh orang-orang Kristiani Filipina. Saya disambut oleh semua orang. Mereka mengajar dengan tulus dan bahkan menyediakan makanan dan minuman. Saya dapat melihat kebaikan dan kemurahan hati mereka. Mereka memperlakukan semua orang dengan setara. Dalam salah satu kelas, diputar sebuah video tentang sengsara dan kebangkitan Yesus, yang diakhiri dengan pertanyaan sederhana: Di manakah Allah? Tetapi saya merasakan sesuatu. Itu getaran kecil — tetapi tetap tinggal. Bertahun-tahun kemudian, saya berkenalan dengan seorang [Kristiani] Malaysia melalui pekerjaan dan mulai mengikuti Misa bersamanya. Di gereja, orang-orang ramah, dan homili-homilinya menyentuh saya. Tetapi pertanyaan lama itu kembali: Siapakah Allah? Dengan bantuan teman saya, saya mendaftar kelas katekumenat dan akan dibaptis tahun ini. Saya merasa lebih kuat, tidak terlalu takut menghadapi tantangan hidup. Saya bukan hanya siap menjadi Katolik, tetapi siap menjadi bagian dari mukjizat Allah.”

Penutup

138Menjelang akhir hidupnya, Paus Fransiskus mempercayakan kepada Dikasteri untuk Ajaran Iman tugas menyajikan kepada Gereja suatu refleksi tentang penerusan iman, dan Paus Leo XIV kemudian menegaskan kembali permintaan ini. Dikasteri telah menerima tugas ini dalam semangat pembaruan misioner yang diminta dari seluruh Umat Allah, termasuk lembaga-lembaga Kuria Roma. Sesungguhnya, pelayanannya tidak terbatas pada menjaga perbendaharaan ajaran yang harus diimani (credere Deum), tetapi juga mencakup memajukan segala sesuatu yang menumbuhkan keterlibatan pribadi dan aktif dalam menerima terang iman (credere Deo dan credere in Deum). Secara khusus, hal ini termasuk tugas Seksi Doktrinal Dikasteri, yang dipanggil untuk mendorong “studi-studi yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan penerusan iman dalam pelayanan evangelisasi, supaya terangnya dapat menjadi tolok ukur untuk memahami makna keberadaan.”130 Karena itu, persoalan penerusan iman tidak menjauhkan kita dari depositum fidei, juga tidak berarti mereduksi pembahasan pada dimensi subjektif fides qua semata. Sebaliknya, persoalan ini memanggil umat beriman untuk kembali ke inti warisan iman Kristiani. Kerygma, sesungguhnya, adalah isi sentralnya, yang bagaikan benang emas melintasi hierarki harmonis “kebenaran-kebenaran ajaran Katolik”131 dan menerangi seluruh isi depositum fidei, sambil menarik orang kepada pengalaman perjumpaan pribadi dan komunal dengan Kristus yang hidup.

139Sepanjang refleksi yang diuraikan dalam dokumen ini, Dikasteri untuk Ajaran Iman dengan gembira menyambut tanggapan murah hati dari banyak Konferensi Waligereja, yang telah mengungkapkan keprihatinan tulus mereka atas persoalan ini. Kekayaan sumbangan yang diterima melampaui cakupan satu dokumen. Karena itu, persoalan yang dibahas dalam Pertimbangan-pertimbangan ini tetap terbuka bagi studi lebih lanjut dan perkembangan baru. Dikasteri ini mengakui bahwa karya ini termasuk dalam wewenang Dikasteri lain: yakni Seksi untuk Persoalan-persoalan Mendasar Evangelisasi di Dunia pada Dikasteri untuk Evangelisasi, yang telah lama terlibat dalam penelitian dan dialog bukan hanya tentang penerusan iman, tetapi juga tentang pokok-pokok terkait, seperti katekumenat, berbagai bentuk katekese, pembinaan umat beriman, konteks-konteks komunal untuk menyambut dan memelihara umat beriman baru, dan lain-lain.

140Kami ingin menutup Pertimbangan-pertimbangan tentang penerusan iman dalam konteks perubahan zaman ini dengan suatu gambaran yang sangat berharga bagi setiap orang beriman, yang mampu menjadi lambang pengharapan bagi masa depan. Itulah gambaran penyalaan lilin Paskah dan penempatannya di dekat altar, setelah perarakan melintasi panti umat, dalam Malam Paskah meriah menurut Ritus Latin. Sebagaimana diketahui, perarakan dimulai setelah lilin dinyalakan; semua berjalan dengan lilin yang belum menyala di tangan, kecuali diakon, yang membawa lilin Paskah. Selanjutnya, pertama-tama selebran, lalu para peserta lainnya, menerima dari lilin Paskah — atau dari lilin-lilin yang dinyalakan darinya — nyala api untuk menyalakan lilin mereka sendiri; mereka pada gilirannya dapat meneruskannya kepada orang lain.

141Tiga kali, dengan seruan “Cahaya Kristus” (atau, di beberapa negara, rumusan lain), diakon mewartakan kepada dunia kehadiran terang Kristus, yang menjadi kelihatan ketika lilin-lilin dinyalakan secara bertahap. Maka, dari satu nyala lilin Paskah, lilin-lilin umat beriman dinyalakan secara bertahap dengan tertib, dan pada akhir perarakan, lampu-lampu gereja pun dinyalakan.

142Demikianlah kami ingin membayangkan dorongan yang hendak diberikan Pertimbangan-pertimbangan ini kepada Gereja pada masa perubahan zaman ini. Pertimbangan-pertimbangan ini ingin memberikan pengingat yang kuat bahwa Kristus adalah terang yang sejati. Ia menerangi karena Ia membebaskan kita dari kegelapan dan menuntun kita ke dalam kepenuhan hidup, yang mencapai kesempurnaannya ketika kita menyambut kasih Allah yang tanpa syarat ke dalam hati kita. Kita, orang-orang beriman, telah dianugerahi rahmat berjumpa dengan terang dan membiarkan hidup kita diterangi oleh “terang yang sejati” dunia (bdk. Yoh 1:9). Kini giliran kita untuk meneruskan anugerah yang sama ini kepada para lelaki dan perempuan zaman kita, yang — barangkali tanpa sepenuhnya menyadarinya — juga menantikan kemungkinan untuk menyalakan hidup mereka dari sumber yang sama dari segala rahmat, yakni terang yang bersinar di dunia.

143Akhirnya, kita tidak dapat melupakan kesaksian begitu banyak pewarta awam yang belakangan ini telah mencapai kekudusan. Banyak orang muda mengagumi semangat evangelisasi Santo Carlo Acutis, demikian pula teladan mengagumkan Santa María Antonia de Paz y Figueroa, yang dikenal sebagai “Mama Antula”, dalam ziarah evangelisasinya yang panjang. Banyak orang awam telah menyerahkan hidup mereka bagi karya membawa terang Kristus: Santo Sebastianus, Santo Paulus Chong Hasang, dan Santo Petrus To Rot. Bersama mereka, para kontemplatif memelihara api iman melalui doa dan permohonan, sebab tanpa karya Roh Kudus segala upaya kita sia-sia. Karena itu, kami mengajak semua komunitas untuk memajukan waktu-waktu doa dan permohonan yang menopang penerusan terang iman.

144Maria, yang telah menghadirkan diri di tengah berbagai bangsa melalui beragam bentuk iman dan devosi mereka, sehingga kedekatan keibuannya semakin dapat dikenali, senantiasa membawa serta terang dan kasih Tuhan. Injil menceritakan kepada kita bahwa ia telah melakukannya sejak awal, ketika ia membawa Yesus kepada Elisabet (bdk. Luk 1:39–45). Ia terus melakukannya juga dewasa ini, dengan menawarkan keindahan Injil. Maria, sesungguhnya, dengan saksama merenungkan dan menyimpan dalam hatinya segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan Kristus (bdk. Luk 2:19, 51). Ia adalah saksi agung, dari Inkarnasi dan kelahiran Tuhan sampai wafat-Nya di Salib dan Kebangkitan-Nya, yang menyertai-Nya sepanjang seluruh hidup-Nya di dunia. Karena itu, di hadapan wajah Maria, umat beriman mengenali “dalam gambaran keibuan ini seluruh misteri Injil.”132 Mereka yang memandang iman Maria orang-orang sederhana dengan sikap yang semata-mata intelektual berisiko gagal memahami bahwa Injil Kristus sering diteruskan secara mistagogis: melalui simbol, pengalaman, kepercayaan, dan kasih sayang. Marilah kita memohon kepada Maria, guru kita dalam meneruskan iman, agar menjadi perantara bagi kita dalam komitmen kita yang diperbarui untuk membawa terang Kristus kepada generasi-generasi baru.

Paus Leo XIV, dalam audiensi yang diberikan kepada Prefek yang bertanda tangan di bawah ini bersama Sekretaris Seksi Doktrinal Dikasteri untuk Ajaran Iman pada 21 Agustus 2026, Peringatan Wajib Santo Pius X, Paus, telah menyetujui dokumen ini, yang telah diputuskan dalam Sidang Biasa Dikasteri ini pada 24 Juni 2026, Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, dan telah memerintahkan penerbitannya.

Diberikan di Roma, di kantor Dikasteri untuk Ajaran Iman, pada 22 Oktober 2026, Peringatan Santo Yohanes Paulus II, Paus.

Víctor Manuel Kardinal FernándezPrefek

Mgr. Armando MatteoSekretaris Seksi Doktrinal

Ex Audientia die 21 Augusti 2026

Leo PP. XIV

Catatan Kaki

  1. 1Leo XIV, Amanat kepada Konferensi Waligereja Italia (17 Juni 2025): L’Osservatore Romano, 17 Juni 2025, 2. ↩︎
  2. 2Leo XIV, Amanat kepada Peserta Sidang Pleno Dikasteri untuk Evangelisasi — Seksi untuk Persoalan-persoalan Mendasar Evangelisasi di Dunia (28 Mei 2026): L’Osservatore Romano, 28 Mei 2026, 2. ↩︎
  3. 3Untuk membantu pembaca menelusuri Pertimbangan-pertimbangan ini, yang terbentang dalam beberapa bab, kiranya berguna sejak awal memberikan gambaran singkat alur tematisnya. Bab I dan II meletakkan dasar-dasar teologis, bertolak dari pewartaan kasih Bapa yang dinyatakan dalam pribadi dan karya Yesus dari Nazaret dan berlanjut ke konteks-konteks utama penerusannya di dalam Gereja — yakni keluarga dan komunitas. Bab III berfokus pada tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan zaman ini, yang ditandai kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempertahankan bentuk-bentuk tradisional penerusan iman. Bab IV menanggapi tantangan-tantangan ini dengan menunjuk jantung karya ini — yakni pewartaan kerygma. Bab V menyajikan refleksi praktis tentang penerusan iman dalam kehidupan komunitas, dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan itu, sedangkan Bab VI dan VII masing-masing menyelidiki relasi antara iman dan budaya serta menyoroti beberapa keprihatinan pastoral khusus. Akhirnya, Bab VIII menghimpun beberapa kesaksian pribadi yang konkret yang melukiskan penerusan iman dalam konteks kehidupan sehari-hari orang. ↩︎
  4. 4Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (7 Desember 1965), 22: AAS 58 (1966), 1043. ↩︎
  5. 5Fransiskus, Seruan Apostolik Christus Vivit (25 Maret 2019), 1: AAS 111 (2019), 391. ↩︎
  6. 6Benediktus XVI, Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005), 1: AAS 98 (2006), 217. ↩︎
  7. 7Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 1: AAS 105 (2013), 1019. ↩︎
  8. 8Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 1: AAS 105 (2013), 555–556. ↩︎
  9. 9Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 37: AAS 105 (2013), 580. ↩︎
  10. 10Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 38: AAS 105 (2013), 580. ↩︎
  11. 11Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (18 November 1965), 8: AAS 58 (1966), 821. ↩︎
  12. 12Bdk. Sidang Umum Biasa XIII Sinode Para Uskup, Instrumentum Laboris (2012), 105. ↩︎
  13. 13Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 38: AAS 105 (2013), 581. ↩︎
  14. 14Benediktus XVI, Homili pada Misa Kudus Pembukaan Konferensi Umum Kelima Para Uskup Amerika Latin dan Karibia (13 Mei 2007): Insegnamenti III, 1 (2007), 848–849. ↩︎
  15. 15Leo XIV, Amanat pada Konsistori Luar Biasa (7 Januari 2026): L’Osservatore Romano, 8 Januari 2026, 2. ↩︎
  16. 16Leo XIV, Homili pada Yubileum Keluarga, Kakek-Nenek, dan Lansia (1 Juni 2025): L’Osservatore Romano, 2 Juni 2025, 2. ↩︎
  17. 17Leo XIV, Homili pada Pesta Pembaptisan Tuhan (11 Januari 2026): L’Osservatore Romano, 12 Januari 2026, 4. ↩︎
  18. 18Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 43: AAS 105 (2013), 584. ↩︎
  19. 19Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 53: AAS 105 (2013), 591. ↩︎
  20. 20Kesaksian pribadi P. Duval, tersedia di http://pierre.aime.duval.free.fr/priere.htm (asli dalam bahasa Prancis). ↩︎
  21. 21Fransiskus, Homili pada Pesta Pembaptisan Tuhan dan Perayaan Pembaptisan Beberapa Anak (7 Januari 2018): L’Osservatore Romano, 8–9 Januari 2018, 8. ↩︎
  22. 22Leo XIV, Homili pada Yubileum Para Katekis (28 September 2025): L’Osservatore Romano, 29 September 2025, 2. ↩︎
  23. 23Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 70: AAS 105 (2013), 1049–1050. ↩︎
  24. 24Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 18: AAS 105 (2013), 565. ↩︎
  25. 25Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 14: AAS 105 (2013), 1025, yang mengutip Benediktus XVI, Homili pada Misa Penutupan Sinode Para Uskup (28 Oktober 2012): AAS 104 (2012), 890. Penekanan sesuai aslinya. ↩︎
  26. 26Fransiskus, Ucapan Selamat Natal kepada Kuria Roma (21 Desember 2019): AAS 112 (2020), 43. Lebih tepatnya, ungkapan “perubahan zaman” tidak pertama kali muncul dalam amanat itu; Paus Fransiskus sudah menggunakannya dalam wawancara 29 Juni 2014 dengan surat kabar Italia Il Messaggero. ↩︎
  27. 27Dewan Waligereja Amerika Latin dan Karibia (CELAM), Dokumen Akhir Konferensi Umum Kelima Para Uskup Amerika Latin dan Karibia (13–31 Mei 2007), 44. ↩︎
  28. 28Bdk. Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), 30: AAS 112 (2020), 979–980. ↩︎
  29. 29Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 6. ↩︎
  30. 30Leo XIV, Amanat kepada Para Superior Mayor Serikat Yesus (24 Oktober 2025): L’Osservatore Romano, 24 Oktober 2025, 5. ↩︎
  31. 31Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 26. ↩︎
  32. 32Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 70: AAS 105 (2013), 1049. ↩︎
  33. 33Konferensi Waligereja Katolik Rusia, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 30 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  34. 34Bdk. Konferensi Waligereja Albania, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 19 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  35. 35Gereja Metropolitan Katolik Yunani Hongaria, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Gereja sui iuris, 7 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  36. 36Konferensi Waligereja Chili, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 11 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  37. 37Bdk. Konferensi Waligereja Antilla, Surat Gembala A Mandate for the Kingdom: Mission and Evangelization in the Caribbean, 9 Januari 2018, 30. ↩︎
  38. 38Konferensi Waligereja Panama, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 14 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  39. 39Bdk. Konferensi Waligereja Kolombia, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 16 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  40. 40Bdk. Konferensi Waligereja Peru, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 30 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  41. 41Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Korea, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 31 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  42. 42Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Malaysia, Singapura, dan Brunei, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 3 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  43. 43Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Bangladesh, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 15 Mei 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  44. 44Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Jepang, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 20 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  45. 45Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Asia Tengah, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 3 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  46. 46Konferensi Waligereja Katolik Afrika Selatan, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 4 Mei 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  47. 47Bdk. Konferensi Waligereja Katolik Zambia, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 10 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  48. 48Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 73: AAS 105 (2013), 1050–1051. ↩︎
  49. 49Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 30 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  50. 50Konferensi Waligereja Rumania, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 14 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  51. 51Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), 105: AAS 112 (2020), 1005. ↩︎
  52. 52Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 64: AAS 105 (2013), 1047. ↩︎
  53. 53Konferensi Waligereja Spanyol, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 14 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  54. 54Konferensi Waligereja Brasil, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 31 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  55. 55Konferensi Waligereja Austria, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 31 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  56. 56Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 4. ↩︎
  57. 57Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 139. ↩︎
  58. 58Sidang Umum Biasa XVI Sinode Para Uskup, Laporan Sintesis Sidang Pertama (28 Oktober 2023), 17 a). Bdk. Leo XIV, Amanat kepada Peserta Konferensi “Artificial Intelligence and Care of Our Common Home” (5 Desember 2025): L’Osservatore Romano, 5 Desember 2025, 2. ↩︎
  59. 59Leo XIV, Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 (24 Januari 2026): L’Osservatore Romano, 24 Januari 2026, 2. ↩︎
  60. 60Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 132. ↩︎
  61. 61Konferensi Waligereja Belgia, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 3 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  62. 62Konferensi Waligereja Chili, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 11 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  63. 63Untuk rincian penelitian ini, lihat https://eglise.catholique.fr/approfondir-sa-foi/la-celebration-de-la-foi/les-sacrements/le-bapteme/baptemes-adultes/. ↩︎
  64. 64Bdk. Patriarkat Maronit Antiokhia, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Patriarkat, 1 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  65. 65Konferensi Waligereja Katolik Nigeria, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 6 Mei 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  66. 66Konferensi Waligereja Tanzania, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 26 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  67. 67Bdk. Konferensi Waligereja Pantai Gading, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 15 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  68. 68Bdk. Konferensi Waligereja Nasional Kongo, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 30 Maret 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  69. 69Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 223. ↩︎
  70. 70Leo XIV, Surat kepada Para Kardinal (14 April 2026): L’Osservatore Romano, 14 April 2026, 7. Bdk. idem, Amanat pada Yubileum Para Misionaris Digital dan Influencer (29 Juli 2025): L’Osservatore Romano, 29 Juli 2025, 2. ↩︎
  71. 71Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (18 November 1965), 2: AAS 58 (1966), 818. ↩︎
  72. 72Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (18 November 1965), 5: AAS 58 (1966), 819. [Catatan penerjemah: catatan ini terpotong dalam teks bahasa Inggris; dilengkapi menurut teks bahasa Prancis.] ↩︎
  73. 73Bdk. Komisi Teologi Internasional, Interpretasi Dogma (1990), B.I.1. ↩︎
  74. 74Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 164: AAS 105 (2013), 1088–1089. ↩︎
  75. 75Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, Direktorium Katekese (2020), 57. ↩︎
  76. 76Bdk. Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, Direktorium Katekese (2020), 56–57. ↩︎
  77. 77Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 22. ↩︎
  78. 78Bdk. https://www.evangelizatio.va/content/pcpne/en/attivita/catechesi.html. ↩︎
  79. 79Fransiskus, Ensiklik Dilexit Nos (24 Oktober 2024), 26: AAS 116 (2024), 1377. ↩︎
  80. 80Benediktus XVI, Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005), 31: AAS 98 (2006), 245. ↩︎
  81. 81Agustinus, Confessiones XII, 16, 23: PL 32, 834. ↩︎
  82. 82Fransiskus, Seruan Apostolik Christus Vivit (25 Maret 2019), 211: AAS 111 (2019), 450. ↩︎
  83. 83A. Hurtado, “Ustedes son la luz del mundo”, amanat di Cerro San Cristóbal, Chili (1940), sebagaimana dikutip dalam Fransiskus, Seruan Apostolik Christus Vivit, 175: AAS 111 (2019), 440. ↩︎
  84. 84Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 70: AAS 105 (2013), 1050. ↩︎
  85. 85Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 165: AAS 105 (2013), 1089. ↩︎
  86. 86Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekret Unitatis Redintegratio (21 November 1964), 11: AAS 57 (1965), 99. ↩︎
  87. 87Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 36–37: AAS 105 (2013), 1035. ↩︎
  88. 88Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 165: AAS 105 (2013), 1089. ↩︎
  89. 89Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 127–129: AAS 105 (2013), 1073. ↩︎
  90. 90Fransiskus, Surat Apostolik Aperuit Illis (30 September 2019), 8: AAS 111 (2019), 1500. ↩︎
  91. 91Bdk. Aelredus dari Rievaulx, De spiritali amicitia: CCCM 1, 279–350. ↩︎
  92. 92Fransiskus, Seruan Apostolik Christus Vivit (25 Maret 2019), 151: AAS 111 (2019), 432. ↩︎
  93. 93Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (7 Desember 1965), 52: AAS 58 (1966), 1073. ↩︎
  94. 94Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 24: AAS 105 (2013), 1030. ↩︎
  95. 95Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 45: AAS 105 (2013), 1039. ↩︎
  96. 96Bdk. Prosper dari Aquitania, Indiculus, bab 8: PL 51, 209. ↩︎
  97. 97Agustinus, Confessiones IX, 6, 14: PL 32, 769–770. ↩︎
  98. 98R. Guardini, Spiegel und Gleichnis. Bilder und Gedanken, Mainz–Paderborn 1990, 158–161. ↩︎
  99. 99Fransiskus, Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018), 9: AAS 110 (2018), 1113. ↩︎
  100. 100Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (21 November 1964), 11: AAS 57 (1965), 15–16. ↩︎
  101. 101Fransiskus, Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018), 14: AAS 110 (2018), 1115. ↩︎
  102. 102Terentius, Heauton Timorumenos, I, 1, 25 (Homo sum, humani nihil a me alienum puto). ↩︎
  103. 103Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 122. ↩︎
  104. 104Leo XIV, Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 3: AAS 117 (2025), 1240. ↩︎
  105. 105Leo XIV, Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 104: AAS 117 (2025), 1280–1281. ↩︎
  106. 106H. U. von Balthasar, The Glory of the Lord: A Theological Aesthetics I: Seeing the Form, terj. E. Leiva-Merikakis, Ignatius Press, San Francisco 2009, 148 (ed. Prancis: La Gloire et la Croix, vol. 1, Paris 1981, 128). Dapat ditambahkan: “Jika verum kehilangan semarak (splendor) yang bagi Thomas merupakan tanda khas keindahan, maka pengetahuan akan kebenaran tetap bersifat pragmatis dan formalistis. […] Tetapi jika bonum kehilangan voluptas yang bagi Agustinus merupakan tanda keindahannya, maka relasi dengan kebaikan tetap bersifat utilitaristis dan hedonistis” (ibid., 147). ↩︎
  107. 107Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 167: AAS 105 (2013), 1090. ↩︎
  108. 108Leo XIV, Salam kepada Peserta “Konser bersama Kaum Miskin” (6 Desember 2025): L’Osservatore Romano, 9 Desember 2025, 4. ↩︎
  109. 109Yohanes Paulus II, Amanat kepada Peserta Kongres Nasional Gerakan Gerejawi untuk Keterlibatan Budaya (16 Januari 1982), 2: Insegnamenti V, 1 (1982), 131, yang mengutip Paulus VI, Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975), 20: AAS 68 (1976), 18. Bdk. Dewan Kepausan untuk Kebudayaan, Menuju Pendekatan Pastoral terhadap Budaya (23 Mei 1999). ↩︎
  110. 110Yohanes Paulus II, Ensiklik Slavorum Apostoli (2 Juni 1985), 21: AAS 77 (1985), 802. ↩︎
  111. 111Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio (7 Desember 1990), 52: AAS 83 (1991), 300. ↩︎
  112. 112Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 122: AAS 105 (2013), 1071. ↩︎
  113. 113Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 127: AAS 105 (2013), 1073. ↩︎
  114. 114Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 132: AAS 105 (2013), 1075. ↩︎
  115. 115Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (7 Desember 1965), Bab I: AAS 58 (1966), 1034–1044. ↩︎
  116. 116Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 3. ↩︎
  117. 117Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 123: AAS 105 (2013), 1071. ↩︎
  118. 118Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 126: AAS 105 (2013), 1073. ↩︎
  119. 119Ini adalah fenomena yang, sejak beberapa tahun terakhir, ditandai keterlibatan orang muda yang terus meningkat dalam konfraternitas-konfraternitas religius atau dalam kelompok-kelompok orang muda yang terkait dengan dunia Katolik. Selain partisipasi dalam kehidupan konfraternitas itu sendiri, yang memuncak dalam perarakan-perarakan tradisional yang diselenggarakan pada hari-hari raya besar di ruang publik, ada pula pertemuan-pertemuan nasional yang menarik jumlah peserta yang terus bertambah, sebagaimana sudah dicatat pada tahun 2016 oleh majalah digital Keuskupan Agung Madrid: bdk. https://alfayomega.es/las-cofradias-se-han-convertido-en-puerta-de-entrada-a-la-iglesia-para-muchos-jovenes/. ↩︎
  120. 120Bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 135–144: AAS 105 (2013), 1076–1080. ↩︎
  121. 121Konferensi Waligereja Katolik Ghana, Laporan tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 27 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  122. 122Bdk. Konferensi Waligereja Venezuela, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 2 April 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  123. 123Konferensi Waligereja Prancis, Laporan dan Kesaksian tentang Penerusan Iman di Wilayah Konferensi Waligereja, 5 Juni 2026, dalam Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman. ↩︎
  124. 124Leo XIV, Ensiklik Magnifica Humanitas (15 Mei 2026), 143. ↩︎
  125. 125Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekret Unitatis Redintegratio (21 November 1964), 1: AAS 57 (1965), 90. Bdk. idem, Dekret Ad Gentes (7 Desember 1965), 6: AAS 58 (1966), 954–955. ↩︎
  126. 126Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio (7 Desember 1990), 50: AAS 83 (1991), 297. ↩︎
  127. 127Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 246: AAS 105 (2013), 1119. ↩︎
  128. 128Ibid. ↩︎
  129. 129Kisah-kisah berikut adalah ringkasan yang disusun dari kutipan-kutipan teks asli kesaksian. Untuk memudahkan pembacaan, bagian yang dihilangkan tidak ditandai. Tambahan yang dibuat demi peringkasan ditandai dengan kurung siku. ↩︎
  130. 130Fransiskus, Surat Apostolik dalam bentuk Motu Proprio Fidem Servare (11 Februari 2022), 2: AAS 114 (2022), 288. ↩︎
  131. 131Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekret Unitatis Redintegratio (21 November 1964), 11: AAS 57 (1965), 99. ↩︎
  132. 132Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 285: AAS 105 (2013), 1135. Bdk. Dikasteri untuk Ajaran Iman, Nota Doktrinal Mater Populi Fidelis (4 November 2025), 77. ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.