Kosakata Sinodal & Maknanya

Dalam beberapa tahun terakhir, kata sinode, sinodal, dan sinodalitas bergema di hampir setiap sudut kehidupan Gereja: dari rapat dewan paroki hingga dokumen kepausan, dari katekese hingga percakapan sehari-hari. Keberhasilan sebuah kata, ironisnya, juga mengandung bahaya. Ketika sebuah kata dipakai untuk segala hal, ia berisiko kehilangan ketepatan maknanya — menjadi sekadar suasana, slogan, atau label untuk “rapat yang ramah”. Dokumen Akhir Sidang Umum Biasa ke-XVI Sinode Para Uskup menyadari risiko ini. Karena itu, alih-alhi membatasi pemakaian kosakata tersebut, dokumen ini berupaya memperjelas makna dan menetapkan batas konseptual. Kosakata Sinodal boleh digunakan secara luas, asalkan kita sungguh memahami apa yang dimaksudkannya.

Asal-usul kata : “berjalan bersama” dan “berhimpun”

Istilah “sinodal” lahir dari praktik gerejawi yang sangat tua, yaitu kebiasaan berhimpun dalam sinode-sinode. Menurut tradisi Gereja Timur maupun Barat, kata synodos menunjuk pada lembaga dan peristiwa yang sepanjang sejarah mengambil bentuk yang beraneka ragam, melibatkan banyak pelaku dan peserta. Yang menyatukan semua bentuk itu, menurut dokumen ini, adalah satu pola dasar: berkumpul bersama untuk berdialog, melakukan discernment, dan mengambil keputusan (§28).

Dokumen Akhir ini juga menautkan istilah sinode dengan synaxis, yaitu himpunan Ekaristi. Memang, ada hubungan erat antara “berhimpun” untuk merayakan Ekaristi dan “berhimpun” dalam sidang sinodal: pada keduanya, dalam bentuk yang berbeda, janji Yesus untuk hadir di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya digenapi (§27). Dengan demikian, sinodalitas bukan pinjaman dari bahasa organisasi modern; ia berakar dalam liturgi dan teologi Gereja — ia bermula dari Allah yang menghimpun umat-Nya.

Definisi pokok

Makna inti sinodalitas dirumuskan dengan cukup gamblang. Sinodalitas adalah perjalanan umat Kristiani bersama Kristus menuju Kerajaan Allah, dalam persatuan dengan seluruh umat manusia. Berorientasi pada misi, sinodalitas mencakup pertemuan pada semua tingkat Gereja untuk saling mendengarkan, berdialog, dan berdiskresi bersama, hingga mencapai konsensus dan mengambil keputusan menurut tanggung jawab bersama yang terdiferensiasi. Secara ringkas, Dokumen Akhir menyebutnya sebagai jalan pembaruan rohani sekaligus reformasi struktural yang memampukan Gereja menjadi lebih partisipatif dan misioner (§28).

Kedua dimensi itu harus dipegang bersama. Sinodalitas bukan semata urusan batin (pembaruan rohani) dan bukan semata urusan tata kelola (reformasi struktural); ia adalah keduanya sekaligus. Memisahkan salah satunya sudah merupakan langkah pertama menuju pengaburan makna.

Tiga arti yang harus dibedakan

Pembatasan yang paling tegas dalam Dokumen Akhir ini tidak diberikan dalam bentuk larangan, melainkan dalam bentuk distingsi. Dokumen ini menegaskan bahwa satu kata yang sama, “sinodalitas”, sesungguhnya menunjuk pada tiga realitas yang berbeda. Kekaburan makna sering muncul justru ketika ketiga arti ini dipakai secara bercampur aduk (§30). Karena itu, dokumen ini menjelaskan ketiganya secara terpisah:

a. Sinodalitas sebagai gaya hidup
Sinodalitas pertama-tama menunjuk pada corak khas dalam cara hidup dan bertindak (modus vivendi et operandi) yang menandai hidup dan misi Gereja sehari-hari sebagai Umat Allah yang berjalan bersama: mendengarkan Sabda, merayakan Ekaristi, serta menghidupi tanggung jawab dan partisipasi bersama.
b. Sinodalitas sebagai struktur dan proses
Dalam arti teologis-kanonis, sinodalitas juga menunjuk pada lembaga dan prosedur yang mengungkapkan kodrat sinodal Gereja pada tingkat lokal, regional, dan universal — misalnya sinode keuskupan dan dewan-dewan pastoral.
c. Sinodalitas sebagai peristiwa sinodal
Akhirnya, sinodalitas dapat berarti perhelatan yang dihimpun oleh otoritas yang berwenang menurut prosedur tertentu — misalnya Sinode Para Uskup itu sendiri.

Ketika seseorang berkata “kita harus lebih sinodal”, ia bisa memaksudkan salah satu dari ketiga hal ini: sebuah sikap hati, sebuah perombakan lembaga, atau sebuah acara. Kejelasan dimulai dari menyebut arti mana yang sedang dimaksud.

Bukan sekadar metode, tetapi dimensi konstitutif Gereja

Dokumen Akhir ini menyebut sinodalitas sebagai dimensi konstitutif Gereja (§28). Artinya, sinodalitas bukanlah tren pastoral, bukan program lima tahunan, melainkan sesuatu yang menjadi bagian dari hakikat Gereja sebagai Umat Allah. Dari sinilah lahir batas-batas yang menentukan: Sinodalitas bukan tujuan pada dirinya sendiri; ia melayani misi yang dipercayakan Kristus kepada Gereja (§32).

Pernyataan ini menjaga agar kosakata sinodal tidak menjadi narsistik, yakni Gereja yang sibuk membicarakan dirinya sendiri. Misi menerangi sinodalitas, dan sinodalitas mendorong pada misi; keduanya saling meneguhkan. Sebuah proses yang sangat partisipatif tetapi tidak mengarah pada pewartaan Injil belum tentu sinodal dalam arti yang dimaksud Dokumen Akhir ini.

Empat batas: Apa yang bukan sinodalitas?

Untuk menjaga kedalaman makna istilah-istilah tersebut, Dokumen Akhir ini menandai beberapa hal yang sering disangka sebagai sinodalitas, padahal bukan — atau setidaknya bukan keseluruhannya.

  1. Bukan sekadar penataan organisasi. Sinodalitas pertama-tama adalah disposisi rohani yang mengalir dari tindakan Roh Kudus dan menuntut mendengarkan Sabda, keheningan, serta pertobatan hati (§43). Tanpa kedalaman rohani pada tingkat pribadi maupun komunitas, sinodalitas “tereduksi menjadi kepraktisan organisasional” (§44). Struktur tanpa roh adalah cangkang.
  2. Bukan teknik pengambilan keputusan. Discernment ekklesial — jantung proses sinodal — ditegaskan sebagai praktik rohani yang berlandaskan iman yang hidup, bukan teknik organisasional. Ia menuntut kebebasan batin, kerendahan hati, doa, dan kepercayaan timbal balik, dan bukan sekadar penjumlahan pendapat (§82).
  3. Bukan opini publik atau jajak pendapat. Suara umat beriman (sensus fidei) yang menjadi dasar partisipasi tidak boleh dikacaukan dengan opini publik; ia selalu berjalan bersama diskresi para gembala dan mengarah pada konsensus iman (§22). Sinodalitas tidak menjadikan kebenaran iman sebagai hasil pemungutan suara.
  4. Bukan demokratisasi yang meniadakan otoritas. Dalam Gereja sinodal, otoritas Uskup, Dewan Para Uskup, dan Uskup Roma dalam pengambilan keputusan tetap tak tergantikan; konsultasi dan keputusan tidak dipertentangkan, melainkan dirangkai (§92). Bahkan, sinodalitas justru menawarkan “kerangka penafsiran yang paling tepat” untuk memahami pelayanan hierarkis — bukan menggantikannya (§33).

Istilah-istilah yang menyertai sinodalitas

Dalam perjalanan memahami sinodalitas, ada sejumlah istilah yang kerap muncul berdampingan. Istilah-istilah ini tidak identik dengan sinodalitas, tetapi masing-masing menerangi satu dimensi penting dari cara Gereja berjalan bersama. Karena itu, Dokumen Akhir menempatkannya sebagai kosakata pendamping yang membantu memperjelas makna “sinodalitas”.

1. Percakapan dalam Roh

Percakapan dalam Roh bukan sekadar diskusi atau tukar pendapat. Kata “percakapan” (conversatio) di sini menunjuk pada proses rohani di mana pikiran dan perasaan ditata dalam terang iman. Dokumen Akhir bahkan bermain kata: ada pertobatan (conversio) yang berlangsung dalam percakapan (conversatio) (§45). Dalam percakapan semacam ini, setiap orang mendengarkan dengan hati yang terbuka, bukan untuk mempertahankan pendapat, tetapi untuk menangkap “apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja”. Karena itu, percakapan dalam Roh menjadi ruang di mana sinodalitas sungguh dihayati: mendengarkan, ber-discernment, dan bergerak bersama menuju kehendak Allah.

2. Persekutuan (communio)

Persekutuan adalah latar teologis dari seluruh gagasan sinodalitas. Sinodalitas bukan sekadar cara bekerja, tetapi cara hidup yang “menyatakan dan memberi substansi” pada keberadaan Gereja sebagai persekutuan (communio) yang bersumber dan berpuncak pada Ekaristi (§31). Dalam Ekaristi, Gereja mengalami dirinya sebagai tubuh yang dihimpun oleh Kristus. Karena itu, setiap proses sinodal—betapapun administratif atau strukturalnya—selalu berakar pada misteri persekutuan yang dirayakan dalam liturgi. Sinodalitas tanpa communio akan kehilangan jantungnya.

3. Tanggung jawab bersama yang terdiferensiasi

Frasa ini menjaga keseimbangan antara partisipasi seluruh umat dan pelayanan khas para gembala. Dalam Gereja, semua mengambil bagian, tetapi tidak semua dengan cara yang sama. Ada peran “semua”, ada peran “beberapa”, dan ada peran “satu”; ketiganya diartikulasikan secara simfonik (§130). Dengan demikian, sinodalitas tidak berarti menyamaratakan peran, melainkan menghidupi tanggung jawab bersama yang tetap terdiferensiasi. Partisipasi umat dan otoritas gembala bukan dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua unsur yang saling meneguhkan dalam satu gerak menuju misi.

Perlunya menjaga kejernihan makna

Menariknya, Dokumen Akhir ini sadar-diri terhadap bahasanya sendiri. Ia tidak hanya memakai kosakata sinodal, tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk menjaga kejernihan makna dari istilah tersebut. Dokumen ini meminta peninjauan rumusan kanonik yang ambigu — misalnya istilah “semata-mata konsultatif” (tantum consultivum) — agar tidak menimbulkan kekaburan. Maka, ia mengusulkan revisi Hukum Kanonik dari perspektif sinodal untuk memperjelas relasi antara konsultasi dan deliberasi (§92). Ia bahkan menyerukan pembentukan kelompok studi serta pengembangan sumber daya kateketis tentang sinodalitas dari perspektif mistagogis (§27), dan mengundang lembaga-lembaga teologi untuk terus memperdalam makna istilah ini (§67). Presisi itu perlu, bukan karena kita ingin tampak akademis atau rumit, tetapi karena tanpa presisi, makna sinodalitas bisa kabur dan akhirnya salah dipahami. Ini adalah syarat agar reformasi yang dimaksud benar-benar terjadi.

Penutup

Bila makna kata “sinodal” direduksi menjadi sekadar “ramah”, “partisipatif”, atau “rapat yang menyenangkan”, yang hilang bukan sekadar ketepatan istilah. Yang hilang adalah pesan pokok yang ingin disampaikan Dokumen Akhir ini, yaitu bahwa Gereja, sebagai Umat Allah, dipanggil berjalan bersama Kristus menuju Kerajaan-Nya, dengan mendengarkan Roh, menjalankan discernment, dan memutuskan dalam tanggung jawab bersama. Semuanya itu dilakukan demi melaksanakan misi murid-murid Kristus. Memakai kosakata sinodal dengan setia berarti memegang ketiga artinya secara terbedakan, mengikatnya pada dasar rohani dan pada misi, serta menempatkannya dalam relasi yang utuh dengan persekutuan dan pelayanan para gembala. Dengan demikian, kosakata sinodalitas yang kini dipakai di mana-mana itu tidak kehilangan kedalamannya, melainkan justru membawa kita kembali ke sumbernya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.